MUHAMAD BUSTHOMI, Bangil, Radar Bromo
Kesan sederhana mungkin terlihat saat akan pertama kali menjumpai robot yang dipertandingkan M. Syifaul Qolbi, M. Nasirudin, Akhmad Rikhan Al Zidan, dan M. Ravy Habibi, dalam Piala Ketua MPR, pertengahan Mei lalu.
Tapi di balik tampilan yang apa adanya itu, justru ada program dan kalibrasi sensor yang akurat. Buktinya, robot buatan mereka keluar sebagai yang terbaik.
Tidak hanya menunjukkan kecepatannya, robot buatan mereka juga mampu menaklukkan setiap rintangan di lintasan. Di samping kecepatannya yang melesat sejauh 0,8 meter dalam setiap detiknya belokan tajam dan tanjakan curam pun dilibas.
Perjalanan mereka dimulai, kira-kira sebulan yang lalu, ketika informasi mengenai lomba robotik tingkat nasional dengan Piala Ketua MPR RI sebagai hadiahnya, sampai ke telinga mereka.
Setelah mendapatkan dukungan penuh dari guru dan kepala sekolah, mereka mulai melakukan riset intensif.
”Karena memang kategori yang dilombakan lline follower, maka sasarannya adalah menciptakan robot line follower mikro yang tidak hanya cepat tetapi juga tangguh dalam menghadapi berbagai rintangan di lintasan,” kata Akhmad Rikhan Al Zidan.
Di sebuah ruangan laboratorium di sudut Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Pasuruan, sekelompok siswa itu bergulat dengan kode-kode bahasa pemrograman, rangkaian kabel, sensor, dan komponen elektronik lain. Robot line follower ini dirancang untuk mengikuti garis yang telah ditentukan. ”Kuncinya, kecepatan dan ketepatan,” katanya.
Untuk mencapai hal tersebut, mereka memilih menggunakan komponen mikro kontroler ESP32 yang dikendalikan dengan platform Arduino. Pilihan ini memang menambah tingkat kesulitan dan kompleksitas pada pemrograman. Tetapi memberi mereka fleksibilitas dan kontrol lebih besar terhadap robot yang dibuat.
”Menggunakan ESP32 membuat kami bisa lebih leluasa dalam memprogram robot, meskipun membutuhkan waktu lebih lama untuk belajar dan menyesuaikan,” sambung M. Nasirudin.
Riset dilakukan hampir sebulan penuh, dengan dua pekan terakhir dihabiskan untuk mempercepat penyempurnaan program. Bahkan, setelah proses perakitan tuntas, mereka mencetak sendiri trace lintasan menggunakan triplek dan kayu balok.
Sebab setiap robot line follower memang perlu arena khusus untuk simulasi. ”Meskipun hasilnya tidak seakurat dan sehalus trace yang disediakan panitia lomba,” tambah Nasirudin.
Proses uji coba itu sendiri jugatidak selalu berjalan mulus. Ada kalanya sensor tidak berfungsi dengan baik, atau robot kehilangan stabilitas saat menghadapi tanjakan dan belokan tajam.
Namun, semangat mereka tidak pernah surut. Dengan sensor sebanyak 16 unit yang terpasang pada robot, mereka terus melakukan kalibrasi dan penyesuaian untuk memastikan robot dapat mengikuti garis dengan akurat. Dan yang terpenting tetap stabil melintasi berbagai rintangan.
”Menguji robot di arena yang kami buat sendiri memang membantu, tetapi tetap saja trace panitia berbeda, dan itu menambah tantangan tersendiri,” ungkap M. Syifaul Qolbi.
Hingga tibalah hari yang dinanti-nanti, kompetisi dihelat di GOR Padepokan Pencak Silat TMII, Jakarta Timur dengan dihadiri oleh peserta dari seluruh Indonesia. Peserta lain datang dari berbagai latar belakang, mulai dari siswa SMA hingga mahasiswa, yang semuanya membawa robot andalan mereka. Persaingan pun menjadi sangat ketat.
Sesi pertama adalah pengenalan arena. Setiap tim diberikan waktu 10 menit untuk menyesuaikan program robot mereka dengan kondisi lintasan yang baru. Tim dari MAN 1 Pasuruan segera menyadari ada perubahan signifikan. Terutama pada tanjakan yang sebelumnya setinggi 25 sentimeter, kini hanya setinggi 10 sentimeter.
Begitu juga dengan rintangan jembatan dengan ketinggian setengah meter yang harus dilalui robot.
”Perubahan ini menuntut kami untuk segera merombak program robot di lokasi. Kami hanya punya waktu sedikit untuk melakukan trial,” ujar Qolbi.
Ketika pertandingan dimulai, ketegangan terasa di udara. Tim MAN 1 Pasuruan, yang dibagi menjadi dua tim dengan nama Tim A (M. Syifaul Qolbi dan M. Nasirudin) dan Tim B (Akhmad Rikhan Al Zidan dan M. Ravy Habibi), mempersiapkan robot mereka di garis start. Tim A menjadi yang pertama maju. Robot mereka melesat dengan kecepatan tinggi, mengikuti garis dengan akurat meskipun lintasan penuh dengan belokan tajam dan tanjakan curam.
Hanya dalam waktu 12 detik, robot berhasil mencapai garis finis, menyelesaikan lintasan sepanjang lebih dari 10 meter dengan presisi yang luar biasa. Tepuk tangan bergemuruh ketika Tim A menyelesaikan lintasan.
Namun, persaingan belum selesai. Tim B harus menunjukkan kemampuan mereka berikutnya. Robot Tim B juga tidak kalah tangguh. Dengan kecepatan dan ketepatan yang serupa, robot mereka melibas lintasan dalam waktu yang hampir sama.
”Selisihnya hanya sepersekian detik,” kata M. Ravy Habibi.
Setelah semua tim menyelesaikan sesi mereka, dewan juri mengumumkan hasilnya. Juara pertama diraih oleh Tim A dari MAN 1 Pasuruan dengan waktu 12 detik, disusul oleh Tim B yang juga dari MAN 1 Pasuruan di posisi kedua, hanya selisih beberapa detik. Sedangkan jarak tempuh robot buatan tim yang menempati juara 3, mencapai 13,5 detik.
Setelah kemenangan ini, keempat siswa tersebut tidak ingin berhenti. Mereka berencana untuk terus mengembangkan kemampuan mereka dalam bidang robotik. Salah satu rencana mereka adalah menambahkan fitur-fitur canggih pada robot.
Sekarang saja, robot itu sudah punya kemampuan transfer data menggunakan Wi-Fi. Bahkan fitur Bluetooth yang tersedia bisa dikembangkan dengan menambahkan remote control.
Mereka ingin menjadikan kemenangan itu sebagai batu loncatan untuk membuat proyek robotik yang lebih besar.
”Bisa juga pengembangan mekanisme capit yang dapat dioperasikan dari jarak jauh. Sehingga bisa dipakai untuk mengambil barang,” imbuh Ravy.
Kepala MAN 1 Pasuruan Nasrudin mengatakan, prestasi yang diraih oleh siswa-siswanya menjadi inspirasi bagi siswa yang lain. Prestasi gemilang ini bukan hanya kemenangan bagi sekolah mereka, tetapi juga menjadi bukti bahwa kerja keras, inovasi, dan kolaborasi adalah kunci utama kesuksesan.
”Kemenangan ini membuktikan bahwa dengan tekad dan kerja keras, siswa kami bisa bersaing di tingkat nasional dan bahkan internasional. Kami akan terus mendukung mereka dalam setiap langkahnya,” kata Nasrudin.
Ia mengatakan, kompetisi ini bukan sekadar ajang pameran teknologi. Tetapi juga tantangan bagi para siswa untuk menunjukkan kecerdasan dan kreativitas mereka dalam merancang dan mengoperasikan robot. Karena itu ia bersyukur atas prestasi gemilang di bidang robotik yang tetap dipertahankan setiap tahunnya.
”Kami sangat bangga dan bersyukur atas hasil ini. Tentunya madrasah juga akan mendorong prestasi-prestasi di bidang lain sesuai passion anak-anak,” ungkap dia. (fun)
Editor : Abdul Wahid