Di tangan Arie Palupi, kain perca bisa menjadi benda yang lebih ekonomis. Berbagai kerajinan dan aksesoris tercipta dari sisa potongan kain ini. Karya wanita asal warga Bangil, Kabupaten Pasuruan pernah dibeli dan dibawa ke Amerika Serikat sebagai oleh oleh.
FAHRIZAL FIRMANI, Pasuruan, Radar Bromo
Pembuatan handmade menggunakan kain perca berawal dari komunitas mengelola perca yang diikutinya.
Dari komunitas ini, ia diajari cara memanfaatkan kain perca dari berbagai ukuran. Keahlian yang didapatkannya ini ditekuni sampai sekarang.
Kain perca yang diolah bervariasi mulai dari satu sentimeter hingga sampai berukuran lembaran.
Kain sisa ini diperoleh dari sisa kain penjahit di Pasuruan. Rata-rata diberi cuma-cuma. Sebab kain ini tidak bisa terurai.
"Daripada tidak terpakai dan harus dibakar yang membuat polusi, kan lebih baik diolah menjadi lebih berguna," kata Arie.
Pembuatan handamade dari kain perca bisa dibilang perlu ketelatenan. Caranya, kain perca dipotong sesuai ukuran dan bentuk yang dibutuhkan. Lalu, tinggal jahit sesuai pola yang diiinginkan. Agar hasil lebih bagus digabungkan dengan kain lain.
"Yang bagus jika bisa digabungkan dengan kain tenun atau batik tulis. Namun harganya memang lebih mahal dengan yang bukan dari jenis itu," terang ibu satu anak ini.
Namun ada pula yang beli. Untuk satu kilogramnya dibeli dengan harga Rp 10 ribu. Dari kain perca, ia membuat sejumlah handmade seperti tas punggung, tas jinjing hingga aksesoris seperti bros, hiasan dan path work.
Meski begitu, setiap handmade yang dibuat tidak semuanya berbahan perca. Adapula yang innernya menggunakan kain utuh lain jenis suede dan katun. Tujuannya agar handmade yang diperoleh menjadi lebih bagus.
"Contoh yang bagus jika tidak full perca adalah tas punggung dan tas jinjing. Harga jualnya lebih tinggi," kata perempuan kelahiran Februari 1971 ini.
Lama pembuatan handmade ini bervariasi. Tergantung kesulitan dalam polanya. Satu tas bisa membutuhkan waktu dua hari. Sementara pembuatan dompet bisa lebih cepat yakni satu hari. Jika memesan jumlah banyak, pembeli sebaiknya memesan satu hingga dua pekan sebelumnya.
Handmade yang bisa dibuat dari full perca adalah selimut. Harga untuk handmade seperti tas beragam mulai dari Rp 150 ribu sampai Rp 550 ribu. Sementara handmade jenis dompet dijual mulai dari Rp 50 ribu sampai Rp 100 ribu.
Karyanya paling sering dipesan untuk suvenir dalam sebuah workshop. Pernah juga dipesan oleh Pemkab Pasuruan.
Saat itu ia dimnta membuat tas jinjing untuk diklat. Ia mendapatkan pesanan hingga 60 buah. Pernah juga ia membuat tempat tisue hingga 800 buah.
Sebagai promosi, Ari Palupi tentu juga memiliki harga khusus bagi pembeli jika pesan dalam jumlah banyak. Yang paling diingat, karya tas miliknya yang dipesan dan dibawa ke Amerika Serikat pada 2018. Saat itu ia mendapatkan pesanan 25 tas oleh warga Indonesia yang tinggal di Amerika untuk oleh oleh teman kantornya.
Ia berharap brand miliknya yang diberi nama sesuai dengan nama anaknya ini, Tsabitah Djodi itu bisa terus berkembang. Sebagai umkm asal Pasuruan, rata rata pesanan yang diterima oleh nya setiap bulan bisa mencapai 60 buah. Paling banyak dipesan tas atau clucth.
"Waktu itu pesannya langsung ke saya. Jadi kami siapkan barangnya, lalu pembelinya bawa ke sana," tutur istri dari Djodi Satriyo ini.
Hingga kini Ari Palupi tetap membuat handmade karin perca ini. Selagi bernilai ekonomis, Ari tak akan berhenti memproduksi. (fun)
Editor : Jawanto Arifin