Muhammad Rasyid, 55, lama dikenal sebagai inisiator dan pengelola Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) di Desa Andung Biru, Kecamatan Tiris Kabupaten Probolinggo. Dengan memanfaatkan aliran listrik di sungai Pekalen, kini listrik yang dihasilkan PLTMH itu dinikmati ratusan kepala keluarga (KK)
ARIF MASHUDI, TIRIS- Radar Bromo
DESA Andung Biru, Kecamatan Tiris terletak di lereng pegunungan Argopuro, ujung wilayah selatan Kabupaten Probolinggo. Jarak yang jauh dari ibu kota kabupaten, membuat aliran listrik tidak dirasakan warga Desa Andung Biru.
Mimpi warga dapat menikmati listrik, akhirnya diwujudkan oleh Muhammad Rasyid, inisiator pembangunan PLTMH.
Dengan memanfaatkan aliran air di sungai Pekalen, Rasyid sukses membangun PLTHM dan menghasilkan listrik yang kini dinikmati ribuan warga.
Rasyid menceritakan, motivasi kuatnya membuat PLTMH berawal dari keinginannya menonton televisi. Namun, tidak ada listrik di desanya saat itu.
Hingga akhirnya pada 1993, Rasyid bermimpi membuat pembangkit listrik dengan memanfaatkan aliran air sungai Pekalen (PLTMH).
Modal Jual Perhiasan dan Sapi
Tak ada yang instan. Rasyid memulai usahanya dari nol. Ia pun terpaksa menjual sejumlah perhiasan dan sapinya sebagai modal. Uang itu lantas dimanfaatkan Rasyid untuk membuat kincir air atau baling-baling. Semua itu dilakukan, karena dia merasakan pendidikan anak-anaknya tidak bakalan maju tanpa ada listrik.
Namun, bukan perkara mudah mewujudkan keinginannya. Selain harus berusaha sendiri saat itu, warga sekitar juga menertawakan dirinya. Menganggap apa yang dilakukannya tidak masuk akal. Bahkan, dia dikatakan gila.
”Saya ditertawakan oleh warga saat awal ingin membuat pembangkit listrik dari air. Warga bilang, baling-baling kok bisa mengubah air jadi listrik. Gila Pak Rasyid itu. Tapi saya mikir harus fokus. Harus jadi dan saya buktikan,” katanya.
Saat awal berhasil membuat pembangkit listrik dari tenaga air diakui Rasyid, dirinya langsung membeli televisi 12 inch hitam putih.
Ternyata, baling-baling itu berhasil menghasilkan listrik 40 kilowatt (Kw). Dusun Sumber Kapong, Desa Andung Biru yang sebelumnya gelap gulita, akhirnya terang dengan cahaya lampu.
”Warga mulai membantu setelah terbukti air bisa menghasilkan listrik. Sampai sekarang, PLTMH itu menghasilkan listrik dan dirasakan manfaatnya oleh warga,” terangnya.
Berawal dari baling-baling itu, kini PLTMH yang diinisiasi Rasyid sudah memiliki 3 turbin pembangkit. Masing-masing turbin memiliki daya 40 kilowatt (kw) atau total sebesar 120 kw.
Turbin pertama dibangun Rasyid sendiri dan swadaya warga setempat. Kemudian turbin kedua disupport oleh PT PGN bekerja sama dengan Universitas Brawijaya Malang.
Terakhir tahun 2016 , PT. PJB UP Paiton yang kini menjadi PLN Nusantara Power UP Paiton mulai melakukan pendampingan, termasuk mengganti pipa. Tahun 2018, PLN Nusantara Power UP Paiton itu membangun satu turbin baru dengan daya 40 kw.
“PLTMH ini dikelola Kelompok Tirta Pijar Sumber Makmur. Anggotanya semua penerima manfaat listrik. Mulai dari pemeliharaan, perbaikan jaringan, sampai penagihan iuran dari Kelompok Tirta Pijar Sumber Makmur,” katanya.
Dengan tiba turbin iut, kini PLTMH dapat menerangi sekitar 600 KK. Antara lain, 300 KK di Dusun Sumberkapung, Desa Andungbiru. PLTMH tersebut juga menerangi sejumlah rumah di Dusun Tunggangan, Desa Tiris; Desa Roto dan sebagian warga Desa Sumberduren, Kecamatan Krucil.
“Saya jual murah, per kWh-nya hanya Rp 500. Jadi tiap bulan itu, tiap rumah hanya membayar iuran sekitar 15 ribu sampai Rp 20 ribu. Sekarang banyak warga yang sudah sejahtera. Pasang meteran listrik sendiri, tapi aliran listrik tetap dari PLTMH,” kata pria yang juga ketua Kelompok Tirta Pijar Sumber Makmur itu.
Uniknya, pembayaran tagihan listrik itu tidak menggunakan uang. Juga tidak harus dibayar tiap bulan. Ada warga yang membayar tahunan, hingga musiman.
Bagi warga yang tidak punya uang, diberi kemudahan membayar dengan barter hasil peternakan atau hasil bumi. Intinya, tagihan listrik dibayar fleksibel. Sehingga, tidak memberatkan masyarakat. Ada yang bayar pakai ayam, bebek, pisang, hingga beras.
“PLTMH itu juga saya gratiskan bagi 40 KK yang berada di bawah garis kemiskinan. Jadi, yang benar-benar tidak mampu. Termasuk gratis untuk lembaga pendidikan dua SD dan empat MI (Madrasah Ibtidaiyah). Juga masjid dan musala,” ungkapnya.
Semua itu dilakukan karena menurut Rasyid, pada prinsipnya membangun PLTMH ini untuk membantu sesama.
Hasil iuran atau pembayaran listrik kemudian digunakan untuk biaya operasional, beli suku cadang dan tabungan untuk keperluan PLTMH.
PLTMH sendiri sangat bergantung pada debit air. Oleh karena itu, warga setempat juga terus menjaga dan melestarikan sumber mata air agar PLTMH terus memproduksi listrik.
Salah satunya, konservasi hutan di hulu dan daerah aliran sungai. Misalnya, menanam pohon di Desa Andungbiru. Warga juga diminta menanam pohon selain sengon. Tujuannya, agar usia pohon lebih lama.
Sehingga, bisa memberikan manfaat bagi manusia, termasuk untuk menjaga ketersedian air. Sebab, Jika hutan gundul, dampaknya juga kepada manusia.
Geliatkan Usaha Kopi
Listrik dari PLTMH tidak hanya dimanfaatkan rumah-rumah. Sejak 2018, Rasyid memproduksi kopi ramah lingkungan. Kopi ini dibuat dengan memanfaatkan aliran air dari PLTMH di sungai Pekalen.
Sebab, tanaman kopi menjadi salah satu komoditas unggulan di Desa Andungbiru, Tiris. Bahkan, kini mendominasi tanaman lain yang dibudidayakan warga. Tidak hanya di perkebunan, kopi juga ditanam di kanan dan kiri jalan desa setempat.
”Robusta menjadi jenis kopi yang banyak ditanam warga. Namun, sejak beberapa tahun terakhir warga mulai membudidayakan jenis arabika. Tanaman kopi memiliki masa produktif hingga 35 tahun,” ungkap Rasyid.
Kopi robusta ini dipanen sekali dalam setahun. Yakni, mulai bulan Juli. Dalam masa panen itu, warga setempat memanen biji kopi itu sekitar 2 bulan atau hingga bulan September.
Sebelumnya, hasil panen kopi warga Desa Andungbiru dijual kepada pengepul besar. Tetapi, sejak akhir 2018, Rasyid berinisiatif mengolah kopi itu. Sehingga bernilai jual tinggi.
”Saya mengolah sendiri kopi hasil kebun. Baru kemudian menjual hasil olahannya. Kopi ini diberi nama Kopi Lang-Baling yang berasal dari kata baling-baling,” ujarnya.
Sejauh ini ada enam jenis metode pengolahan kopi yang dikembangkannya. Yakni, natural, honey, semi wash, full wash, kopi lanang, dan metode olahan wine.
Perbedaan metode pengolahan ini memengaruhi karakter rasa dan harga jual kopi. Namun, mayoritas kopi itu diolah dari kopi jenis robusta dan sebagian kecil berasal dari kopi arabika.
Roasting kopi juga terdiri dari beberapa cara, tujuannya untuk memunculkan karakter rasa kopi. Ada yang light roast, medium roast, dan dark roast. Yang terakhir ini disangrai hingga gelap, rasa kopinya agak pahit. “Tergantung pesanan atau selera penikmat kopi,” ujar pria kelahiran 1969 itu.
Semua proses itu dilakukan setelah kopi panen dari kebun. Proses awal adalah memecah kulit dalam kondisi basah dengan menggunakan mesin pulper, dilanjutkan dengan mesin washer untuk mencuci biji.
Kemudian dimasukkan pada mesin huller untuk memisahkan kulit dan biji dalam kondisi kering. Setelah melalui proses huller, biji tersebut jadi green been atau biji hijau. Semua proses itu ia lakukan dengan menggunakan mesin. Seperti halnya pada proses roasting. Energi yang digunakan juga berasal dari PLTMH.
“Setelah itu, saya sortasi untuk memilah biji. Terakhir saya roasting. Jika ada yang minta bubuk, biji yang sudah roasting itu saya blender. Saya belajar proses pengolahan ini dari orang-orang kafe yang main ke sini,” urainya.
Dirasakan Betul Manfaatnya
Johan Ulil Absor, Salah satu guru SDN Andungbiru III mengatakan, keberadaan listrik sangat penting dan dibutuhkan, apalagi untuk pendidikan.
Di sekolah tempatnya mengajar, saat ini sudah mendapatkan pasokan listrik dari pembangkit baling-baling atau PLTMH. ”Alhamdulillah sekolah digratiskan 100 persen. Bahkan, listrik bisa menyala 24 jam,” ungkap pria yang merasakan penting dan manfaatnya keberadaan listrik PLTMH itu.
Terpisah, Wiji Dwi Purbaya selaku Senior officer Kinerja SDM, umum dan CSR PLN Nusantara Power UP Paiton mengatakan, Kabupaten Probolinggo memiliki sumber daya listrik yang melimpah.
Di PLTU Paiton sendiri, PT PLN Nusantara Power UP Paiton memiliki kapasitas 1.460 megawatt.
Keberadaan PT PLN Nusantara Power UP Paiton diharapkan berperan memberikan pasokan listrik ke seluruh lapisan masyarakat, terutama yang berada di daerah pegunungan dan belum terjangkau listrik.
“Kelompok juga sudah dibekali pelatihan pengoperasian PLTHM. selain itu, mereka dibekali budaya K3 dengan menggunakan APD (alat pelindung diri) lengkap untuk melindungi diri ketika pengoperasian PLTMH," katanya.
Wiji menambahkan, dalam hitungan PLN Nusantara Power, keberadaan energi baru dan terbarukan (EBT) tersebut (PLTMH) berhasil mencegah munculnya emisi sebesar 212.341,41 ton CO2 eq per tahun. Hitungan itu diperoleh dari perbandingan jika warga setempat menggunakan diesel sebagai pembangkit listrik. “Kalau pakai PLTMH, bisa nol emisi,” katanya. (hn)
Editor : Muhammad Fahmi