SORAK anak-anak memecah keheningan siang di sebuah aula sekolah dasar di Kecamatan Rejoso, Kabupaten Pasuruan. Di depan, seorang siswa dengan wajah tegang berdiri sambil memegang mikrofon. “Jawaban saya, lima belas,” katanya ragu.
Tepuk tangan meledak. Itulah momen-momen seru di CJ Olimpiade, sebuah kompetisi akademik yang diinisiasi PT Cheil Jedang Indonesia (CJI) bagi siswa sekolah dasar di sekitar pabriknya. Tak sekadar lomba, ajang ini menjadi pintu awal menuju investasi sosial jangka panjang: membangun sumber daya manusia dari akar rumput.
“Setiap kali ada rekrutmen karyawan, hasil tes masyarakat sekitar masih banyak yang di bawah standar. Dari situ kami mulai berpikir, jangan-jangan memang sejak awal akses pendidikannya yang terbatas,” ujar Manager Public Relations PT CJI Pasuruan Slamet Wahyudi.
Karena itu, dimulailah perjalanan panjang itu. Dari menggelar olimpiade akademik, membentuk sekolah bola, hingga mendirikan Rumah Pintar. Semuanya demi menciptakan generasi emas Rejoso.
Mulai Juli 2025, PT CJI bekerja sama dengan Pondok Pesantren Al Istiqomah Desa Toyaning akan meluncurkan Rumah Pintar CJI. Rumah belajar ini mengajarkan keterampilan informasi teknologi (IT) dasar dan bahasa Inggris secara gratis bagi anak-anak SD hingga SMA.
Materi yang diajarkan tak muluk-muluk. Dimulai dari mengenal komputer, belajar mengetik, hingga praktik Microsoft Office. “Kami sempat kaget, banyak anak SMP yang belum pernah pegang laptop,” ujar Slamet.
Semua perangkatnya berasal dari perusahaan, seperti laptop dan Personal Computer (PC). Bahkan, beberapa adalah komputer eks kantor yang di-upgrade dan kini disulap menjadi alat belajar.
Agar belajar tetap optimal, kuotanya dibatasi. Hanya 30 anak untuk jenjang SD dan 30 untuk SMP-SMA. “Biar fokus dan kualitas terjaga,” katanya.
Fasilitasi Sekolah Bola, Silat, hingga Madrasah
Dalam mendukung dunia pendidikan, PT CJI tak hanya fokus terhadap akademik. Lewat CJI Football Club (CJFC), anak-anak desa sekitar perusahaan dibina secara rutin sejak 1995. Kini, 80-90 persen anak aktif berlatih sepak bola. Bahkan, sejumlah alumninya menembus klub profesional seperti Persekapas.
Tak cukup di lapangan hijau, mereka juga digembleng secara rohani. Lewat Taman Pendidikan Alquran (TPQ) dan Madrasah Diniyah (Madin) yang rutin digelar setiap sore di Masjid Baiturrahman, Desa Arjosari. Di sana, lebih dari 100 anak belajar mengaji, hafalan surat, dan nilai-nilai akhlak.
Untuk bela diri, ada Perisai Diri CJ yang dilatih oleh pelatih bersertifikat. Jumlah pesertanya mencengangkan. Lebih dari 200 anak dari berbagai desa di Kecamatan Rejoso. Prestasinya juga menembus level nasional, bahkan internasional.
“Semuanya gratis. Pelatih, seragam, bola, bahkan air minum, kami yang tanggung. CSR ini bukan formalitas, tapi investasi jangka panjang,” ujar Manager Public Relations PT CJI Pasuruan Slamet Wahyudi.
Dalam lima tahun terakhir, PT CJI telah menanam banyak benih: pendidikan karakter, literasi digital, olahraga, dan spiritualitas. Mungkin belum terasa hari ini. Namun, Slamet optimistis buahnya akan ranum di masa depan. “Ini bukan pekerjaan semalam. Tapi, lima, sepuluh, dua puluh tahun lagi, anak-anak Rejoso akan berdiri tegak. Mampu bersaing dan tidak hanya jadi penonton di tanahnya sendiri,” katanya.
Di tengah industri yang kerap dicurigai membawa dampak lingkungan dan sosial, PT CJI mencoba membalik narasi itu. Dari pabrik, ilmu mengalir ke desa. Dan dari desa diharapkan tumbuh menjadi generasi masa depan. (eka/rud/*)
Editor : Muhammad Fahmi