“MEMANDANG pendidikan politik sebagai alat pembebasan, bukan sesuatu yang netral, dan menekankan pentingnya kesadaran politik dalam proses pembelajaran”. Kutipan dari Paulo Freire, seorang tokoh pendidikan itu, menginspirasi Radfan Faisal untuk terus mengedukasi masyarakat tentang pentingnya kesadaran politik. Hal itu yang terus ia gelorakan selama menjadi komisioner KPU Kota Probolinggo.
Pemilu Serentak Tahun 2019 dan 2024 serta Pilkada Serentak Tahun 2024, menjadi pengalaman empiris yang tidak ternilai bagi seorang Radfan Faisal. Komisioner KPU Kota Probolinggo dua periode itu, terlibat langsung sebagai penyelenggara pada gelaran pesta demokrasi yang dilaksanakan secara serentak.
Pengalaman yang luar biasa. Contohnya di tahun 2019, di mana pemilu serentak pertama kali dilaksanakan. Yakni, menggabungkan pilpres dan pileg yang sebelumnya dilaksanakan di waktu berbeda,” katanya. Saat itu, Radfan–sapaan akrabnya–terlibat sebagai pengawas TPS sebelum kemudian lolos menjadi anggota KPU Kota Probolinggo.
Kemudian berlanjut pada Pemilu Serentak Tahun 2024, yang merupakan kali kedua keserentakan pemilu dilaksanakan. Serta, Pilkada Serentak Tahun 2024, yang merupakan pertama kalinya digelar serentak se-Indonesia. Jika saat pemilu, Radfan menjabat sebagai anggota. Saat pilkada, ia didapuk menjadi ketua.
Radfan mengatakan, salah satu tahapan penting dalam penyelenggaraan pemilu maupun pilkada yakni sosialisasi. “Sosialisasi bukan sebatas to inform, tapi juga to raise political awareness, dan to educate. Ketiganya harus berjalan beriringan sebagai cover sosialisasi. Kami berupaya agar publik tidak sebatas menjadi objek, tapi harus menjadi subjek dalam setiap proses demokrasi,” jelasnya.
Pria yang pernah menjadi Pemred Jawa Pos Radar Bromo 2017-2019 itu menjelaskan, jika hanya memberikan informasi, maka substansi yang tersampaikan hanya sebatas mengetahui cara memilih dan paham kapan serta bagaimana cara menyalurkan suara mereka. Sementara, membangun kesadaran berpolitik tentu substansinya mendorong kesadaran berpartisipasi, menekan angka golput, hingga mampu membalikkan logika awam bahwa pemilu itu kotor.
Termasuk melakukan pendidikan yang sifatnya long term perspective. Publik menjadi motor dalam mengontrol jalannya pemerintahan. Tidak hanya terlibat saat pemungutan suara. Begitu pemimpin atau perwakilan mereka dilantik, publik harus berani melakukan fungsi kontrol tersebut,” terang komisioner yang juga mahasiswa magister Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Jakarta itu.
Tentu, hal itu menurut bapak tiga anak ini, tidak mudah. Karena tantangannya cukup berat. Pertama, biaya politik yang mahal, di antaranya juga disebabkan perilaku kontestan dan pemilih. Kedua, pandangan miopik dan pragmatisme politik. Serta ketiga, lemahnya voluntarisme masyarakat.
Itu sebabnya, begitu dilantik menjadi anggota KPU pada tahun 2019, ia langsung tancap gas. “Dalam rapat pleno setelah dilantik, saya memang mengajukan diri dalam forum tersebut untuk mengampu Divisi Sosdiklih, Parmas, dan SDM. Ada banyak rancangan program di kepala saya yang harus saya realisasikan. Tentu, hal ini juga atas dukungan rekan-rekan komisioner yang lain serta kawan-kawan di kesekretariatan,” tegasnya.
Beberapa program yang lahir dari idenya di antaranya, Sosialisasi Pemilu dan Koordinasi Intensif (Spirit) pada empat sasaran utama yakni Forkopimda, Parpol, Ormas, dan Komunitas; Kursus Virtual Kepemiluan; KPU-Bawaslu Talk; Rumah Pintar Pemilu (RPP) Prabu Linggih Based on Android; serta Youth Voter Fest 2024.
Dari program itulah, KPU Kota Probolinggo diganjar sejumlah prestasi. Seperti Terbaik Kedua KPU se-Jawa Timur Kategori Kreasi Sosialisasi dan Partisipasi Tahun 2019; Terbaik Komisi Informasi Jatim Kategori Pengelolaan dan Pendokumentasian Informasi Tahun 2020; Terbaik Ketiga KPU se-Jawa Timur Kategori Pengelolaan Media Sosial Tahun 2022; Terbaik Kedua KPU se-Jawa Timur Kategori Sosialisasi Pendidikan Pemilih Tahun 2023; Terbaik Kedua KPU se-Jawa Timur Kategori Dukungan Fasilitasi Kesehatan dan Jaminan Kecelakaan Kerja Badan Ad Hoc Tahun 2023.
Kata Radfan, sosialisasi merupakan proses panjang yang tidak berbatas waktu. “Sifatnya terus menerus atau tanpa jeda. Baik itu pre election, election period, maupun post election. Selain berkesinambungan, sosialisasi juga perlu memperhatikan segmentasi, kontekstual, partisipatif, dan juga berorientasi pada pemilih,” katanya.
Ia menyadari, KPU sebagai lembaga penyelenggara pemilu maupun pilkada, tidak bisa bekerja sendirian. Perlu keterlibatan semua pihak agar proses demokrasi berjalan sesuai asas dan prinsip penyelenggaraannya. Mulai pemerintah, partai politik, organisasi kemasyarakatan, LSM, hingga masyarakat secara luas.
Karena itu, ia mendorong berbagai pihak untuk melibatkan KPU dalam pendidikan pemilih dan itu tanpa biaya sepeserpun. Baik lembaga pendidikan, organisasi, komunitas, dan lainnya yang ingin meningkatkan pemahaman terkait politik, demokrasi, maupun pemilu. “Gratis. Termasuk jika ingin memanfaatkan ruang publik di KPU,” tutupnya.
Dari Aktivis, Jurnalis, hingga Penyelenggara Pemilu
Perjalanan Radfan Faisal menjadi Ketua KPU Kota Probolinggo dilalui melalui proses yang panjang. Bermula sejak ia aktif di sejumlah organisasi sejak duduk di bangku SMA, ketika ia melibatkan diri sebagai tenaga pendukung di Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat (JPPR) pada Pemilu 2004. Sebuah lembaga nirlaba yang dibentuk untuk melakukan pemantauan dan pendidikan pemilih.
Saat itu, Radfan–sapaan akrabnya–yang berusia 17 tahun, bertugas menyiapkan dokumen pemantauan dan logistik untuk relawan yang ada di Kota dan Kabupaten Probolinggo. Pada saat bersamaan, ia tercatat sebagai pengurus Pimpinan Daerah (PD) Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM) Kota Probolinggo.
Dunia aktivis pula yang membuatnya tertarik pada aktivitas di dunia politik. Saat menempuh kuliah di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), aktivis Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) ini menjadi relawan quick real count (QRC) Pilwali Kota Malang Tahun 2008.
Selama di kampus, Radfan pernah menjabat sebagai Ketua Komisi A Senat Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) 2008-2009; Wakil Ketua I Senat Mahasiswa UMM 2009-2010; dan Presidium III Forum Lembaga Legislatif Mahasiswa Indonesia (FL2MI) 2009-2010.
Selain itu, Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia ini juga pernah bergabung sebagai wartawan di pers kampus. Hal itu pula yang membuatnya memutuskan berkarir sebagai jurnalis di Jawa Pos Radar Bromo. Mulai menjadi reporter di tahun 2011-2015 di desk politik pemerintahan, redaktur tahun 2015-2017, dan pemimpin redaksi di tahun 2017-2019.
Pada tahun 2019, ia memutuskan mengikuti rekrutmen anggota KPU Kota Probolinggo dan lolos. Berpengalaman sebagai jurnalis dengan latar belakang akademik sebagai pendidik, Radfan memutuskan untuk mengampu Divisi Sosialisasi, Pendidikan Pemilih, Partisipasi Masyarakat, dan Sumber Daya Manusia.
Tuntas menjalani periode pertama hingga tahun 2024, ia lantas kembali mengikuti rekrutmen untuk periode kedua. “Alhamdulillah, setelah melalui proses seleksi yang panjang, kembali lolos untuk periode kedua,” katanya. Melalui rapat pleno seluruh komisioner KPU Kota Probolinggo, ia dipercaya menjadi ketua. (*)
Kiprah Radfan Faisal
Pengalaman Kepemiluan
- Relawan JPPR Pemilu Tahun 2004
- Relawan Quick Real Count (QRC) Pilkada Kota Malang Tahun 2008
- Pengawas TPS Pemilu Tahun 2019
- Komisioner KPU Kota Probolinggo Divisi Sosdiklih, Parmas, dan SDM Periode 2019-2024
- Ketua KPU Kota Probolinggo Periode 2024-2029
Pengalaman Organisasi
- Presidium III Forum Lembaga Legislatif Mahasiswa Indonesia (FL2MI)
- Wakil Ketua Dewan Kesenian Kota Probolinggo (DKKPro)
Gagasan Edukasi Pemilih
- Sosialisasi Pemilu dan Koordinasi Intensif (Spirit) 2019
- KPU Minifest 2020
- Kursus Virtual Kepemiluan 2020
- KPU-Bawaslu Talk 2020
- Digitalisasi Rumah Pintar Pemilu (RPP) Prabu Linggih 2021
- Youth Voter Fest 2024
- Call For Opinion Bulan Bung Karno 2025
Penghargaan Kelembagaan
- Terbaik Kedua KPU Se-Jawa Timur Kategori Kreasi Sosialisasi dan Partisipasi Tahun 2019
- Terbaik Komisi Informasi Jatim Kategori Pengelolaan dan Pendokumentasian Informasi Tahun 2020
- Terbaik Ketiga KPU Se-Jawa Timur Kategori Pengelolaan Media Sosial Tahun 2022
- Terbaik Kedua KPU Se-Jawa Timur Kategori Sosialisasi Pendidikan Pemilih Tahun 2023
- Terbaik Kedua KPU Se-Jawa Timur Kategori Dukungan Fasilitasi Kesehatan dan Jaminan Kecelakaan Kerja Badan Ad Hoc Tahun 2023
Karya Tulis
- Bunga Rampai “Mendidik dari Akar Rumput”, Suara Muhammadiyah, Yogyakarta, 2019.
- Bunga Rampai “Dinamika Demokrasi, Pemilu, dan Otonomi Daerah di Indonesia”, LeutikaPrio Self Publishing, Yogyakarta, 2022.
- Bunga Rampai “Mengawal Logistik Pilkada Jawa Timur”, Komisi Pemilihan Umum Provinsi Jawa Timur, Surabaya, 2025.