Musala Waqaf Al-Amin dibangun di masa penjajahan Belanda. Warga sekitar memperkirakan, usianya 100 tahun lebih. Dan sampai saat ini, musala tersebut masih menjadi media syiar Islam. Tempat warga sekitar melaksanakan salat berjamaah, tadarus, dan tarawih selama Ramadan.
-------------------------
Musala Waqaf Al-Amin berada di Dusun Gendol, RT 01/RW 05, Desa Pakukerto, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Pasuruan.
Menurut cerita yang diwariskan oleh generasi terdahulu, Musala Waqaf Al-Amin didirikan oleh almarhum Hasyim, seorang warga Dusun Gendol.
Dia membangun musala itu di atas tanah miliknya yang kini telah diwakafkan untuk kepentingan umat.
"Musala ini dulunya satu-satunya tempat ibadah di Dusun Gendol. Sekarang, bangunan ini telah menjadi milik bersama, dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar," terang Kepala Desa Pakukerto Surateman.
Bangunan musala menggunakan bahan-bahan sederhana, namun kokoh. Panjangnya sekitar 6 meter dan lebar 4 meter. Sampai saat ini, sebagian besar fisik bangunan masih mempertahankan bentuk aslinya.
Seperti tempat wudu berupa jedingan besar, layaknya kolam kecil berisi air yang berada di sisi luar sebelah utara. Sampai saat ini, tempat wudu itu masih berfungsi dengan baik.
Selain itu, dua pintu yang terbuat dari kayu masih dipertahankan. Hanya catnya saja yang diubah.
"Meski usianya sudah sangat tua, sebagian besar struktur bangunan dan sarana prasarana masih asli. Hanya beberapa bagian yang mengalami renovasi," lanjut Kades Surateman.
Misalnya, lantai utama di dalam musala yang dulunya terbuat dari plester semen, kini telah diganti ubin. Kemudian, di atasnya terhampar karpet.
Kemudian, sebagian tembok ruang utama juga telah dipasang keramik. Sementara di bagian teras sudah dipasang keramik yang lebih modern. Lalu, di dalam musala terpasang tabir pemisah antara jamaah laki-laki dan perempuan.
Meski kesederhanaan masih terasa kental, beberapa fasilitas modern telah ditambahkan. Seperti kipas angin dan pengeras suara untuk kenyamanan jamaah. Di bagian depan, ada keran air baru dengan aliran langsung dari sumber mata air yang masih mengalir jernih.
Wiwid Handoko, seorang warga Dusun Gendol yang juga sekretaris Desa Pakukerto mengingat, dulu musala ini tak hanya digunakan untuk salat berjamaah dan tarawih. Namun, juga menjadi tempat mengaji bagi anak-anak.
Namun kini, kegiatan mengaji telah dipindahkan ke madrasah diniyah (Madin) dan Taman Pendidikan Alquran (TPQ) yang masing-masing memiliki bangunan sendiri.
"Dulu, musala ini tak hanya menjadi tempat ibadah bagi warga Dusun Gendol, tapi juga bagi warga Dusun Janti yang berdekatan,” terang Wiwid.
Karena dimanfaatkan warga di dua dusun, dulu jumlah jamaah di musala itu cukup banyak. Maklum, saat itu musala tersebut menjadi satu-satunya tempat ibadah di dusun setempat.
Saat ini, Musala Waqaf Al-Amin masih terus dimanfaatkan oleh warga Dusun Gendol. Namun, memang jamaahnya tidak seramai dulu. Sebab, kini sudah makin banyak musala.
Setiap hari, rata-rata jamaah yang datang satu saf saja. Namun, saat bulan Ramadan, jamaah yang datang jauh lebih banyak. Terutama saat salat tarawih.
Ya, Musala Waqaf Al-Amin terus dilestarikan warga setempat hingga kini, meski usianya lebih dari 100 tahun. Jadi media menghidupkan nilai-nilai keagamaan yang diwariskan oleh generasi terdahulu secara turun temurun. (rizal f. syatori/hn)
Editor : Muhammad Fahmi