SEKAWAN anak muda di Bangil, Kabupaten Pasuruan, mendirikan Komunitas Lingkaran Kolaborasi. Sebuah wadah bagi para pecinta seni untuk berkarya dan berkolaborasi. Khususnya kalangan pelajar dan mahasiswa.
Di tengah lampu temaram Long Cafe di Kelurahan Dermo, Kecamatan Bangil, puluhan peserta tampak asyik menarikan kuas di atas kanvas.
Menuangkan ide dan imajinasi ke dalam karya seni dalam kegiatan KolaborAksi #1. Kegiatan melukis bersama sekaligus wadah bagi para pecinta seni untuk berkumpul, berkreasi, dan saling menginspirasi yang diinisiasi Komunitas Lingkaran Kolaborasi.
Tidak ada batasan gaya atau teknik. Dengan mengusung tema “Ekspresikan Liarmu,” Komunitas Lingkaran Kolaborasi mengajak para peserta dari berbagai usia melukis bersama dengan bebas.
Mulai anak-anak TK, pelajar, mahasiswa, hingga orang tua saling menunjukkan karyanya.
Ada yang melukis pemandangan alam, potret diri, abstrak, hingga cerita fantasi. Setiap karya mencerminkan kepribadian dan perspektif unik dari masing-masing peserta.
Della, salah satu peserta dari Kedungboto, cukup antusias mengikuti KolaborAksi #1.
“Saya sendiri ingin menggambarkan seseorang yang sedang bergelut dengan dunia spiritual,” katanya.
Konsep unik KolaborAksi #1 ini tidak hanya berlangsung satu hari. Tetapi, para peserta diberi waktu sepekan untuk menyelesaikan karyanya.
Karya-karya ini kemudian dikumpulkan dan didokumentasikan untuk dipamerkan kepada publik.
Komunitas Lingkaran Kolaborasi, dibentuk sekawan pemuda di Bangil. Mereka punya frekuensi yang sama untuk melestarikan seni dan budaya lokal di kalangan pemuda Bangil dan sekitarnya.
Berawal dari keresahan tentang semakin pudarnya apresiasi seni di Ibu Kota Kabupaten Pasuruan, Shofi Maulidi dan Mochammad Abiyyu Syah Nabil, menginisiasi Lingkaran Kolaborasi pada 2022.
“Pandangan sebagian anak muda tentang seni masih belum terdefinisikan dengan jelas. Namun, sebenarnya mereka memiliki potensi yang otentik untuk bisa dikembangkan,” kata Mochammad Abiyyu Syah Nabil.
Lingkaran Kolaborasi menjadi wadah bagi para pelajar dan mahasiswa di Bangil untuk menuangkan kreativitasnya.
Komunitas ini terkenal dengan pameran seni yang diadakan secara berkala.
Menampilkan berbagai karya seni dua dimensi, tiga dimensi, serta pertunjukan seni, seperti puisi, monolog akustik, musik, dan tari.
Abiyyu Syah Nabil mengatakan, visi Lingkaran Kolaborasi, tidak hanya berhenti pada pameran seni. Mereka ingin menjadi wadah yang mendukung dan membentuk potensi pemuda di bidang seni dan budaya.
“Kami juga ingin memberi wadah yang edukatif dan apresiatif dalam mengupayakan pelestarian seni dan budaya,” ujar pemuda yang biasa disapa Blek itu di sela-sela kegiatan KolaborAksi #1, Sabtu (6/7) malam.
Menariknya, komunitas ini hidup seperti namanya. Penuh semangat kolaborasi.
Menjalin kerja sama dengan berbagai seniman dan organisasi seni di Pasuruan, untuk memperluas jangkauan dan memperkaya kegiatan komunitas.
Semangat itu pula yang sanggup mengatasi perjalanan Lingkaran Kolaborasi yang tidak selalu mulus. Misalnya kendala finansial yang selalu menjadi tantangan utama.
Semangat mereka tidak pernah padam. Komunitas ini mengumpulkan dana kolektif dan sponsorship. Serta, membuka ruang bagi volunteer dan panitia untuk setiap event.
“Kami tidak ingin persoalan finansial ini kemudian membelenggu kreativitas. Makanya, kami juga buat dana hasil penjualan merchandise dan karya untuk menghidupkan komunitas,” ujarnya.
Bagi para anggotanya, Lingkaran Kolaborasi bukan hanya komunitas seni, tetapi juga keluarga kedua. Di sini, mereka dapat meningkatkan produktivitas, menambah wawasan kesenian, mendapatkan pengalaman dalam kerja tim, dan membangun relasi baru.
Banyak momen berkesan dalam perjalanan Lingkaran Kolaborasi. Salah satunya kekompakan dan kebersamaan anggota dalam setiap kegiatan.
“Hampir semuanya berkesan. Karena banyak tingkah laku ataupun hal-hal yang random dari teman-teman, sehingga sulit untuk melupakan hal-hal kecil,” ujar Blek.
Blek berharap seluruh komunitas seni di Bangil, bisa berkolaborasi dan saling mendukung. “Kami ingin membangun ekosistem ekonomi kreatif yang bermanfaat bagi masyarakat,” ujarnya. (tom/rud)
Editor : Jawanto Arifin