Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Mengunjungi Kampung Rempeyek di Rembang Pasuruan, Dua Ribu Toples Terjual selama Lebaran

Muhamad Busthomi • Rabu, 16 April 2025 | 01:41 WIB

 

 

Chomsatun menunjukkan sejumlah toples peyek buatannya. (M Busthomi/ Radar Bromo)
Chomsatun menunjukkan sejumlah toples peyek buatannya. (M Busthomi/ Radar Bromo)

Lebaran di Pasuruan tak lengkap tanpa suguhan rengginang. Namun, bagi sebagian lidah, terutama di wilayah Kecamatan Rembang dan sekitarnya, rempeyek racikan Chomsatun adalah primadona sesungguhnya. Sejak tiga dekade silam, tangan terampilnya tak hanya melestarikan rasa klasik, namun juga melahirkan varian-varian yang memperkaya khazanah kuliner lokal.

 

MUHAMAD BUSTHOMI, Rembang, Radar Bromo

Aroma rempah yang hangat berpadu mesra dengan harumnya tepung beras, menyambut siapa saja yang melangkahkan kaki ke halaman rumah sederhana. Itulah rumah Chomsatun yang berada di tengah permukiman padat Desa Pekoren, Kecamatan Rembang, Kabupaten Pasuruan.

Di rumah itu, Chomsatun dengan ketenangan seorang maestro, memulai orkestrasi rasa. Dengam telaten, dia mulai meracik adonan. Tepung beras halus bertemu dengan santan kental yang lembut, menciptakan cairan putih pekat yang menjadi kanvas rasa.

Bumbu-bumbu pilihan dihaluskan, hingga menyeruak wangi yang membangkitkan selera. Mereka kemudian berbaur mesra dengan adonan tepung, diaduk perlahan hingga tak ada lagi gumpalan yang tersisa.

Saat adonan telah sempurna, kacang tanah gurih sebagai bintang utama, ditaburkan ke dalam adonan. Sementara wajan besar dengan minyak mendidih telah siap menyambut.

Dengan cekatan, sesendok adonan tipis beserta isiannya dituang ke sisi wajan. Lalu perlahan merayap turun dan bertemu dengan minyak panas yang menari-nari.

Di dalam minyak, adonan mulai berubah warna, dari putih pucat menjadi kuning keemasan yang menggoda.

Gelembung-gelembung kecil bermunculan, tanda air dalam adonan mulai menguap dan hilang. Menciptakan tekstur berongga yang menjadi ciri khas rempeyek. Aroma gurih kacang dan rempah semakin kuat, memanggil-manggil indra penciuman.

Chomsatun membolak-balik adonan tipis itu, memastikan setiap sisinya matang merata dan mencapai tingkat kerenyahan yang sempurna. Suara kriuk samar mulai terdengar, pertanda kelezatan sebentar lagi akan tiba.

Setelah warnanya berubah menjadi cokelat keemasan yang menggairahkan, rempeyek diangkat dengan saringan. Minyaknya ditiriskan dan diletakkan di atas wadah yang dialasi kertas.

Lembar demi lembar rempeyek yang baru matang itu mengeluarkan uap tipis, aromanya semakin menggoda. Sentuhan terakhir adalah ketika rempeyek dingin dan mencapai puncak kerenyahannya.

Saat itulah, setiap gigitan akan menghadirkan ledakan rasa gurih, asin, dan aroma rempah yang khas. Meninggalkan jejak renyah yang memuaskan.

Bisa dibilang, Chomsatun adalah pionir. Berkat ketekunannya, desa tempatnya mengabdikan diri selama bertahun-tahun kini dikenal sebagai "kampung rempeyek".

Lebih dari tiga dekade sudah ia setia menggeluti usaha membuat camilan pipih nan renyah ini. Dulu, Chomsatun hanyalah seorang buruh jahit.

Di sela kesibukannya, ia menyambi membuat rempeyek. Awalnya, dia membuat karena permintaan iseng dari satu-dua tetangga. Bahkan, ia tak pernah mematok tarif.

”Awal cuma membuat karena disuruh orang. Dibantu ibu saya. Imbalannya beras, jadi tidak dibeli dengan uang,” kenangnya.

Bertahun-tahun pola barter rempeyek dengan beras itu ia jalani dengan telaten. Hingga suatu ketika, Chomsatun berpikir untuk mengembangkan sayap. Membuat rempeyek bukan hanya untuk membantu tetangga, tetapi juga untuk dijual, menambah pundi-pundi penghasilan di luar rutinitas menjahit.

Perempuan berusia 63 tahun itu dengan bangga menuturkan, rempeyek buatannya memiliki keistimewaan tersendiri. Terutama pada bumbu dasar yang kaya akan rempah-rempah pilihan. Rasanya lebih ”nendang”, sedikit pedas, namun justru membuat orang ketagihan.

”Saya jamin kalau nyemil rempeyek ini nggak akan bisa berhenti,” ujarnya dengan senyum khas.

Chomsatun sendiri mengakui bahwa resep andalannya ia dapatkan dari seorang kerabat di Surabaya yang berjualan nasi pecel. Maklum, rempeyek memang menjadi pelengkap setia hidangan utama tersebut.

”Tapi saya beberapa kali olah lagi bumbunya supaya lebih khas,” katanya, mengungkapkan sentuhan personal dalam racikan rempeyek itu.

Tak hanya menambahkan cita rasa pedas yang menggigit, ibu dua anak ini juga memberikan aroma segar yang khas dari irisan tipis daun jeruk.

Bahkan, daun-daun itu sengaja diiris lebih lebar agar memberikan warna yang berbeda. Sehingga, memiliki daya tarik visual tersendiri setelah diangkat dari penggorengan.

Namun, kreasi Chomsatun tak hanya berkutat pada resep rempeyek kacang tanah klasik. Tangan terampilnya juga melahirkan varian rasa yang memperkaya khazanah kuliner lokal.

Dia juga membuat rempeyek kedelai dan kacang hijau dengan tekstur uniknya. Hingga rempeyek ikan teri dan gremut (undur-undur laut) yang memberikan sentuhan rasa tak biasa, menjadi andalan yang selalu diburu pelanggan setianya.

”Dulu, ya cuma kacang tanah. Tapi saya pikir, kenapa tidak coba yang lain? Ternyata banyak yang suka,” kenang Chomsatun.

Menjelang Lebaran lalu, dapur sederhana Chomsatun bertransformasi menjadi pusat produksi yang sibuk tak terkira. Pesanan demi pesanan berdatangan dari berbagai penjuru.

Mereka tak hanya dari tetangga desa atau kota-kota di sekitar Pasuruan. Namun, juga merambah hingga Jember di ujung timur Jawa Timur, bahkan hingga Jakarta di ujung barat pulau Jawa.

”Alhamdulillah, banyak yang cocok dengan rempeyek saya. Mungkin karena rasanya yang khas, tidak terlalu berminyak, dan tetap renyah meski sudah beberapa hari,” tuturnya.

Bahkan, pesanan sudah mulai mengalir deras sejak dua bulan sebelum Lebaran. Jika hari-hari biasa ia hanya mampu menjual sekitar 10 toples, peningkatan drastis terjadi selama momentum hari raya. Selama dua bulan menjelang Lebaran, lebih dari 2 ribu toples berisi penuh rempeyek ludes terjual.

”Kalau kacangnya habis sekitar 2 kuintal,” ungkapnya, menggambarkan betapa besar permintaan akan rempeyek racikannya.

Harga rempeyek Chomsatun pun bervariasi. Mulai dari Rp 60 ribu hingga Rp 110 ribu, tergantung pada ukuran toplesnya.

Namun, di balik tradisi rasa itu, kini Chomsatun tengah dilema. Ia khawatir usahanya tak ada yang meneruskan. Mengingat dua anaknya laki-laki.

Satu-satunya harapan yang tersisa adalah kelak ia mendapatkan menantu perempuan yang memiliki minat dan kemauan untuk mewarisi resep dan keahliannya membuat rempeyek. Sehingga, warisan rasa itu akan terjaga setidaknya sampai satu generasi berikutnya. (hn)

Editor : Muhammad Fahmi
#pasuruan #rempeyek #lebaran #rembang