Semakin banyak anak-anak yang menekuni dunia modelling. Selain mengasah keterampilan dan rasa percaya diri, karir cemerlang di masa depan menjadi incaran. Inilah yang dilakukan Vanessa Callie, 9. Model cilik di Kota Probolinggo, yang banyak menuai prestasi.
INNEKE AGUSTIN, Mayangan, Radar Bromo.
BELUM lama ini, Vanessa Callie, tampil di panggung Little Miss Tionghoa Indonesia 2024. Dia tak sekadar tampil.
Tapi juga menorehkan prestasi gemilang dengan meraih penghargaan Best Catwalk dalam ajang bergengsi yang digelar di Surabaya, tahun 2024 silam.
Putri bungsu Yonatha Devi Anggraini, 39, memang sekitar dua tahun ini menekuni dunia modelling.
Bakat Vanessa di dunia fashion show bukan muncul secara tiba-tiba. Tapi diarahkan dan didukung oleh orangtuanya.
Kata Devi, semua berawal dari kegemaran Vanessa bermain dengan riasan wajah. Hal itu diamati betul oleh sang ibu.
Devi, yang pernah berkecimpung di dunia modeling, melihat ada potensi lebih dari sekadar hobi dalam diri anak keduanya itu.
“Saya tidak ingin bakatnya hanya berhenti sebagai kesenangan belaka. Jika tidak diarahkan dengan benar, bisa saja ia kehilangan peluang besar. Karena itu, saya mengenalkannya pada dunia modeling,” tutur Devi saat ditemui Jawa Pos Radar Bromo, Senin (27/1) di rumahnya di Jalan Pahlawan.
Tak butuh waktu lama bagi Vanessa untuk menunjukkan bakatnya. Vanessa bergabung dengan dua agensi modeling, baik di dalam maupun luar kota. Prestasi mulai berdatangan.
Selain Best Catwalk dalam ajang Little Miss Tionghoa Indonesia 2024, Vanessa juga pernah meraih Anak Indonesia Award 2024. Selain itu beberapa penghargaan serupa dalam sebuah fashion show di Bali.
“Vanessa sering mendapat undangan untuk tampil di luar kota. Teknik dan gaya berjalannya sudah seperti model profesional. Mungkin karena dia rajin belajar sendiri juga,” ungkap Devi dengan bangga.
Vanessa memang tak hanya mengandalkan pelatihan dari agensinya. Ia juga rajin mencari referensi dari berbagai sumber, terutama media sosial.
Dia sering melihat video model-model ternama, lalu mencoba mengadaptasi dan mengombinasikan gaya mereka.
“Setelah itu, dia akan meminta pendapat saya tentang hasilnya. Kebetulan saya dulu juga pernah menjadi model, jadi kami sering berdiskusi,” imbuh Devi.
Devi lalu bercerita bagaimana perjalanan Vanessa menuju kemenangan di Little Miss Tionghoa Indonesia. Semuanya tidak mudah.
Untuk bisa lolos ke ajang yang bergengsi ini, dia harus melewati berbagai tahap seleksi. Mulai dari pengiriman foto profil, video catwalk, hingga penilaian portofolio prestasinya. Bahkan, akun media sosialnya pun turut diperiksa oleh para juri.
Di babak regional, Vanessa berhasil mengungguli sekitar 100 peserta dari berbagai daerah di Jawa Timur.
Kemenangannya membawanya ke tahap nasional, yang sistem penilaiannya dibuat menyerupai ajang Miss Universe.
“Selain catwalk, peserta juga harus menjawab pertanyaan dari juri. Waktu itu Vanessa ditanya tentang kuliner khas Tionghoa,” jelas Devi.
Meskipun sudah sering tampil, Vanessa mengaku pernah merasa grogi saat berada di atas panggung. Namun, ia punya cara tersendiri untuk mengatasinya.
“Saya tarik napas dalam-dalam, lalu hembuskan perlahan. Itu membantu saya lebih tenang,” ujar Vanessa sambil tersenyum.
Kesibukan di dunia modeling tak membuatnya lalai dalam belajar. Vanessa tahu betul bagaimana membagi waktu antara pendidikan dan hobinya.
“Sepulang sekolah, saya selalu menyelesaikan tugas lebih dulu. Kalau masih ada waktu luang, baru saya latihan catwalk. Kelas di agensi juga hanya di akhir pekan, jadi tidak mengganggu sekolah,” tuturnya.
Bagi Vanessa, modeling bukan sekadar aktivitas iseng. Ia ingin melangkah lebih jauh, menjadikannya sebagai profesi di masa depan.
“Saya ingin menjadi model internasional. Ini bukan hanya hobi, tapi juga mimpi yang ingin saya wujudkan,” ucapnya penuh keyakinan.
Langkah kecil Vanessa di panggung Little Miss Tionghoa Indonesia mungkin baru permulaan.
Namun, dengan tekad yang kuat dan dukungan dari sang ibu, bukan tidak mungkin suatu hari nanti ia akan benar-benar berdiri di atas catwalk dunia, membawa nama Indonesia ke kancah internasional. (fun)
Editor : Abdul Wahid