LAHIR dari keluarga pesantren, Prof. Dr. Hj. Ilfi Nur Diana, M.SI., CAHRM., CRMP. tak hanya asyik duduk di balik meja. Ia keluar. Ambil bagian dalam memperkuat perekonomian pesantren hingga menyediakan udara bersih bagi santri.
Mengenakan gamis sederhana dan kerudung warna teduh, Prof. Dr. Hj. Ilfi Nur Diana, M.SI., CAHRM., CRMP. tampak akrab menyapa santri-santri putri di halaman Pondok Pesantren Al Yasini. Di balik sosoknya yang bersahaja, perempuan ini menyandang berbagai peran.
Ia merupakan Guru Besar di UIN Malang, dosen manajemen, menjabat sebagai wakil rektor sekaligus sebagai ketua Forum Wakil Rektor Seluruh Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKIN) se-Indonesia. Juga peneliti dan pembicara seminar nasional-internasional, Dewan Ahli Pengurus Pusat (PP) Isnu, hingga pengasuh pesantren yang membidangi lahirnya gerakan ekopesantren di Pasuruan.
Sebagai satu dari sedikit perempuan yang meniti jalur akademik tinggi sekaligus mengabdi total di pesantren, Ning Ilfi memilih jalur ganda. “Saya ini perempuan pesantren sejak kecil dan ingin pesantren tetap eksis dan berdaya di era modern,” ujarnya.
Ia pun memilih kontribusi melalui tiga hal. Manajemen pesantren, penguatan ekonomi, dan ekologi pesantren.
Namanya dikenal luas di kalangan akademik sebagai pakar manajemen sumber daya manusia dan peneliti produktif. Namun, di dunia pesantren, Ning Ilfi merupakan nyai yang tak segan turun tangan mengurusi dapur, bank sampah, dan bahkan pengolahan biogas.
Bukan hanya akademisi, tapi juga “perempuan pesantren” yang ingin menjadikan lembaga warisan ulama ini sebagai pusat kemajuan di tengah perubahan zaman dan mempunyai kebermanfaatan yang luas.
“Saya lahir di keluarga pesantren, hidup di pesantren, dan ingin pesantren tetap eksis. Tapi untuk eksis, pesantren harus dikelola dengan manajemen yang baik, mandiri secara ekonomi, dan peduli lingkungan,” ujarnya ketika ditemui di sela-sela kegiatan akhir pekan.
Manajemen Modern untuk Tradisi yang Bertahan
Dalam pandangan Ning Ilfi, banyak pesantren yang tidak bisa berkembang sesuai kemajuan zaman. Bukan karena kekurangan santri atau kekayaan intelektual, tapi karena manajemen yang rapuh.
Sebagai pengasuh Pondok Pesantren Al Yasini, ia menerapkan prinsip manajemen modern. Ada SOP, pembagian kerja, bahkan sistem kontrol berbasis indikator kinerja. “Pengasuh itu cukup menggerakkan dan menjadi role model. Sistem harus bisa jalan sendiri,” katanya.
Kini, seluruh lembaga pendidikan dari Taman Kanak-kanak (TK) hingga perguruan tinggi di bawah naungan Al Yasini, berjalan baik. Mengedepankan kebersamaan, efektif dan efisien, serta koordinatif antara lembaga dan yayasan dengan pengasuh. Baginya, mengelola pesantren bukan sekadar amanah spiritual, tapi juga tanggung jawab profesional.
Dari 14 Toko Retail-10 LKS, Ekonomi Mandiri untuk Santri
Masalah klasik pesantren lainnya adalah ketergantungan pada iuran bulanan (syahriah). Padahal, jika hanya mengandalkan iuran santri, biaya operasional tinggi, santri dari keluarga menengah bawah sulit masuk karena berbiaya tinggi.
“Maka pendidikan berkualitas tidak dapat diakses oleh semua kalangan, khususnya kelas menengah ke bawah. Pesantren harus dapat menjamin pendidikan berkualitas untuk seluruh kalangan sesuai misi pembangunan berkelanjutan (SDGs),” ujar Prof. Dr. Hj. Ilfi Nur Diana, M.SI., CAHRM., CRMP.
Karena itu, lahirlah Koperasi Pesantren (Kopontren) Al Yasini. Koperasi ini kini memiliki 14 toko ritel (Al Yasini Mart) dan 10 Lembaga Keuangan Syariah (LKS). Tidak hanya sebagai unit bisnis, koperasi ini melibatkan seluruh guru dan karyawan di pesantren sebagai anggota.
Setiap tahun, mereka mendapat Sisa Hasil Usaha (SHU) yang dibagikan secara proporsional. Masyarakat juga mendapatkan bantuan berupa sembako ataupun pasar murah, serta santunan, beasiswa, dan pemberian seragam gratis bagi pelajar kurang mampu.
“Santri, guru, dan warga sekitar merasa memiliki koperasi. Mereka belanja di ritel dan transaksi dengan LKS. Ini menumbuhkan ikatan ekonomi sekaligus sosial,” ujarnya.
Visi ini tak hanya membebaskan pesantren dari ketergantungan dana luar. Tapi, juga mendidik warga pesantren menjadi pelaku ekonomi, mengembangkan kewirausahaan, dan mengurangi praktik rentenir yang banyak terjadi di masyarakat. Khususnya di pedesaan.
Limbah Jadi Energi, Sampah Jadi Berkah
Inovasi terbesar Prof. Dr. Hj. Ilfi Nur Diana, M.SI., CAHRM., CRMP. tak berhenti di manajemen dan ekonomi. Dalam tiga tahun terakhir, ia memimpin gerakan ekopesantren–konsep pesantren ramah lingkungan yang tak hanya mengelola limbah, tapi juga mengubahnya menjadi energi.
Di kompleks pesantren yang dihuni lebih dari 5.000 santri itu, limbah manusia tidak dibuang ke sungai. Tetapi, diolah menjadi biogas yang digunakan sebagai bahan bakar dapur umum. “Kami tidak perlu beli elpiji. Limbah manusia itu kami jadikan sumber energi,” ujarnya, bangga.
Selain itu, pengelolaan sampah juga menjadi perhatian utama. Santri dilatih memilah sampah sejak dari asrama. Sampah plastik dikumpulkan dalam keranjang khusus, diproses oleh bank sampah, dan dijual. Sementara sampah organik dimanfaatkan sebagai kompos.
Tak hanya itu, ruang terbuka hijau juga tersedia di berbagai titik pesantren. Di dalamnya ada pohon mangga, klengkeng, hingga pohon matoa. Pohon ini ditanam bersama santri dalam kegiatan Hari Bumi kemarin. “Santri perlu oksigen yang cukup. Kalau lingkungannya sehat, santrinya juga sehat dan semangat belajar,” jelasnya.
Di salah satu lokasi, bahkan sedang dirancang hutan pesantren. Area hijau konservasi yang menjadi ruang edukasi lingkungan dan paru-paru pesantren. “Kami ingin pesantren ini bukan hanya tempat belajar agama, tapi juga tempat membentuk karakter atau akhlak. Termasuk akhlak pada manusia dan alam, serta belajar hidup peduli terhadap lingkungan,” katanya.
Perempuan Harus Jadi Penggerak, Bukan Penonton
Sebagai satu dari sedikit perempuan akademisi yang juga pengasuh pesantren, Prof. Dr. Hj. Ilfi Nur Diana, M.SI., CAHRM., CRMP. tak ingin kiprahnya berhenti di balik meja. Ia aktif menjadi pembicara nasional dan internasional, meneliti, sekaligus mengajar dan mengabdi.
Ia juga berpartisipasi aktif menjaga kelestarian alam dan lingkungan, serta kesehatan para santri di pondok pesantren. Lebih dari semua itu, ia ingin menginspirasi perempuan lain. Terutama perempuan Pasuruan, untuk berani bergerak.
“Perempuan itu madrasah pertama. Ia harus jadi pendidik, motivator, aktivator, dan advokator. Tak perlu muluk-muluk, cukup mulai dari lingkungan terkecil seperti RT, dusun, atau komunitasnya sendiri,” ujarnya.
Ia percaya, perubahan besar sering lahir dari langkah kecil. “Kita harus ingat, karena sebaik-baiknya manusia adalah yang paling banyak manfaatnya. Kalau setiap perempuan mau ambil peran, negeri ini akan jauh lebih baik,” ujarnya optimistis. (eka/rud/*)
Editor : Muhammad Fahmi