Di balik suara riuh yang biasa terdengar di dalam kelas, ada keluhan yang terus bergema di hati para siswa SDN Jaladri 1, sebuah sekolah di Desa Jeladri, Kecamatan Winongan. Yaitu, belajar di tempat yang nyaman dan aman. Hingga kini, impian itu terhambat oleh sengketa lahan yang berlangsung lebih dari dua dekade.
FUAD ALYZEN, Radar Bromo, Winongan
Sejak beberapa bulan terakhir, sekitar 158 siswa SDN Jaladri 1 harus menjalani proses pembelajaran di sebuah ruangan semipermanen yang jauh dari kata layak.
Tempat tersebut, yang seharusnya hanya menjadi solusi sementara, kini menjadi tempat belajar yang penuh dengan keterbatasan.
Para siswa tak hanya terkungkung dalam ruang sempit dan kurang nyaman. Mereka juga terpaksa belajar di tengah atmosfer yang terganggu oleh sengketa lahan SDN Jeladri 1 yang tak kunjung usai.
"Kami sebenarnya ingin kembali ke sekolah. Biar belajarnya enak. Sekarang ini tempat belajarnya sempit,” ujar seorang siswa kelas 6, Muhammad Wildan Firdaus.
Konflik lahan SDN Jeladri 1 sebenarnya bukanlah hal baru. Sengketa lahan yang melibatkan warga yang mengklaim sebagai ahli waris tanah sekolah ini sudah terjadi sejak tahun 2004.
Ahli waris yang merasa memiliki hak atas lahan seringkali mengganggu aktivitas belajar mengajar. Contohnya, pintu gerbang sekolah pernah ditutup dengan bambu. Sehingga, siswa kesulitan untuk keluar-masuk.
Bahkan, pernah sebanyak delapan truk material batu cor dibuang di halaman sekolah. Sehingga, siswa siswi sekolah tidak bisa melakukan upacara rutin yang biasa dilakukan setiap Senin.
Kondisi ini memuncak pada Agustus 2024. Saat itu, siswa terpaksa dipindahkan dari lahan sekolah akibat pengusiran oleh pihak yang mengklaim sebagai ahli waris.
Di tambah penyegelan oleh ahli waris pada 2 Agustus 2024. Membuat siswa dan guru waswas kembali ke sekolah.
Seluruh siswa dan guru akhirnya numpang belajar di sebuah madin yang terletak tidak jauh dari sekolah. Namun, kemudian Maret mereka harus pindah lagi. Sebab, madin itu direnovasi.
Mereka lantas pindah ke rumah seorang guru demi kegiatan belajar mengajar bisa tetap dilaksanakan. Saat ini, mereka belajar di tempat semi permanen yang lokasinya tidak jauh dari sekolah lama.
Pemkab Pasuruan sendiri menginstruksikan agar siswa dan guru SDN Jaladri 1 kembali belajar di sekolah pada 6 Maret mendatang. Namun, mereka tetap diliputi rasa waswas.
Penyegelan yang pernah terjadi dan penebangan pohon di sekolah oleh ahli waris, membuat mereka khawatir akan terjadi bentrok.
"Kami ingin belajar di sekolah seperti yang lain. Enak, nanti bisa makan gratis,” tutur Very Avianto, siswa kelas 4.
Hal serupa dirasakan Edy Siswanto, salah satu guru di SDN jeladri 1. Edy mengaku, banyak siswa yang menyampaikan keluhan mereka.
Intinya menurutnya Edy, mereka sangat ingin kembali ke sekolah, dengan syarat masalah sengketa lahan dapat segera diselesaikan.
Para siswa ingin merasakan kenyamanan belajar di lingkungan yang lebih luas, serta menikmati fasilitas seperti lapangan untuk bermain.
"Mayoritas siswa meminta segera kembali ke sekolah. Mereka ingin belajar dengan tenang, bisa bermain di lapangan, dan merasakan kenyamanan yang selama ini hilang," ujar Edy yang juga tinggal di Desa Jaladri.
Sebagai informasi, sebagian besar ruang kelas yang digunakan saat ini dibangun dengan dana swadaya para guru dan dibantu Kecamatan Winongan.
Lahan tempat mereka mengajar pun sebagian besar milik pribadi para guru, termasuk kantor yang mereka gunakan untuk bekerja.
Katanya, 6 Maret ini sekolah sudah mulai masuk. Pemkab Pasuruan sudah mengimbau agar siswa dan guru kembali menempati sekolah. Namun mereka semua masih waswas. Khawatir ada penyegelan lagi.
Edy berharap, masalah ini segera diselesaikan. Sehingga, tidak ada lagi sengketa lahan dan siswa bisa menjalani pembelajaran dengan tenang. Entah dengan memberikan ganti rugi atau cara lain.
“Yang menempati sekolah 6 Maret ini kelas satu sampai kelas tiga. Karena yang bisa ditempati hanya tiga kelas. Kelas lainnya masih direhab,” sampainya.
Para wali murid, yang mayoritas berasal dari keluarga petani dengan kondisi ekonomi menengah ke bawah, juga berharap agar masalah ini segera selesai.
Mereka merasa kasihan melihat anak-anak mereka terpaksa belajar di tempat yang tidak layak.
"Yang terpenting bagi kami adalah anak-anak bisa belajar dengan tenang dan nyaman. Sengketa lahan ini jangan sampai mengorbankan masa depan mereka," ujar Edy dengan nada penuh harap. (hn)
Editor : Muhammad Fahmi