MESKI sudah meninggal sejak tahun 1977, namun sosok Kiai Cholil Nawawie, pengasuh Ponpes Sidogiri, Kraton, Kabupaten Pasuruan sampai saat ini masih banyak dibicarakan. Sosok dan kepribadiannya yang sangat sederhana dan dekat dengan masyarakat selalu jadi suri teladan.
Kiai Cholil Nawawie lahir pada tahun 1337 H atau 1925 M dari pasangan Nyai Nadhifah dan KH. Nawawie Noerhasan (1862-1929). Semasa kecil namanya adalah Muhammad Cholil.
Nawawie Noerhasan (bapak Kiai Cholil) merupakan pengasuh ke-6 Pondok Pesantren Sidogiri. Karena itu, beberapa santri dan masyarakat di sekitar ponpes Sidogiri memanggil Muhammad Cholil kecil dengan panggilan “Mas Cholil”.
Sebutan “Mas” untuk keturunan putra dan “Ning” untuk putri seorang kiai merupakan hal yang lazim di kalangan pesantren di Jawa Timur.
Sejak kecil, Kiai Cholil dikenal sebagai sosok yang cerdas. Hal itu terlihat saat Kiai Abd Karim, dari Kramat pernah menghadapi masalah agama yang sangat pelik.
Untuk itu, Kiai Karim menemui Kiai Abd Djalil (Pengasuh ke-9 Pondok Pesantren Sidogiri) dengan harapan akan mendapat jalan keluar dari permasalan pelik yang dihadapi.
Ternyata Kiai Abd. Djalil juga mengalami kesulitan untuk memecahkan masalah tersebut. Nah, kebetulan usai bertemu Kiai Abd Djalil, Kiai Karim bertemu dengan Mas Cholil.
Karim pun langsung menceritakan persoalannya itu kepada Mas Cholil. Ternyata beliau bisa mencarikan jalan keluar persoalan Karim. Saat itu juga Karim pun langsung menangis bahagia usai persoalannya berhasil dipecahkan.
Pengetahuan agama Kiai Cholil semakin terasah lantaran ia tekun menuntut ilmu. Pada awalnya dia mengaji kepada pamannya Kiai Abd Djalil. Kemudian melanjutkan mengaji di Pesantren Termas yang diasuh oleh Kiai Mahfudz.
Pada tahapan ini, kematangannya dalam menuntut ilmu semakin ditempa. Lazimnya seorang yang nyantri (belajar) di pesantren, ia juga dituntut untuk hidup mandiri dalam belajar dan beribadah.
Meski sudah belajar dari beberapa orang kiai terkemuka di Jawa Timur dan Jawa Tengah, semangatnya untuk terus mendalami berbagai macam ilmu-ilmu Islam tradisional tidaklah surut.
Sebagai puncak petualangannya dalam menuntut ilmu, akhirnya Mas Cholil belajar ilmu agama ke tanah suci Makkah.
Di sana ia belajar kepada ulama kesohor, seperti Syaikh Amin Kutbi dan Syaikh Hasan al-Yamany.
Setelah sekian lama menimba ilmu di Makkah, Kiai Cholil Nawawie pulang ke Sidogiri. Tahapan kehidupan berikutnya yang akan dijalaninya, setelah bertahun-tahun menuntut ilmu adalah mengamalkan ilmu yang telah dipelajarinya.
Para santri Pondok Pesantren Sidogiri yang mengetahui bagaimana petualangannya dalam menuntut ilmu telah menunggunya. Mereka ingin memetik hasil dari petualangannya itu.
Terlebih lagi pada saat itu selama dua tahun Sidogiri mengalami masa kekosongan pengasuh (fatrah) setelah meninggalnya Kiai Abd. Djalil.
Atas permohonan KH. Birrul Alim dan para alumni (lulusan) Pondok Pesantren Sidogiri, Kiai Cholil Nawawie akhirnya didaulat untuk menjadi Pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri pada 1949.
Nah, sejak saat itulah orang-orang mulai memanggil Mas Cholil dengan Kiai Cholil Nawawie. Untuk menjalankan amanah sebagai pengasuh ponpes itu sendiri tidaklah mudah.
Sebelum Kiai Cholil menjadi pengasuh, pendidikan di pesantren belum menerapkan sistem pendidikan klasikal.
Pendidikan santri melalui pengajian sorogan (belajar secara langsung kepada seorang kiai) dan pengajian umum yang diadakan di surau atau masjid.
Maka pada saat Kiai Cholil menjadi pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri, ia mulai merintis berdirinya pendidikan klasikal atau pendidikan melalui belajar di kelas madrasah (sekolah).
Pendirian madrasah dilatarbelakangi oleh semakin banyaknya jumlah santri. Santri yang semula hanya 300-an orang meningkat menjadi 500-an orang.
Dari jumlah santri tersebut banyak di antaranya yang masih anak-anak. Karena itulah kemudian dibuka sistem pendidikan kelas di madrasah.
Perjalanan Pondok Pesantren Sidogiri mulai mengalami perkembangan pesat saat Kiai Cholil memangku sebagai Pengasuh dan K.A. Sa’doellah sebagai Ketua Umum.
Di bawah asuhannya, Pondok Sidogiri menjadi salah satu pondok yang disegani dan namanya harum ke seluruh pelosok negeri.
Semerbak namanya menarik minat para penuntut ilmu berbondong-bondong nyantri ke Sidogiri. Santri yang semula hanya ratusan, melonjak pesat mencapai ribuan orang.
Pada tahun 1366 H atau 1947 M Kiai Cholil menikah dengan Nyai Asma dari Pedokaton, Pasuruan. Setelah menikah, ia memboyong Nyai Asma ke Sidogiri dan tinggal di rumah yang terletak tepat di sebelah utara masjid Jami’ Sidogiri.
Setelah sekian lama menikah, pasutri itu belum juga dikaruniai seorang keturunan. Akhirnya dengan pertimbangan untuk mendapatkan keturunan, ia menikah lagi dengan Nyai Murti, seorang janda berputra satu. Istri keduanya ini tinggal di Warungdowo (sekitar 5 km dari Sidogiri).
Kiai Cholil menutup usia pada Senin Pon 21 Ramadhan tahun 1397 H atau 5 September 1977 Pondok Sidogiri.
Salah satu pengurus Ponpes Sidogiri, Mahmud Ali Zein mengatakan sosok Kiai Cholil Nawawie adalah tawadhu dan sederhana, serta arif dan bijaksana.
Lalu, tak terpengaruh uang, tutur katanya ringkas. Kemudian Istiqamah belajar-mengajar, Tak fanatik terhadap ilmu agama, teguh dalam menjalankan syariah, dan masih banyak yang lainnya.
“Beliau merupakan ulama besar dan kharismatik, memiliki banyak kelebihan. Begitu akrab dan familiar dengan keluarga, santri, dan masyarakat. Sehingga tak heran banyak yang mengaguminya,” terangnya.
Selain itu, kata Mahmud Ali Zein keilmuannya sangat dikagumi. “Bukan hanya dari kalangan santri yang berguru kepadanya. Tetapi, juga ada dari masyarakat dan para kades. Lewat pertemuan ngaji bareng, yang rutin digelar,” ucapnya.
Lantaran keilmuannya yang mumpuni itu, tak jarang warga meminta nasihat kepadanya. Baik itu persoalan agama, kehidupan, rumah tangga, ekonomi, dan sebagainya. Meskipun sakit menderitanya, ia tetap gigih mengabdi bagi agama, ponpes, santri, dan masyarakat.
“Hingga kini oleh keluarga, santri, dan masyarakat tetap selalu dikenang,” ungkapnya.
Haul Kiai Cholil Nawawie diperingati setiap malam 21 ramadan, dan selalu dihadiri puluhan ribu orang. Baik santri, kiai, habaib, dan masyarakat. Mereka datang dari berbagai kota dan nusantara, tak hanya dari Jatim Saja. Seperti Bali, Jakarta, Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi pun banyak yang hadir.
“Tiap kali haul beliau, jamaah tumpah ruah hadir,” terang Ali Zein. (rizal syatori/mie)
*Artikel ini telah terbit di koran Jawa Pos Radar Bromo pada 2012 silam.
Editor : Muhammad Fahmi