Tidak banyak atlet asal Kota Pasuruan yang mampu berprestasi di level nasional bahkan internasional. Di Kota Pasuruan, ada Anjani Dwi Apriliah, 21. Atlet pentaque ini meraih medali emas dalam PON Aceh-Sumut dan kejuaraan asia tahun 2024.
FAHRIZAL FIRMANI, Pasuruan, Radar Bromo
Perjalanan Anjani Dwi Apriliah sebagai atlet cukup berliku. Sebelum menekuni olahraga pentaque seperti saat ini, Anjani sempat mencoba dua buah cabang olahraga (cabor) yang bertolak belakang. Yaitu tenis meja dan atletik.
Diakuinya, sejak masih duduk di bangku SD, bermimpi menjadi atlet profesional andalan Indonesia.
Alasannya ia ingin memiliki pengalaman dan dikenal banyak orang. Utamanya membahagiakan kedua orang tua.
"Alhamdulillah, berkat menjadi atlet, awalnya tidak pernah keluar provinsi, malah bisa bermain hingga luar negeri. Membawa nama Indonesia," katanya.
Anjani menyebut, cabor tenis meja ditekuninya sejak masih duduk di bangku SD hingga kelas 1 SMP. Bahkan ia sempat meraih prestasi juara dua saat mengikuti olimpiade olahraga dan sains nasional (02SN) se Jatum saat di bangku SMP.
Usai meraih prestasi ini, Anjani memilih berhenti bemain tenis meja. Ia lantas mengikuti ekstrakurikuler atletik. Ia memilih nomor tolak peluru putri dan pernah bermain di Porkot hingga meraih juara 2 saat duduk di kelas 3 SMP.
"Setelah itu saya memilih berhenti dari cabor apapun. Karena memang ingin fokus untuk kelulusan SMP. Alhamdulillah lulus," tutur Anjani.
Di sela sela kelulusan itu, perempuan asli Kota Pasuruan ini mengetahui ada olahraga pentaque.
Karena belum tahu, ia penasaran dan mencoba bergabung dengan cabor ini. Baru bergabung sembilan bulan, ia langsung diikutkan di porprov pertama kali pada 2015 di Bojonegoro.
Dalam porprov perdana ini, ia berhasil meraih medali perak. Kesuksesan di porprov membuatnya dilirik oleh Koni Jatim. Ia dipanggil untuk mengikuti persiapan PON Papua pada 2019 lalu. Selama dua tahun, ia mengikuti training centre di Menganti.
"Di saat mengikuti TC, saya sering mengikuti kejuaraan lainnya, baik di tingkat nasional maupun internasional," jelas perempuan kelahiran April 2003 lalu ini.
Yang paling diingat, saat ia mengikuti kejuaraan internasional di Johor pada 2020. Saat itu ia mendapatkan juara dua. Prestasi ini sangat mengesankan karena ia bertemu dengan idolanya asal Thailand di final.
"Walau sempat kecewa karena gagal berangkat di PON Papua, namun terobati karena meraih medali perak melawan sang idola," tutur Anjani.
Mahasiswi Universitas Negeri Surabaya (Unesa) ini menjelaskan, kegagalan berangkat ke PON Papua ditebus saat dipanggil Jatim untuk memperkuat kontingen mereka dalam PON Aceh Sumut 2024. Ia turun di dua nomor. Yakni nomor double dan triple mix.
Ia berhasil membawa pulang dua medali. Satu medali emas di nomor double dan medali perak di nomor triple mix. Tapi sedikit kecewa kaeena sebenarnya ia bisa meraih dua emas. Namun gagal karena keputusan kontroversial wasit.
"Jelas jelas bola lawan itu out dan banyak orang yang merasa seperti itu tapi wasit mengatakan tidak out. Akhirnya kalah," katanya.
Mahasiswi S-1 Pendidikan Ilmu Kepelatihan ini menuturkan kekecewaan di PON terobati karena berhasil meraih emas di Asia Championship di Taiwan. Ia berhasil menciptakan sejarah bisa mengumandangkan lagu Indonesia Raya di negara orang untuk kali pertama.
Dua prestasi di ajang nasional dan internasional ini membuat Anjani dikenal banyak orang. Ia mendapatkan ganjaran bonus dari jawa timur Rp 270 juta dan dari pengurus petanque Rp 10 juta. Uang ini digunakan untuk merehab rumah, memberi untuk orang tua dan menyisihkan untuk ditabung.
"Lebih istimewa lagi dua prestasi ini membuat saya tidak perlu menyusun skripsi. Saya bisa lulus tanpa skripsi," jelas Anjani.
Pertandingan di ajang PON Aceh Sumut dan international championship di Taiwan adalah momen paling berkesan. Sebab perjuangan dari babak penyisihan sampai ke babak final dalam PON sangat sengit.
Sementara di championship international, ia harus melawan banyak pemain asing yang memiliki jam terbang tinggi.
Menurutnya, dari keikutsertaan di ajang pentaque mulai tingkat daerah, nasional hingga internasional, ia bisa mendapatkan 60 medali. Saat ini ia menargetkan bisa dipanggil oleh timnas Indonesia untuk bisa tampil dalam sea games 2025 di Kamboja.
"Alhamdulillah orang tua mendukung penuh mimpi saya. Saya akan terus berlatih mewujudkannya," pungkasnya. (fun)
Editor : Abdul Wahid