DINAS Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Probolinggo di bawah kepemimpinan Dr. Siti Romlah, S.Si., M.Pd. terus melesat. Dari sebuah tekad tak pernah berhenti untuk belajar, Disdikbud berhasil mencetuskan banyak karya inovasi. Bahkan, bisa dibilang inovasi yang lahir di bawah naungan Disdikbud Kota Probolinggo terbanyak di Indonesia.
Kekayaan literasi di Kota Probolinggo, salah satunya dimulai melalui inovasi Satu Guru Satu Buku Cerita (Tugu Burita). Pada saat yang hampir bersamaan, diperkuat lagi dengan inovasi Satu Guru Satu Buku (Sagu Sabu). Kedua inovasi ini adalah gerakan yang digagas Disdikbud untuk mendorong setiap guru mampu menghasilkan karya tulis dalam bentuk buku maupun buku cerita.
Ratusan karya dari Tugu Burita maupun Sagu Sabu ini, Disdikbud berhasil membuahkan banyak buku karya sejumlah guru di Kota Probolinggo. Hal itu pula yang mengantarkan Disdikbud mendapatkan penghargaan dari Provinsi Jawa Timur sebagai Juara I Penerbit Paling Aktif Kategori OPD di Jawa Timur.
Banyaknya berbagai kasus terkait ijazah seperti adanya ijazah palsu, penahanan ijazah, akses pendidikan yang terhambat karena ijazah, membuat Disdikbud menggagas sebuah inovasi, 2021 lalu.
Inovasi ini diberi nama Sistim Informasi Ijazah Online (SI IJOL). Inovasi ini kemudian dikembangkan menjadi Sistim Informasi Ijazah Online Ramah Kesetaraan dan Disabilitas (SI IJOL RAKET). Langkah ini mengantarkan Dr. Siti Romlah mendapat penghargaan Top Inovasi Terpuji Propinsi Jawa Timur.
Inovasi selanjutnya, Disdikbud meluncurkan aplikasi bernama GASPRO Cetar Perkasa (Satuan Tugas Probolinggo Cegah dan Tangani Perundungan dan kekeraan pada Satuan Pendidikan).
Dalam perkembangannya, inovasi ini dikembangkan lagi, sehingga ter-connect dengan Unit Layanan Disabilitas (ULD) Bidang Pendidikan. Gebrakan ini dilakukan sebagai wujud pelayanan pendidikan berkualitas dan merata bagi anak-anak disabilitas.
Baru-baru ini, Disdikbud juga meluncurkan Rumah Inovasi. Total ada 2.953 inovasi guru yang diciptakan untuk mendukung pembelajaran. Ribuan inovasi ini lahir hanya dalam satu bulan sejak di-launching-nya Rumah Inovasi.
Agar inovasi yang dihasilkan berkualitas, Dr. Siti Romlah mengatakan, para guru diberi bekal dan mendapat pendampingan khusus dari Universitas Negeri Malang. Ia mengaku bersyukur para guru di Kota Probolinggo yang telah melahirkan inovasi pembelajaran mendapat support dari rektor, profesor, guru besar hingga inovasi terdaftar sebagai HAKI.
Selain mendorong para guru memperkaya literasi, Disdikbud sering menggelar forum-forum ilmiah untuk memperkaya kompetensi. Bila event sekelas seminar nasional sudah digelar, peserta dari berbagai daerah di seluruh penjuru Indonesia pun ikut serta. Namun, bila forum ilmiah digelar secara lokal, Disdikbud biasa menggandeng Institut Ahmad Dahlan (IAD) hingga UNHASA Genggong.
“Untuk memotivasi para guru, saya selalu mengingatkan agar jangan selalu menunggu. Mulailah dari inisiatif diri. Saat kita berani mengambil tindakan memulai lebih awal, melihat peluang dengan mencari solusi, inilah kunci sukses dalam mencapai hasil yang seperti kita inginkan,” ungkap Dr. Siti Romlah.
Bangkitkan Destinasi dengan Membentuk Karakter Tangguh dan Adaptif
Tidak hanya memikirkan pendidikan, Disdikbud Kota Probolinggo juga memiliki segudang gagasan brilian dalam menghidupkan kembali destinasi di Kota Probolinggo. Khususnya destinasi Museum Probolinggo.
Dengan mengerahkan satuan pendidikan di bawah naungannya, berkolaborasi dengan stakeholder dan seluruh masyarakat, beberapa kegiatan Disdikbud mencerminkan betapa kayanya kebudayaan khas Kota Probolinggo yang wajib dilestarikan. Di sisi lain, kegiatan ini justru bisa memunculkan destinasi baru di Kota Probolinggo.
Sebut saja Probolinggo Night Culture Festival. Festival tahunan di Kota Probolinggo yang dikonsep ala karnaval pada malam hari, menampilkan berbagai kesenian dan kebudayan lokal sebagai ajang apresiasi bagi para seniman dan kesenian asli Kota Probolinggo.
Ada pula Youth Culture Festival, festival seni pelajar berlangsung di Gedung Kesenian, selama satu pekan. Diisi dengan berbagai tampilan dan lomba. Hari pertama, ada lomba menari Jaran Bodhag dilanjutkan lomba menyanyi solo. Ada pula tari Probolinggo-an, lomba pantomin, lomba mendongeng, lomba poster, musik tradisi, hingga Festival Lomba Seni dan Satra Siswa Nasional (FLS3N) yang dibalut manis dengan pameran pendidikan di dalamnya.
Event yang digagas Disdikbud selanjutnya ada Harmony Museum. Sebuah tampilan seni setiap Sabtu Malam berlangsung di Museum Probolinggo ini menampilkan berbagai macam hiburan persembahan para kelompok seni, pegiat, dan pelaku seni. Beragam program event Disdikbud ini terus di-update dan terus berlanjut meski mengambil venue yang berbeda.
Dr. Siti Romlah mengaku, sejatinya langkahnya dalam mengawal eksistensi Museum Probolinggo telah dimulai sejak Desember lalu. Pihaknya memiliki program bernama Museum di Hatiku. Rentetan kegiatannya dimulai dengan pemilihan Duta Museum. Selanjutnya tanggung jawab mengemban amanah sebagai Duta Museum diimplementasikan melalui edusasi dengan menyasar sekolah-sekolah.
“Tujuannya, tentu untuk mempromosikan museum agar menarik untuk dikunjungi. Alhamdulillah semua gagasan program yang telah berlangsung, mendapat sambutan yang luar biasa,” ungkapnya.
Mulai tahun ini, katanya, kegiatan Museum di Hatiku dikuatkan lagi dengan kegiatan baru. Dalam rangka meramaikan Museum Probolinggo, digagaslah lomba-lomba edukasi terkait museum untuk tingkat SD dan SMP sederajat. “Salah satunya lomba literasi membuat deskripsi tentang museum hingga mendongeng tentang museum. Sedangkan, untuk tingkat PAUD/TK ada lomba mewarnai dan lomba menggambar museum,” katanya.
Kompetisi-kompetisi ini sebenarnya digagas Disdikbud dalam membentuk generasi bangsa yang berkualitas. Perkembangan intelektual dan logika di otak kiri, seni dan olahraga di otak kanan. Kedua otak ini harus terintegrasi dengan baik untuk membentuk calon pemimpin bangsa yang tangguh dan adaptif.
Mengabdi tanpa Kata Batasan dan Kata Mundur
Peran Disdikbud memang tidak bisa disamakan dengan perangkat daerah (PD) lain. Bila kinerja PD lainnya adalah menjalankan tugas pokok dan fungsi (tupoksi), Disdikbud bertanggung jawab membentuk generasi penerus bangsa.
Karena itu, Dr. Siti Romlah menyebut harus mulai dari diri sendiri untuk menjadi insan yang berkarakter, patut menjadi teladan, dan pengabdian.
“Istilahnya, kami di sini tidak pantas bekerja untuk Dinas Pendidikan. Namun, yang benar adalah kami mengabdi untuk Dinas Pendidikan. Ketika mengabdi, tidak ada kata batasan dan kata mundur. Sebab, mundur selangkah adalah pengkhianatan,” ujarnya.
Komitmen Disdikbud dalam mengelola di sektor pendidikan di Kota Probolingggo, semakin concern pada penguatan integritas. Bahkan, dalam berbagai kesempatan, Dr. Siti Romlah memotivasi para guru agar segera mengembalikan marwah pendidikan yang sebenarnya.
“Kami di sini mendidik anak-anak menjadi pembelajar sepanjang hayat. Maka, kami tidak boleh berhenti sedetikpun dari belajar. Kami di sini, kami juga yang mencetak anak-anak yang berintegritas dan berkarakter. Maka kamilah yang harus memulai diri menjadi teladan,” ujarnya.
Dr. Siti Romlah menegaskan, segala yang dilakukan Disdikbud, sudah pasti berkelanjutan. Namun, menurutnya, membangun pendidikan tidak sederhana. Ada keluarga besar di dalamnya. Yakni, 2.700 guru se-Kota Probolinggo dengan jumlah murid hampir 50.000 orang. Semuanya harus terakomodasi dengan baik.
“Artinya, mengelola agar SDM (Sumber Daya Manusia) kami ini benar-benar maksimal, jadi anak Kota Probolinggo, semua pelaku di dalam sektor pendidikan ini harus benar-benar sehat. Kalau sudah sehat, harus punya pengendalian diri yang kuat. Kalau sudah kuat, pasti tangguh,” ujar aktor intelektual di balik semua program Disdikbud ini. (el/rud/*)
Editor : Muhammad Fahmi