WALI Kota Probolinggo dr. H. Aminuddin dan wawali Ina Dwi Lestari terus menunjukkan komitmennya dalam mewujudkan kota yang lebih baik, bersih, indah, dan sejahtera melalui program Probolinggo Bersolek. Program ini menjadi tonggak awal dalam 100 hari kerja pertamanya sebagai kepala daerah, dengan fokus pada peningkatan kualitas hidup masyarakat melalui pembenahan tata kota, penguatan ekonomi, pelestarian budaya, dan peningkatan pelayanan publik.
“Kami ingin Kota Probolinggo Bersolek. Tidak hanya dari sisi fisik, tetapi juga sosial dan ekonomi. Kami ingin menciptakan lingkungan yang lebih bersih, indah, dan nyaman,” tegas Aminuddin.
Di sektor infrastruktur, Pemkot Probolinggo akan memulai revitalisasi taman kota dan alun-alun dengan anggaran Rp 10 miliar. Untuk menjaga keteraturan tata kota, para pedagang kaki lima (PKL) yang sebelumnya berada di alun-alun dipindahkan ke area GOR Ahmad Yani, sehingga kawasan alun-alun bisa lebih tertata dan indah.
Penataan tugu batas kota juga dilakukan sebagai bagian dari wajah baru kota. Lampu-lampu kota juga dicat ulang dengan warna yang estetik memanjakan mata masyarakat dalam kota maupun luar kota yang melintas.
Berbagai titik ruang publik juga mulai disiapkan sebagai pusat kegiatan masyarakat, seperti area sekitar Klenteng yang dirancang menyerupai kawasan Kia-Kia di Surabaya dan Stadion Bayuangga yang akan rutin menampilkan pertunjukan musik mingguan. Ditambah suguhan angkringan di sepanjang Jalan Kaca Piring, menambah kesan syahdu di ruas Kota Probolinggo.
Selama 100 hari pertama, lebih dari 260 kegiatan seni dan budaya telah digelar. Termasuk program seperti Harmoni Museum, Larasati, hingga menghidupkan kembali event Semipro. Ini menunjukkan semangat Pentahelix. Kolaborasi pemerintah, masyarakat, swasta, media, dan akademisi yang menjadi dasar dari Probolinggo Bersolek.
“Masyarakat antusias sekali. Kami libatkan mereka dalam lomba kebersihan RW, taman tematik, hingga pertunjukan musik antarpelajar. Hasilnya animo masyarakat sangat tinggi,” ujar Aminuddin.
Untuk mendukung kebersihan kota, pemkot membagikan kendaraan motor roda tiga ke 29 RW. Pembagian kendaraan ini akan dilakukan secara bertahap ke depannya, pada total 200 RW se-Kota Probolinggo. Guna merangsang semangat masyarakat untuk mengurangi sampah, pemkot juga menggagas program bank sampah. Di mana sampah akan dikonversi dalam gramasi emas.
“Bahkan, ada lho warga yang telah berhasil mengumpulkan 25 gram emas dari menabung sampah ini,” ungkap Aminuddin.
Pemkot juga berencana mengurangi sampah yang masuk ke TPA Bestari. Dari rata-rata 121 ton per hari menjadi 70 ton saja dengan optimalisasi kegiatan 3R (Reduce, Reuse, Recycle) serta kerja sama dengan pihak ketiga. “Nantinya sampah akan diubah menjadi energi terbarukan berupa arang briket melalui teknologi RDF (Refuse Derived Fuel),” tambahnya.
Pemkot Probolinggo juga turut menggencarkan pengentasan kemiskinan melalui pemberdayaan UMKM dan ekonomi kreatif. Mulai dari pengurusan Nomor Induk Berusaha (NIB) secara drive thru di Mal Pelayanan Publik (MPP), pembukaan klinik UMKM bernama Warung Kopi Digital, hingga rencana pemberian modal usaha sebesar Rp1 juta per UMKM.
Selain itu, program Koperasi Merah Putih akan hadir di seluruh kelurahan. Melalui koperasi ini, pemkot mendorong distribusi dana bergulir untuk mendukung pertanian dan usaha masyarakat. “Kami ingin adanya koperasi ini dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya.
Sementara pengentasan pengangguran dilakukan melalui kerja sama dengan PT Agrinas Palma Nusantara. Sebanyak 100 tenaga kerja telah dikirim. “Sedangkan kebutuhannya mencapai 4.500 pekerja. Oleh sebab itu, kami ingin menjadikan Kota Probolinggo sebagai lumbung tenaga kerja,” tuturnya.
Di bidang kesehatan, IGD RSUD dr. Moh. Saleh telah menerapkan sistem one step service. Pemkot juga menjalin kerja sama dengan Universitas Veteran untuk memberikan kuota 10 mahasiswa asal Kota Probolinggo agar dapat dididik menjadi dokter setiap tahunnya.
Ada pula program Kartu Amanah untuk masyarakat miskin yang tidak terdata dalam DT-SEN, serta Klinik Lansia yang beroperasi setiap akhir pekan di Museum dr. Moh. Saleh.
Prestasi membanggakan diraih Kota Probolinggo saat mencatat rekor MURI. Yakni, sebagai satu-satunya kota siaga kelompok donor darah di Indonesia. Ada 432 kelompok pendonor aktif yang telah menandatangani perjanjian dengan pihak Pemkot Probolinggo.
Mereka terbagi menjadi 177 kelompok donor darah unsur kesehatan dan perangkat daerah; 137 kelompok unsur pendidikan; 118 kelompok unsur ormas dan perusahaan. Penghargaan MURI ini pun diserahkan secara langsung oleh Ketua MURI Semarang Ari Andriani kepada Wali Kota dan PMI.
Ajak Masyarakat Dukung dan Berpartisipasi
Program Probolinggo Bebas Banjir juga telah dilakukan di era Wali Kota dr Aminuddin. Program ini sudah mulai menunjukkan hasil. Dari hanya dua paket perbaikan irigasi, kini meningkat menjadi 58 paket. Sehingga genangan air di 50 titik berhasil diatasi.
Ke depan, Pemkot menargetkan perbaikan tiga gorong-gorong utama di timur, tengah, dan barat Kota Probolinggo dengan anggaran Rp 6,5 miliar. “Bisa dilihat sekarang sudah tidak ada genangan meskipun hujan lebat,” katanya.
Kota Probolinggo juga sudah memasang early warning system (EWS) di lima titik dam sungai. EWS ini berfungsi sebagai deteksi dini untuk mengetahui terjadinya bencana, terutama jika air sungai meluap. Lima EWS ini perlu ditambah agar deteksi bencana dapat diketahui lebih cepat lagi.
Probolinggo juga menjadi pilot project untuk Sekolah Rakyat (SR), berbentuk boarding school yang mampu menampung hingga 1.000 siswa dari keluarga tidak mampu. Keluarga siswa pun juga akan diberdayakan melalui berbagai pelatihan. Pemkot turut menjalin kerja sama dengan Universitas Ahmad Dahlan dan Universitas Panca Marga untuk mendukung program satu keluarga satu sarjana.
Sebagai bagian dari pengembangan pariwisata, pemkot telah memetakan 71 dari target 100 destinasi wisata baru. Masing-masing kelurahan nantinya akan memiliki satu destinasi unggulan, baik berbasis budaya, alam, kuliner, maupun olahraga.
Aminuddin menambahkan, literasi budaya juga akan dikembangkan dari kisah-kisah lokal seperti legenda sumber mata air dan lainnya untuk memperkuat identitas kultural Kota Probolinggo.
“Bidang kebudayaan akan di-support anggaran pembinaan dari yang semula Rp 180 juta menjadi Rp 2 miliar dari Kementerian Kebudayaan langsung. Karena memang budaya itu bukan hanya penting untuk dipelihara, tapi juga sudah menjadi bagian dari kita semua,” ujar Aminuddin.
Di akhir, Aminuddin menegaskan bahwa seluruh program dalam Probolinggo Bersolek tidak dapat berjalan tanpa partisipasi masyarakat.
“Kami ingin menunjukkan kerja nyata pemerintah, sekaligus membuka ruang partisipasi publik seluas-luasnya. Inilah semangat kolaborasi yang akan membawa Kota Probolinggo menuju masa depan yang lebih baik, indah, dan sejahtera,” tutupnya. (gus/fun/*)
Editor : Muhammad Fahmi