Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Kondisi Pedagang Pasar Leces Setelah Sepuluh Bulan Kebakaran, Ada yang Terpaksa Anaknya Batal Lanjut Kuliah

radar bromo • Selasa, 15 Oktober 2024 | 15:00 WIB
TAK SERAMAI DULU: Lapak pedagang daging yang sederhana di Pasar Leces.
TAK SERAMAI DULU: Lapak pedagang daging yang sederhana di Pasar Leces.

Pasar Leces pernah terbakar hebat di awal Desember lalu. Hampir setahun berlalu, pedagang yang menjadi korban masih berupaya bangkit dari keterpurukan ekonomi. Terutama mereka yang mengalami kerugian besar.

 

INAYAH PUTRI MAHARANI, Leces, Radar Bromo

 

LALU lalang kendaraan Nampak riweh di Pasar Leces saat Jawa Pos Radar Bromo berkunjung ke sana di pagi hari. Transaksi jual-beli antara pedagang dan pengunjung adalah kesibukan yang wajar.

Tapi aktivitas perekonomian di sana, tentu saja tidak seramai dahulu. Banyak pedagang yang berjualan menampakkan wajah memelas karena belum sekalipun dapat penglaris. Diakui, pengunjung yang datang ke pasar tradisional ini sangat berkurang ketimbang.

Kondisi ini dirasakan Hamidah, 46, pedagang di Pasar Leces yang berjualan baju. Dia  mengaku cukup sulit keluar dari keterpurukan ekonomi yang dialaminya pasca kejadian kebakaran tahun silam.

Dia mengaku tokonya jadi sepi karena tidak banyak pilihan baju yang bisa ia jual setelah alami kerugian sekitar Rp 250 juta.

Hal ini juga berpengaruh terhadap para pelanggannya yang kabur karena sudah tidak banyak pakaian yang bisa ia jual.

“Sepi Mbak karna saya ndak bisa kulakan banyak. Sehingga saat orang tanya, selalu ndak ada. Ya ini aja adanya udah stoknya sedikit” cerita Hamidah kepada Jawa Pos Radar Bromo.

Padahal dulu, kata Hamidah, dia setiap minggu rutin kulakan baju-baju ke Surabaya. Namun sekarang ia hanya bisa kulakan lewat agen. Alasannya, dia kehabisan modal. Itulah yang membuat dagangannya minim variasi.

“Dulu selalu kulakan ke Surabaya tiap seminggu atau sepuluh hari. Semenjak kebakaran sudah ndak pernah, nunggu agen saja. Jadinya bajunya tidak banyak varian. Cuma ini-ini saja” katanya.

Hamidah mengaku, memiliki dua toko baju di pasar Leces. Namun setelah nasib malang yang menimpanya, saat ini Hamidah hanya mampu mendirikan bedak sederhana.

Tetapi dia harus tetap berjualan untuk dapat melanjutkan hidup. Kondisi ekonomi yang sulit ini berdampak pada kehidupan anaknya. Dia mengaku anaknya tidak dapat meneruskan sekolah tinggi sebab terkendala biaya.

“Dulu anak saya niatnya mau kuliah. Eh ternyata ada musibah ini jadinya batal. Ndak ada biaya. Suami saya juga sudah tidak ada. Jadi harus jualan walau sedikit begini, biar tetap makan” ujarnya.

Menurut Hamidah, pedagang yang mengalami kerugian paling besar dari musibah tersebut adalah penjual baju, seperti dirinya. Sbab masih banyak stok baju dengan modal ratusan juta hangus dalam sekejap.

Terlebih sebelum tragedi, Hamidah sempat kulakan banyak baju untuk mengisi tokonya itu.

“Modal ratusan juta itu semuanya jadi abu. Kalau kain kan memang susah diselamatkan jika kebakaran. Dan saat itu stoknya banyak,” bebernya.

Ia juga bercerita, bahwa sulit mengajukan pinjaman ke bank untuk modal untuk jualannya. Karena pihak bank takut dirinya tidak dapat membayar angsuran.

Di lain sisi, ia mengaku sungkan pinjam ke teman dan saudara di situasi ekonomi yang sulit seperti saat ini.

SEPI: Lpak penjual baju di dalam Pasar Leces.
SEPI: Lpak penjual baju di dalam Pasar Leces.

“Kalau dulu kan bisa ajukan pinjaman untuk modal kulakan. Kalau sekarang sudah tidak bisa karena mungkin khawatir saya tidak bisa bayar. Mau pinjam ke teman atau saudara ya juga sama-sama sulit sekarang ekonominya” lanjut Hamidah.

Selain Hamidah, kesulitan ekonomi pasca kebakaran juga dialami oleh Suharti, pedagang daging di Pasar Leces.

Ia mengaku trauma mengingat kejadian tersebut. Bahkan saat mendengar tokonya habis terbakar, Suharti mengaku tidak berani melihat langsung bagaimana kondisi pasar dan tokonya.

“Pas dengar kalau pasar kebakaran, saya ndak berani lihat. Di rumah saja menangis karena sudah pasti habis semua,” kenang Suharti.

Merasa enggan untuk merasa terlalu sedih, sampai saat ini Suharti tidak berani menghitung berapa banyak kerugian yang telah ia alami. Saat itu dia hanya bisa pasrah dengan keadaan.

Ndak tahu saya kerugian berapa, tapi yang pasti banyak. Sebab saya punya kulkas besar dua semua ludes tak ada sisa. Ada uang juga kalau ndak salah Rp 20 juta karena saya menaruhnya di lapak. Sudah ndak mau ngitung saya saat itu,” urainya.

Sama seperti dua pedagang lainnya, Halimah, 24 , pedagang buah, juga merasa bahwa saat ini pasar jadi sepi pembeli.

Dia mengaku pendapatannya tidak sebanyak dulu. Selain karena Pasar  Leces kondisinya tidak seperti dulu, sekarang banyak orang yang menggemari belanja lewat sistem online.

Pascakebakaran, itu hanya cerita segelintir pedagang terdampak yang memutuskan tidak lagi berjualan karena tidak ada modal. Ini turut membuat masyarakat enggan berbelanja di pasar seperti sedia kala karena sudah pasti barang dagangan tidak lengkap.

Selain itu, menurut Halimah, pedagang banyak yang pindah mencari lapak baru. Sehingga ini juga menjadi faktor masyarakat malas pergi ke pasar tradisional.

“Sudah banyak yang berhenti kan, jadi banyak yang ndak ada. Masyarakat kadang malas kalau tidak belanja di toko langganannya. Banyak yang pindah juga kadang bingung mereka. Itu juga yang buat pasar menjadi kian sepi,” jelasnya. (fun)

Editor : Fahreza Nuraga
#kebakaran #pedagang #pasar leces