Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Lapas Probolinggo Dirikan Wartelsus untuk Rawat Hubungan Keluarga WBP, Hidupkan Asa melalui Suara

Inneke Agustin • Selasa, 10 Desember 2024 | 05:14 WIB

 

LEPAS RINDU: Sejumlah WBP Lapas Kelas IIB Probolinggo saat menggunakan fasilitas wartelsus di dalam Lapas, (28/11). (Inneke Agustin/ Jawa Pos Radar Bromo)
LEPAS RINDU: Sejumlah WBP Lapas Kelas IIB Probolinggo saat menggunakan fasilitas wartelsus di dalam Lapas, (28/11). (Inneke Agustin/ Jawa Pos Radar Bromo)

Ini adalah kisah tentang adaptasi teknologi yang menyentuh sisi kemanusiaan. Melalui warung telepon khusus (wartelsus), Lapas Kelas IIB Probolinggo memberikan kesempatan pada Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) untuk menghubungi keluarga tercinta.

 INNEKE AGUSTIN, Mayangan, Radar Bromo.

Di balik jeruji besi, suara keluarga adalah obat bagi jiwa yang rindu. Dalam kesunyian panjang yang menyelimuti hari-hari warga binaan (WBP), kehangatan percakapan menjadi jembatan menuju harapan.

Memahami betapa pentingnya hubungan itu, Lapas Kelas IIB Probolinggo menghadirkan layanan warung telepon khusus atau wartelsus.

Fasilitas ini sengaja dihadirkan sebagai jembatan komunikasi bagi warga binaan dengan keluarga tercinta.

Bahkan, sebenarnya wartelsus ini sudah ada sejak tiga tahun lalu. Namun, transformasinya baru mencapai puncak ketika lapas menggandeng pihak ketiga, PT AVA Jakarta.

Tujuannya tidak lain untuk menghadirkan sistem yang lebih aman dan akuntabel.

Humas Lapas Kelas IIB Probolinggo Reky Arif Rahman menjelaskan, sebelumnya layanan komunikasi hanya mengandalkan ponsel milik Lapas.

 Sistem kontrolnya terbatas, sehingga potensi penyalahgunaan cukup tinggi. Kini, dengan teknologi dari PT AVA, semua percakapan terekam dan diawasi CCTV.

"Sistem ini memberikan keamanan lebih baik. Selain itu, penggunaan kuota juga lebih terukur," kata Reky.

Wartelsus ini beroperasi setiap hari mulai pukul 08.00 hingga 16.30. Sebanyak 20 Kamar Bicara Umum (KBU) tersebar di tiga blok hunian.

Enam di Blok A, empat di Blok B, dan sepuluh di Blok C. Untuk menggunakan layanan ini, WBP harus membeli token dengan harga Rp 500 per menit.

"Kami juga mempekerjakan dua WBP sebagai kasir dan operator. Pembayaran token dicatat melalui mesin EDC, sehingga semuanya transparan," ujar Reky.

Kedua operator ini sebelumnya mendapat pelatihan intensif selama dua minggu dari PT AVA untuk memahami sistem jaringan wartelsus. Mereka bertugas mengelola sepuluh KBU masing-masing.

Jika terjadi gangguan, mereka akan dibantu teknisi melalui panduan jarak jauh. Perusahaan juga meninjau rutin setiap bulan untuk memastikan layanan berjalan lancar.

Melalui wartelsus, Lapas tak hanya menyediakan fasilitas komunikasi. Namun, juga membuka peluang penghasilan bagi WBP dan institusi.

Pendapatan harian dari wartelsus mencapai Rp 400 ribu hingga Rp 500 ribu. Sedangkan dua WBP yang dipekerjakan perusahaan sebagai kasir dan operator digaji Rp 75 ribu per pekannya.

"Setelah dipotong biaya operasional, keuntungan dibagi dengan rasio 60 persen untuk vendor dan 40 persen untuk lapas. Jika program ini stabil, pembagian keuntungan bisa menjadi 50:50," ujar Reky.

Bagi warga binaan, wartelsus menjadi sarana vital untuk menjaga hubungan dengan keluarga dan dunia luar.

Hendra, 40, seorang warga binaan asal Desa Bulu, Kecamatan Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, mengaku menggunakan layanan ini dua kali sehari.

"Saya punya bisnis yang diurus adik saya. Jadi, saya harus sering memberi arahan padanya dari sini," katanya.

Proses penggunaan wartelsus cukup sederhana. Warga Binaan memasukkan token, memilih nomor tujuan, dan memulai percakapan di bilik yang dilengkapi headset.

Selain panggilan suara, tersedia fitur video call melalui aplikasi, seperti WhatsApp atau Telegram.

Namun, aplikasi ini hanya dapat digunakan untuk panggilan. Tidak ada opsi pesan singkat untuk mencegah potensi penyalahgunaan.

Meski demikian, Hendra mengakui masih ada kendala teknis. "Kadang aplikasi macet, tapi token terus tersedot. Tapi, operator selalu sigap membantu menyelesaikan masalah itu," katanya. Sisa token yang tidak habis, tetap dapat dimanfaatkan untuk panggilan berikutnya.

Wartelsus di Lapas Kelas IIB Probolinggo bukan sekadar fasilitas komunikasi. Ini adalah wujud nyata dari perikemanusiaan, upaya menjaga nyala harapan di tengah keterbatasan.

Dengan fasilitas ini, para warga binaan tak hanya terhubung dengan dunia luar. Namun, juga diberikan peluang untuk memperbaiki diri dan merajut masa depan.

Di balik dinding-dinding tebal yang membatasi ruang gerak, wartelsus menjadi pengingat bahwa kemanusiaan tetap hidup.

Sebuah langkah kecil yang membawa manfaat besar, membuktikan bahwa bahkan dalam keterbatasan, masih ada ruang untuk perubahan dan harapan. (hn)

Editor : Muhammad Fahmi
#warga binaan #teknologi #lapas probolinggo #komunikasi