Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

BumiBaik Apps yang Menangi INOPAMAS 2025 Bisa Pantau Konservasi Hutan-Penghitungan Karbon dengan Mudah

Rizal Syatori • Kamis, 29 Mei 2025 | 17:00 WIB
LESTARIKAN ALAM: Sarifudin Lathif selaku inovator BumiBaik Apps saat kunjungan lapangan INOPAMAS.
LESTARIKAN ALAM: Sarifudin Lathif selaku inovator BumiBaik Apps saat kunjungan lapangan INOPAMAS.

Aplikasi BumiBaik Apps dari Cempaka Foundation, jadi yang terbaik di lomba INOPAMAS untuk kategori teknologi dan nonteknologi. Inovasi digital ini mempermudah bagaimana memantau konservasi lingkungan.

RIZAL FAHMI SYATORI, Prigen, Radar Bromo

Hawa mendung nan sejuk menyapa saat Jawa Pos Radar Bromo berkunjung ke Toko Kopi Jaya Lestari. Sebuah unit usaha dari Cempaka Foundation yang berlokasi di Prigen.

Nampak seorang pria duduk santai sembari ramah menikmati minuman sembari berbincang.

Pria itu adalah Sarifudin Lathif, 41, yang merupakan direktur dari yayasan bergerak di bidang lingkungan ini.

Dia juga santai saat menjelaskan tentang fungsi dan kegunaan serta manfaat dari aplikasi BumiBaik Apps, yang menjadi inovasi terbaik pertama dari kategori tekonologi dan nonteknologi lomba INOPAMAS 2025.

“BumiBaik Apps berupa aplikasi bisa diunduh secara gratis di playstore. Fungsi utamanya untuk pemantauan konservasi hutan dan penghitungan karbon,” ucap Sarifudin Lathif.

Dari aplikasi ini bisa digunakan untuk mengetahui lokasi dan kondisi pohon ditanam untuk konservasi. Sehingga penanam pohon tidak harus datang langsung ke lokasi, untuk melihat pertumbuhan dan perkembangan pohon yang telah ditanam.

“Di aplikasi BumiBaik Apps ada tiga fitur utama, dengan kegunaan dan fungsi yang berbeda-beda. Antara lain geo-tagging atau pemantau pohon, kalkulator karbon dan donasi atau aksi penanaman pohonnya,” kata Udin sapaan akrabnya.

Sarifudin juga membeber bagaimana fitur geo-tagging yang bisa digunakan untuk mengetahui total penanaman, jenis tanaman, jumlah dan kondisi real-time tanaman hidup, rusak, sulam, dan mati. Istimewanya, juga dilengkapi dengan  peta.

Ini sekaligus juga memudahkan penanam pohon melihat kondisi pohon yang telah di tanam secara real-time. Bentuknya berupa foto dari petani penanam pohon. “Pohon yang ditanam, syaratnya dikasih label, kode pohon, juga barcode,” jelasnya.

Lalu apa yang dimaksud fitur kalkulator karbon? Sarifudin menjelaskan, untuk menghitung emisi karbon dari pengguna bahan bakar minyak (BBM), listrik dan gas, masing-masing menggunakan satuan rupiah, dikeluarkan secara global di tiap bulannya.

“Tinggal memasukan data ke fitur yang ada, akhirnya diketahui karbon jumlah emisi yang dihasilkan dari pengguna energi per orang,” tuturnya.

Dari kalkulator pohon ini, ending-nya akan diketahui jumlah pohon yang harus ditanam dalam setiap tahun. Juga jenis pohon yang ditanam serta tip dan triknya.

Sedangkan pada fitur donasi adalah untuk menghubungkan kewajiban menanam pohon dari orang yang sudah menggunakan kalkulator karbon.  

“Dengan melibatkan petani atau kelompok petani yang akan menanam, sesuai kewajiban pohon yang harus ditanam dari kalkulator karbon,” imbuhnya

DIGANJAR PENGHARGAAN: Sarifudin  ketika menerima trofi INOPAMAS 2025 dari Ketua DPRD Samsul Hidayat bersama Bupati Pasuruan Rusdi Sutejo, Senin (26/5) lalu.
DIGANJAR PENGHARGAAN: Sarifudin  ketika menerima trofi INOPAMAS 2025 dari Ketua DPRD Samsul Hidayat bersama Bupati Pasuruan Rusdi Sutejo, Senin (26/5) lalu.

Memang aplikasi ini, lanjut Sarifudin, cara kerja di lapangan melibatkan para petani hutan.

Bukan hanya di dataran tinggi seperti di Prigen, Tapi juga di wilayah pesisir. Tugasnya menanam pohon, memasang label, memfoto tanaman, dan juga mengaploadnya di aplikasi.

Saat ini juga sudah melibatkan ratusan petani dari sekitaran Pasuruan. Namun dari daerah lain juga ada seperti Gresik, Batu, Malang, Majalengka hingga Palembang.

“Para petani diberi pelatihan juga ditraining sebagai tagger atau petani penanda pohon,” imbuh Suharyo, 32, koordinator tagger BumiBaik Apps.

Melalui aplikasi ini, sekarang diketahui jumlah pohon sudah ditanam termonitor 42.932 pohon dengan 22 mitra perusahaan. Ada delapan kelompok tani yang dilibatkan sebagai tagger dengan jumlah ratusan orang.

Jenis tanaman yang ditanam pun beragam. Antara lain kopi, durian, alpukat, mangga, serta mangrove. Selain itu juga ada beringin, gondang, bambu dan lain-lain.

 “Kalau dengan sebelum ada aplikasi ini, kegiatan pohon tertanam mulai 2018 lalu sampai dengan sekarang sudah berjumlah sekitar 120 ribu pohon,” ucap pria asal Desa Jatiarjo, Kecamatan Prigen ini.

Sarifudin juga membeber apa latar belakang pembuatan aplikasi ini. Dia menyebut, itu berlangsung sekitar 1,5 tahun lalu setelah melalui proses panjang.

Mulai dari pengembangan, penyempurnaan fitur, sampai dengan pendaftaran Penyelenggara Sistem Elektronik (PSE).

“Buat aplikasinya sejak 2022 lalu, mulai masuk play store awal 2024. Idenya dari yayasan ini sendiri, ada kebutuhan pelaporan secara digital, praktis, transparan dan real-time ke mitra atau perusahaan. Akhirnya dibuatlah aplikasi ini,” ucap Sarifudin Lathif.

Di lapangan, dalam pembuatan aplikasi ini juga dibantu Bakorwil Malang. Sekaligus mempertemukan yayasan ini dengan komunitas startup.

“Ada tim khusus, berjumlah tujuh orang. Empat orang dari Cempaka Foundation, tiga orang lainnya dari komunitas startup IT,” bebernya. (fun)

Editor : Abdul Wahid
#inovasi #pemkab pasuruan #Inopamas #lomba inovasi