Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Sulap Galon Air dengan Cara Menarik, Ini Cara Saifuddin Amrulloh Kurangi Limbah di Lingkungannya

Inneke Agustin • Senin, 7 Oktober 2024 | 22:55 WIB
MANFAATKAN LIMBAH: Saifuddin Amrulloh, 44, warga Kelurahan Ketapang, Kecamatan Kademangan, Kota Probolinggo memamerkan sejumlah lampu hias hasil karyanya yang terbuat dari galon plastik bekas.
MANFAATKAN LIMBAH: Saifuddin Amrulloh, 44, warga Kelurahan Ketapang, Kecamatan Kademangan, Kota Probolinggo memamerkan sejumlah lampu hias hasil karyanya yang terbuat dari galon plastik bekas.

GALON plastik bekas dapat menjadi limbah yang berbahaya bagi lingkungan bila tak dikelola dengan baik. Namun di tangan kreatif Saifuddin Amrulloh, 44, galon tersebut disulap secara kreatif.

Galon bekas air minum yang terbuat dari plastik membutuhkan waktu ratusan tahun untuk terurai secara alami. Limbah galon yang menumpuk bisa merusak lingkungan. Bahkan, bila dibakar bisa mencemari tanah serta air.

Saifuddin Amrulloh pun tertarik untuk memanfaatkan limbah galon air plastik ini. Warga Ketapang, Kecamatan Kademangan, Kota Probolinggo itu terketuk untuk mengurangi limbah plastik. Selain untuk memberi nilai tambah pada limbah itu dengan membuatnya menjadi lampu hias cantik.

Didin (panggilannya) mengatakan, minatnya pada bidang kesenian terasah sejak sekolah dasar (SD). Tepatnya saat ia berusia 8 tahun. Ia mulai suka menggambar kartun dan mural.

Kemahirannya semakin terasah ketika bekerja di salah satu perusahaan keramik di Kota Probolinggo. “Saat itu saya bekerja di bagian desain ukir pada keramiknya. Jadi banyak belajar dan sharing di sana,” ujarnya.

Sejak dua tahun lalu, ia mencoba keahliannya tersebut pada media berbeda. Yakni galon bekas yang disulap jadi lampu hias.

Mulanya, Didin membuat lampu hias dari galon hanya untuk kepentingan lomba kampung hias saat tujuh belasan. Namun kini, karya Didin mulai merambah ke pasaran.

Untuk membuat lampu hias itu, bahan yang perlu disiapkan adalah galon bekas yang lunak. Sehingga, mudah dalam proses pemotongannya. Didin biasanya memperoleh bahan tersebut dari tukang loak di sekitar rumahnya dengan harga Rp 5 ribu per galon.

“Dulu harganya masih Rp 2 ribu per galon. Tapi berangsur naik seiring banyaknya permintaan sepertinya,” katanya.

Sebelum dipotong, pola terlebih dahulu digambar menggunakan spidol pada permukaan galon. Ia memastikan seluruh bagian galon dapat dimanfaatkan secara maksimal, hingga tak banyak membuang sisa.

“Baru kemudian dipotong menggunakan bantuan solder. Sebab kalau menggunakan gunting akan lebih sulit menusuknya, lebih nyaman pakai solder. Hasilnya pun lebih rapi dan halus,” tuturnya.

Sementara untuk proses perangkaian satu bagian dengan bagian lain, Didin tetap menggunakan bahan dasar galon. Ia tak menggunakan lem tembak, karena menurutnya lem tembak memiliki daya rekat yang lebih rendah ketimbang bila menggunakan galon.

“Sisa potongan galon masih bisa dimanfaatkan untuk lem. Caranya dengan memanaskan potongan tersebut dengan solder. Kemudian dituangkan ke sambungan antar bagian. Itu lebih kuat daripada menggunakan lem tembak,” kata pria yang juga Ketua RT 5/RW 02 Kelurahan Ketapang tersebut.

Sementara untuk proses pewarnaan, Didin lebih mengandalkan teknik paint brush daripada teknik kuas. Ini agar hasil pewarnaan lebih merata dan halus, serta lebih hemat cat.

Ia mewarnai tiap bagian lampu hias tersebut dengan warna-warna cerah menyerupai warna sebuah tanaman. Setelah bentuk bunga jadi, Didin menambahkan beberapa daun sebagai pemanis.

“Agar lebih realistis lagi, daun bisa dibuat bergelombang. Caranya mudah, hanya dengan mendekatkan mata solder saja nanti plastiknya akan bergelombang,” katanya.

Tak lupa ia juga membuatkan bunga tersebut pot yang juga terbuat dari galon plastik bekas. Kemudian bunga tersebut dipasangi tiang penyangga yang terbuat dari bahan paralon. Paralon ini berfungsi ganda, juga dimanfaatkan sebagai jalur instalasi listrik untuk lampu.

“Warna dan jenis lampu bisa disesuaikan dengan keinginan konsumen. Bisa merah, kuning atau warna lainnya. Sementara jenis lampu bisa menyesuaikan dengan tujuan. Kalau diletakkkan di luar ruangan, bisa menggunakan lampu outdoor atau tenaga surya yang lebih tahan terhadap cuaca,” jelasnya.

Lampu ini dapat menjadi pilihan bagi mereka yang ingin mempercantik ruangan atau taman, tanpa harus pusing cara perawatannya. Didin mengatakan untuk merawat lampu hias tersebut bisa hanya dengan cara dilap tanpa perlu dicuci.

Satu lampu hias tersebut dapat ia selesaikan dalam waktu 6 jam hingga satu hari penuh. Tergantung tingkat kesulitan. Walau demikian, Didin mengaku belum pernah menjumpai kesulitan yang berarti.

“Mungkin hanya kendala pada alat-alat yang terbatas saja. Tapi nantinya akan terus saya up grade. Termasuk dari motif. Kalau sekarang hanya fokus pada bunga, ke depan akan coba bikin motif hewan seperti burung,” tuturnya.

Didin pun rajin memperkenalkan karyanya dengan mengunggahnya di sosial media. Tak heran, karyana itu mulai dikenal warga Kota Probolinggo hingga pesanan terus mengalir.

Didin membanderol karyanya tersebut dengan harga relatif terjangkau. Mulai Rp 75 ribu hingga Rp 100 ribu bagi bunga tanpa lampu. Sementara yang menggunakan lampu dibanderol mulai Rp 125 ribu hingga Rp 150 ribu. (gus/hn)

Editor : Jawanto Arifin
#daur ulang #lampu hias #galon air #Kota Probolinggo #limbah #sampah plastik