Tiga dari 10 atlet catur Kabupaten Probolinggo menyabet medali perak dalam ajang Kejurprov Jawa Timur, Juli lalu di Blitar. Ketiganya pun berhak atas tiket Kejuaraan Nasional (Kejurnas). Ketiganya masih belia. Namun, Nares Wari Ratu Mulyasari adalah yang termuda. Baru 7 tahun.
Nares Wari Ratu Mulyasari memang baru berusia 7 tahun. Namun, dia sudah menjadi atlet catur kelas nasional. Tidak heran. Sejak berusia 6 tahun, Ratu (panggilannya) sudah dikenalkan pada catur oleh ibunya, Unun Ernawati, 37. Perkenalan itu ibarat latihan pertama bagi Ratu.
“Sejak TK, ibunya sudah mengenalkan catur. Diberi tahu langkah-langkah dasar catur. Kalau benteng langkahnya seperti ini. Gajah, seperti ini. Kuda seperti ini,” kata Ahmad Mulyono, 50, ayah Ratu.
Cara itu dilakukan agar Ratu kenal dan menyukai catur. Hasilnya, ternyata Ratu benar-benar menyukai catur. Bahkan, kemudian Ratu terus mempelajari catur.
“Awalnya diajarkan dasar-dasarnya saja. Ternyata Ratu benar-benar suka. Setelah kami perhatikan, dia juga memiliki potensi,” kata PNS yang bertugas di Dinas Pertanian Kabupaten Probolinggo ini.
Dari sanalah, suami-istri yang berasal dari Desa Bulujaran Lor, Kecamatan Tegalsiwalan, ini memutuskan untuk mengasah kemampuan Ratu. Mereka pun mendaftarkan Ratu ke Sekolah Catur Bromo (SCB) di Desa Klaseman, Kecamatan Gending.
Setelah beberapa lama latihan, Ratu mendapat kesempatan terjun menjadi atlet profesional di bawah naungan Percasi Kabupaten Probolinggo. Pada Juli, saat usianya 7 tahun, Ratu mewakili Kabupaten Probolinggo turun di ajang Kejurprov Jatim di Blitar.
Keikutsertaan pertamanya itu langsung berbuah manis. Siswi kelas 1 SD Taruna Leces itu menyabet medali perak di kelas U-7.
“Juara dua. Tidak takut (saat bertanding, Red),” kata Ratu sembari meremas jari-jarinya.
Gadis yang memiliki rambut tak sampai sebahu ini menceritakan, salah satu motivasinya bermain catur tidak hanya datang dari sang ibu. Namun, juga dari sang kakak, Narayana Mulya Wicaksana, 12.
Narayana memang juga atlet catur. Dia bahkan juga turun di ajang Kejurprov Jatim di Blitar. Turun di kelas U-13, Rayan (panggilannya) juga berhasil meraih medali petak.
“Kalau kakak ikut lomba, aku juga ikut. Dapat trofi, medali, saya ikut foto,” katanya.
Sebagai atlet cilik, Ratu dikenal memiliki mental baja. Latihan yang dilakukannya tidak hanya di SCB. Sama seperti kakaknya, Ratu dilatih oleh orang tuanya. bermain dengan para pecatur di warung-warung kopi di area Kabupaten Probolinggo.
Tentu bukan dengan sebayanya, namun dengan bapak-bapak yang biasa nongkrong sembari nyekak. Tujuannya tidak lain untuk melatih mental dan jam terbang keduanya. “Sama bapak-bapak yang rokokan itu mainnya,” kata Ratu.
Kakak beradik ini bahkan sama-sama punya cita-cita menjadi Grandmaster (GM) catur. “Ingin jadi WGM (Women Grandmaster). Soalnya sudah suka sama catur,” kata Ratu menjawab dengan lantang.
Selain kakak beradik ini, atlet yang juga mendapat medali perak pada Kejurprov Jatim ialah Indah Nurul Laili. Remaja asal Desa Pendil, Kecamatan Banyuanyar, itu turun di kelas U-18.
Laili (sapaannya) mengenal catur sejak kelas 2 SD. Lingkungan keluarga yang memang suka bermain catur, memotivasinya untuk menjadi seorang atlet catur profesional.
“Kakek, ayah, semuanya suka catur. Awalnya dikenalkan catur oleh kakek (Mustofa, red). Sering dulu main sama kakek. Sekarang sudah jarang, karena sudah sepuh. Sudah umur 73,” terang mahasiswi UINHAS Jember ini.
Tidak hanya itu. Laili memilih catur karena memberi tantangan tersendiri. Terlebih catur perlu pemikiran cemerlang dan matang, setiap langkah harus diambil dengan penuh pertimbangan.
“Kondisi fisik juga mpengaruhi pikiran agar fokus. Pikiran harus main, fisik juga perlu dijaga. Inginnya sih jadi WGM,” katanya.
Dengan bekal medali perak, ketiga atlet itu berhak atas tiket Kejurnas yang akan digelar November Mendatang. Ketiganya pun lantang menargetkan dapat medali emas.
“Emas dong. Yakin,” kata ketiganya hampir bersamaan saat ditemui di Gedung Sasana Krida.
Keyakinan ini juga kuat dirasakan oleh Ketua Percasi Kabupaten Probolinggo Andi Suryanto Wibowo. “Yakin emas karena ketiganya memiliki potensi besar. Lawan yang perlu diwaspadai memang ada, seperti Jakarta. Tapi, kami target dan yakin dapat emas di Kejurnas,” kata pria yang juga ketua DPRD Kabupaten Probolinggo ini.
Mulyono, ayah Ratu memberi tip keberhasilan membawa kedua anaknya berprestasi. Tidak hanya melalui dukungan moral dan materi. Namun, juga ditirakati.
“Orang tua harus kompak untuk mendukung anak. Lalu setiap pertandingan sama ibunya ditirakati. Misalnya delapan hari bertanding, pasti ibunya puasa delapan hari. Tidak lupa, makanannya harus tinggi protein,” ujarnya. (mu/hn)
Editor : Achmad Syaifudin