Sumadi punya cara bagaimana menghasilkan cita rasa kopi Arabika yang diminati lidah orang luar negeri. Sumadi bukanlah nama orang. Ia adalah kelompok petani yang membudidayakan kopi dengan konsep agroforestri.
MUHAMAD BUSTHOMI, Prigen, Radar Bromo
Aktivitas berbasis konservasi hutan itu menggeliat di lokasi tanam Pegunungan Arjuno. Berada di ketinggian 1.500 mdpl di Desa Jatiarjo, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan.
Sebanyak 54 petani mengembangkan konsep agroforestri. Konsep ini mengombinasikan tanaman perkebunan, tanaman hutan, dan tanaman pertanian.
Dengan kata lain, mereka juga ikut andil menjaga konservasi lingkungan. Mengingat, perkebunan kopi memiliki potensi menyerap karbon yang tinggi. Konsep agroforestri yang diterapkan oleh petani Sumadi memiliki beberapa manfaat signifikan.
Pertama, sistem ini membantu menjaga kesuburan tanah dan mencegah erosi. Kedua, agroforestri menciptakan habitat yang baik bagi berbagai jenis satwa liar.
Ketiga, tanaman hutan yang ditanam bersama kopi berfungsi sebagai peneduh alami, sehingga kualitas biji kopi menjadi lebih baik.
Masing-masing petani menggarap 1 hektare lahan yang ditanami sekitar 2 ribu pohon kopi. Usianya rata-rata sudah 4 tahun. Menghasilkan sebanyak 20 kilogram kopi. Di tengah hutan konservasi itu pula, para petani Kopi Sumadi melakukan proses pengeringan biji kopi melalui green house.
Sumadi sendiri bukan nama orang. Melainkan akronim dari Sumber Makmur Abadi yang merupakan Kelompok Tani Organic (KTO) di Desa Jatiarjo. Nur Hidayat, ketua KTO Sumadi mengatakan, pasar internasional memiliki selera tinggi. Mereka maunya kopi special taste single origin.
”Tentunya suhu udara yang berkisar 18 sampai 23 derajat Celsius di sini juga sangat mendukung stabilisasi pengeringan biji kopi,” katanya.
Salah satu kunci keberhasilan Kopi Sumadi adalah proses pengeringan biji kopi yang dilakukan di dalam green house. Dengan suhu yang stabil dan kelembapan yang terkendali, biji kopi dapat dikeringkan secara optimal. Sehingga, menghasilkan cita rasa yang konsisten.
”Proses pengeringan yang panjang dan terkendali ini memungkinkan kami untuk menghasilkan kopi dengan cita rasa yang lembut, creamy, dan sedikit fruity,” ujar Dayat.
Green house yang merupakan bantuan fasilitas dari Bank Indonesia (BI) Malang itu sudah mereka manfaatkan selama lima tahun terakhir. Dan dengan bangunan tembus cahaya itu pula, mereka bisa menjaga konsistensi cita rasa kopi yang dihasilkan. Sebab, pengeringan full wash bisa berlangsung selama 36 jam.
Sehingga, aroma dan rasa kopi Arabika yang dihasilkan, cenderung lebih soft. Perpaduan creamy dan fruity-nya juga seimbang. Tak terlalu asam dan tak terlalu pahit. Dan kombinasi rasa yang pas itu yang dicari pasar internasional.
”Proses pengeringan yang stabil ini menghasilkan kopi special taste yang memang diminati pasar mancanegara,” katanya.
Di samping itu, pengembangan agroforestri juga mendukung kapasitas produksi Kopi Sumadi yang bisa menyentuh 12 ribu ton per tahun. Angka yang cukup fantastis. Mengingat sebelumnya, hanya mampu berproduksi 1 ton per tahun.
Dayat mengungkapkan, dahulu para petani di sana hanya memiliki beberapa pohon kopi saja dengan penghasilan minim. Setelah ada agroforestri, para petani bisa mandiri secara ekonomi melalui kopi yang kini menjadi komoditas utama dan potensial.
Sebagai bagian dari sektor UMKM, kata Dayat, Kopi Sumadi juga mampu menyerap tenaga kerja. Ia memastikan tidak ada masyarakat di desanya yang kebingungan mencari pekerjaan, selama mau menjadi petani kopi.
Dayat mengatakan, pengembangan budi daya kopi ini benar-benar memperluas tenaga kerja masyarakat setempat dan sekitar, bahkan lintas usia. Baik orang tua hingga pemuda yang tak bersekolah.
”Bahkan boleh dibilang, kami masih kekurangan tenaga kerja kalau dari desa kami saja,” katanya.
Secara ekonomi, omzet para petani juga cukup menggiurkan. Rata-rata dalam setahun, mereka bisa meraup Rp 200 juta. Namun, mereka harus menyisihkan 25 persen di antaranya untuk kebutuhan operasional.
”Permintaan pasar terbanyak kami dari Korea Selatan. Lalu ada Swiss, Perancis, China, dan lainnya,” kata Dayat.
Bahkan, buyer dari Negeri Ginseng itu cukup serius merespons pasokan kopi Sumadi. ”Mereka antusias datang ke sini, melihat proses kami dan kemudian membuat standar bareng,” katanya.
Dengan lahan garapannya, Kopi Sumadi mampu memproduksi 12 ton kopi dalam setahun. Sementara pembelian dari Korea Selatan bisa mencapai 1 ton dalam sekali transaksi. Dayat mengakui, pembelian dalam jumlah besar memang kebanyakan datang dari mancanegara.
”Karena pasar luar negeri memang mengakui dengan harga premium yang kami tawarkan, Rp150 ribu per kilogram,” katanya.
Pencapaian itu, lanjut Dayat, juga mendorong petani tetangga desa untuk menduplikasi pola pengembangan agroforestri ala Kopi Sumadi. Karena itu, ia banyak diminta menjadi pendamping bagi kelompok tani lain agar bisa menghasilkan kopi dengan kualitas yang sama dengan Kopi Sumadi.
”Sebenarnya pengolahannya cukup sederhana, dari masa panen hingga pascapanen. Dengan pengeringan metode green house, akan menghasilkan kopi yang baik didukung dengan suhu udara yang stabil di kawasan Arjuno,” katanya. (hn)
Editor : Muhammad Fahmi