PLANG besar bertuliskan “Menolak segala bentuk pendirian pertokoan modern dan waralaba di Desa Jatiarjo” berdiri kokoh di pintu masuk desa. Siapa pun yang melewati jalur utama menuju Taman Safari Prigen II, pasti tak akan luput untuk membaca pesan jelas dari warga Desa Jatiarjo, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan tersebut.
Desa yang dikenal sebagai Kampung Kopi ini bukan sekadar menolak. Mereka tegas. Kompak. Satu suara. Tidak untuk toko modern, sekecil apa pun bentuknya. Bahkan, waralaba skala rumahan seperti Toko Madura pun ditolak. Alasannya sederhana: demi keberlangsungan ekonomi warga sendiri.
“Kami bukan anti-kemajuan. Tapi kami tahu, kalau toko modern berdiri di sini, itu awal dari akhir usaha warga kecil,” kata Moh Hudan Dardiri, kepala Desa Jatiarjo, yang akrab disapa Kang Jodhy, saat ditemui Jawa Pos Radar Bromo di balai desa beberapa waktu lalu.
Ia menyebut, keputusan ini bukan hal baru. Sejak 2020, Jatiarjo sudah punya aturan desa yang secara tegas menolak keberadaan waralaba. Hanya saja, baru viral belakangan ini. Saat spanduk penolakan itu tersebar luas di media sosial. “Sebenarnya, kami sudah berjalan dalam diam,” ungkapnya.
Menjaga Napas UMKM
Di desa ini, roda ekonomi digerakkan oleh 122 toko kelontong, 32 warung makan, dan 18 pedagang keliling. Satu toko modern, kata Kepala Desa Jatiarjo Moh Hudan Dardiri, bisa pelan-pelan mematikan semuanya.
Bukan hanya karena sistem distribusi mereka yang masif dan terstruktur. Tapi juga karena keuntungan yang diperoleh tidak kembali ke desa.
“Uangnya keluar, ke pemilik pusat. Barangnya juga mayoritas dari luar. Sementara toko-toko kecil, kami ambil dari pasar lokal, dijual ke warga lokal, dan uangnya muter terus di desa,” jelasnya.
Itulah sebabnya, spanduk penolakan itu bukan sekadar simbol. Ia adalah bentuk perlindungan. Benteng terakhir agar warga tetap punya ruang bernapas untuk hidup dari usahanya sendiri.
Jatiarjo bukan sekadar desa wisata yang menjual aroma kopi dan pemandangan lereng Arjuno. Ia adalah desa yang merumuskan ulang makna kemandirian. Di tengah gempuran modernisasi dan gelombang waralaba yang menjangkau pelosok, Jatiarjo berdiri sebagai pengecualian.
“Mungkin kami dianggap ketinggalan zaman. Tapi kami percaya, kalau ekonomi desa mau kuat, ya harus dikendalikan oleh warga sendiri,” jelas Kang Jodhy, sapaannya.
Desa ini adalah kisah tentang menolak tunduk. Tentang mempertahankan hak hidup dari warung-warung kecil, di tengah deru kendaraan wisatawan yang terus melintas. Jatiarjo mungkin kecil, tapi keberaniannya besar. (eka/*)
Editor : Muhammad Fahmi