Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Ketika Bupati Pasuruan Kagumi Bakat Robotika Trio Pelajar MAN 1 Pasuruan, Jadi Runner Up Kompetisi Internasional

Muhamad Busthomi • Jumat, 8 Agustus 2025 | 04:40 WIB

BANGGA: Bupati Pasuruan Rusdi Sutejo mengundang Muhammad Ravy Habibi, Fachri Insan Hidayatulloh, dan Kevin Andrea Deni Saputra setelah mereka meraih 1st Runner Up di ajang IIUM Robotic Competition.
BANGGA: Bupati Pasuruan Rusdi Sutejo mengundang Muhammad Ravy Habibi, Fachri Insan Hidayatulloh, dan Kevin Andrea Deni Saputra setelah mereka meraih 1st Runner Up di ajang IIUM Robotic Competition.
 

Mereka adalah pelajar madrasah, tapi semangat dan ketekunannya mampu mengantar robot rakitan mereka melaju ke pentas internasional. Trio pelajar ini nyaris menyabet juara dunia—selisihnya hanya 0,02 detik. Inilah kisah mereka sampai bisa mengguncang Malaysia?

MUHAMAD BUSTHOMI, Bangil, Radar Bromo

Malam-malam panjang di laboratorium Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Pasuruan tampak sepi dari tawa. Namun, padat dengan suara klik tetikus, denging solder, dan aroma logam yang samar.

Di ruangan sederhana yang biasa digunakan sebagai tempat praktik itu, tiga pelajar lelaki menghabiskan hari-hari mereka dengan satu tekad. Membuat robot tercepat dan membawanya ke pentas dunia.

Cahaya lampu menggantung di langit-langit, sementara di meja kayu panjang, kabel-kabel berserakan, solder mengeluarkan asap tipis. Dan robot kecil beroda sedang diuji untuk kesekian kalinya.

Mereka adalah Muhammad Ravy Habibi dan Fachri Insan Hidayatulloh dari kelas XII E, serta Kevin Andrea Deni Saputra dari kelas XI E. Tiga siswa yang baru saja membawa harum nama Indonesia dengan menempati posisi 1st Runner Up (Juara 2) dalam ajang IIUM Robotic Competition (IRC) Malaysia 2025. Kegiatan ini digelar 26–27 Juli di International Islamic University Malaysia (IIUM) Gombak, Malaysia.

Di balik capaian itu, ada cerita tentang semangat yang tak biasa. Tentang bagaimana tiga remaja itu rela menukar waktu istirahat mereka demi menyempurnakan sebuah robot. Tentang malam-malam yang mereka habiskan bukan untuk scrolling TikTok, tapi menulis kode program dan membongkar rangkaian sirkuit demi satu tujuan.

Semua itu dilakukan demi membuktikan bahwa siswa madrasah juga bisa juara dunia. Yang membuat kemenangan ini begitu istimewa, mereka hanya kalah tipis. Sangat tipis.
”Cuma 0,02 detik,” ucap Fachri pelan, seperti masih tak percaya.

Dalam kategori Time Rush, para peserta harus membuat robot mereka menaklukkan serangkaian rintangan dalam waktu tercepat. Tak hanya kecepatan, tapi juga ketepatan jadi faktor utama. Dan robot buatan tiga siswa MAN 1 Pasuruan ini hampir menyalip tuan rumah di detik-detik terakhir.

Tak ada yang instan. Persiapan mereka jauh dari kata santai. Sebulan sebelum keberangkatan, intensitas latihan semakin ketat. Dua minggu menjelang lomba, mereka hampir pulang larut malam tiap hari.

Mula-mula, Kepala MAN 1 Pasuruan Nasruddin merasa tak tega dengan anak-anak didiknya. Mereka rela berlama-lama di sekolah. Sampai-sampai kurang bisa menghabiskan waktu bersama keluarga.

”Kadang kami yang menyuruh pulang, malah mereka memilih nginap,” kenang Nasruddin.

Ia pun enggan melarang lebih jauh. Nasruddin tak bisa menyembunyikan rasa bangganya. Lebih-lebih, apa yang dilakukan ketiga siswanya itu membuat Nasruddin paham, bahwa robotika sudah menjadi bagian dari dunia mereka.

Robot itu sendiri mereka bangun dari nol. Rancang desain rangka, instalasi motor penggerak, sensor, pemrograman algoritma lintasan—semuanya dilakukan sendiri. Dibimbing oleh guru-guru pembina yang sabar dan telaten.

Tapi tetap saja, sebagian besar keputusan teknis harus mereka ambil sendiri. Kegagalan adalah menu harian mereka. Tapi mereka terus bangkit. ”Trial error itu pasti. Tapi dari sanalah keterampilan anak-anak diasah,” bebernya.

Madrasah yang dulu lebih dikenal sebagai tempat belajar ilmu agama itu, kini membuktikan bahwa teknologi dan sains bisa tumbuh di lingkungan yang sama. Apalagi, dunia robotika bukanlah hal baru di MAN 1 Pasuruan.

Sekolah ini memang sudah dikenal sebagai salah satu madrasah unggulan di bidang sains terapan, termasuk robotic engineering. ”Banyak orang pikir anak madrasah hanya belajar ilmu keagamaan. Tapi lihatlah mereka. Koding bisa, solder bisa, merakit robot. Itu hebatnya,” tambah Nasruddin.

Ia yakin, skill itu akan menjadi modal penting bagi masa depan anak didiknya. Untuk mengejar perguruan tinggi impian lewat jalur prestasi misalnya. Atau juga untuk memenuhi kebutuhan sektor industri yang sekarang serba mengandalkan teknologi.

”Ini bukti bahwa pendidikan di madrasah juga bisa unggul di bidang sains dan teknologi,” beber Nasruddin.

Prestasi itu tak hanya membanggakan sekolah dan keluarga. Apa yang mereka dapat dari negeri jiran, ternyata tak berlalu begitu saja. Tak lama setelah kembali ke tanah air, ketiganya mendapat undangan khusus dari Bupati Pasuruan Rusdi Sutejo, Selasa (29/7).

Orang nomor satu di Pemkab Pasuruan itu ingin mendengar langsung bagaimana perjalanan Ravy, Fachri, dan Kevin merakit robot. Hingga tantangan serta pengalaman mereka selama mengikuti kompetisi.

”Prestasi gemilang ini tentu membanggakan madrasah, orang tua, dan Indonesia karena levelnya sudah internasional,” ujar Bupati Rusdi.

Bupati pun berterima kasih atas kerja keras anak-anak madrasah itu, sekaligus membawa nama Pasuruan di ajang dunia. Mas Rusdi–sapaan Bupati–berharap keberhasilan ini bisa menginspirasi pelajar lain di Kabupaten Pasuruan untuk tak berhenti bermimpi.

”Semoga menjadi inspirasi bagi siswa lainnya untuk terus berinovasi dan berprestasi, baik di tingkat nasional maupun internasional,” tegasnya.

Ucapan itu tentu menjadi energi baru bagi seluruh civitas MAN 1 Pasuruan. Nasruddin menekankan, di madrasah ini prestasi bukan hanya soal medali. Namun, juga tentang perjuangan membangun karakter, integritas, dan disiplin.

”Tentu kami juga sangat berterima kasih kepada Pak Bupati karena begitu perhatian dengan anak-anak kami,” katanya.

Nasruddin mengakui, tantangan terbesar bukan sekadar dalam lomba. Tapi dalam membentuk budaya belajar yang berorientasi riset dan inovasi.

”Anak-anak memang kami arahkan tidak hanya unggul dalam bidang akademik. Tapi juga membangun mental kompetisi. Itu yang paling berat. Dan Alhamdulillah, ini berhasil,” katanya. (hn)

Editor : Muhammad Fahmi
#bupati pasuruan #man 1 pasuruan #robotik