Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Kerap Dibully karena dari Keluarga Tak Mampu, Mahasiswa Uinsa asal Kraksaan Ini Buktikan Diri di Ajang Pageant

Fahrizal Firmani • Kamis, 24 Oktober 2024 | 17:30 WIB
KINI PERCAYA DIRI: Sugiyanto saat menjadi wakil I Duta Fisip Uinsa.
KINI PERCAYA DIRI: Sugiyanto saat menjadi wakil I Duta Fisip Uinsa.

Terlahir dari keluarga ekonomi tidak mampu, membuat masa remaja Sugiyanto, 20, sering di-bully teman sebayanya. Bukannya sedih dan putus asa, warga asli Kota Kraksaan, Kabupaten Probolinggo ini membuktikan diri dengan sejumlah prestasi di dunia pageant yakni pertunjukan atau pameran yang terdiri dari serangkaian acara atau peserta, terutama kontes kecantikan.

FAHRIZAL FIRMANI, Pasuruan, Radar Bromo

Awal perjalanan Ugik-sapaan akrab Sugiyanto dalam dunia pageant bisa dibilang karena tidak sengaja. Tidak pernah terpikir dalam benaknya, ia terjun dalam sejumlah ajang pemilihan. Ia hanya berharap bisa kuliah dan membahagiakan orang tuanya.

Namun, banyak yang menghinanya. Terutama saat sekolah di SMK Mandiri Kraksaan. Banyak temannya yang memprediksi Ugik tidak bakalan bisa kuliah. Apalagi sukses.

Maklum, ayahnya Hafit meninggal sejak Ugik kecil. Sementara ibunya, Maryami hanyalah buruh tani. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Maryami membuka warung kecil di depan rumahnya di Kelurahan Semampir.

"Ibu saya berjualan es dan rujak. Karena ekonomi pas-pasan, banyak yang menghina saya," katanya.

BERTALENTA: Sugiyanto saat menjadi host di salah satu acara di Uinsa.
BERTALENTA: Sugiyanto saat menjadi host di salah satu acara di Uinsa.

Memang tidak sampai menyerang dirinya secara fisik, namun hinaan itu sempat membuatnya down.

Untung ibunya selalu menguatkan dan meminta agar hinaan itu bisa menjadi pelecut baginya untuk sukses.

Dari sini, keinginannya kuliah semakin menggebu. Ugik pun lulus dan diterima di UIN Sunan Ampel Surabaya (UINSA) pada 2022.

Dia bahkan mendapat uang kuliah tunggal (UKT) paling rendah. Selain itu, ia dibantu Baznas kampus untuk membayar UKT sebesar Rp 500 ribu tiap semester.

"Alhamdulillah, hanya perlu membayar UKT Rp 1 juta tiap semester. Saya juga dibantu oleh Baznas kampus setiap semester," jelasnya.

Warga Jalan Panglima Sudirman, Kraksaan ini menyebut, ia pertama kali terjun di dunia pageant pada 2022. Yaitu di ajang Pemilihan Duta Lingkungan Jawa Timur. Namun, saat itu dia hanya mencapai semifinal.

Diakuinya, ajang ini adalah yang paling berat. Sebab, itu merupakan yang pertama baginya mengikuti pemilihan duta. Namun, ia cukup puas.

Sebab, di sini Ugik bisa membuktikan bahwa jika ada kemauan, seseorang bisa sukses. Meskipun berasal dari keluarga tidak mampu.

"Saya mewakili dan membawa nama baik kampus saat pertama kali terjun. Dan lawannya dari banyak kota di Jawa Timur," tutur lelaki kelahiran September 2004 ini.

Usai mengikuti Pemilihan Duta Lingkungan Jawa Timur, ia rutin mengikuti ajang serupa. Selama dua tahun terakhir, Ugik berhasil meraih lima prestasi.

Yakni Duta Keinkraf UINSA 2022 dan Juara III Duta Genre Kabupaten Probolinggo 2023. Lalu, Juara Duta GMC Probolinggo 2023, Duta Education Parekraf Jatim 2023 dan Wakil I Duta Fisip UINSA 2024 dan Influencer.

Prestasi ini membuat banyak orang yang pernah membully dirinya mendekat padanya. Ugik pun menyambut mereka tanpa dendam sedikitpun.

"Saya ingat pesan ibu agar selalu berbuat baik. Jangan membalas atau berbuat jahat pada orang lain," katanya.

Prestasi ini juga seolah menjadi titik balik dalam hidupnya. Ia semakin dikenal dan banyak tawaran job datang. Mulai dari brand ambassador produk UMKM, MC, pemateri online, moderator hingga host acara.

Uang hadiah yang didapatkan dari ajang pageant, sebagian diberikan pada ibunya dan sebagian lagi ditabung.

Sementara uang dari hasil job dipakai untuk kebutuhan kuliah. Sebab, ia tidak ingin merepotkan ibunya. Baginya, selama ia punya uang, pantang meminta.

"Seringkali juga diminta menjadi moderator webinar nasional atau host di acara kampus. Alhamdulillah bisa buat bantu ibu," pungkas Ugik.

Menurutnya, siapapun bisa berprestasi. Berasal dari ekonomi tidak mampu, bukan menjadi halangan untuk sukses. Asalkan ada kemauan, siapapun bisa meraih apa yang diimpikan.

Di luar kesibukannya kuliah dan berorganisasi, Ugik mengaku kurang suka nongkrong. Sebab ia menilai kegiatan ngopi hanya menghambur-hamburkan uang. Alih-alih bepergian bersama teman, saat tidak ada kuliah ia lebih suka pulang membantu ibunya.

"Ibu juga sekarang sudah tidak terlalu memaksa untuk mencari uang. Kalau letih, ya tutup. Kalau ada saya, saya yang jaga warung," katanya. (hn)

Editor : Jawanto Arifin
#UINSA Surabaya #uinsa #mahasiswa #dibully #pageant #Kraksaan