Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Hidupkan Kecintaan dan Kepedulian Kaum Muda Probolinggo pada Sektor Pertanian, Rintis Warung Mlidjo

Inneke Agustin • Selasa, 4 Juni 2024 | 14:43 WIB
MELAYANI: Mochammad Angga Alfinur Quraen, 26, (kaos hitam) melayani pembeli di Warung Mlidjo, Kelurahan Jrebeng Lor, Kecamatan Kedopok, Kota Probolinggo.
MELAYANI: Mochammad Angga Alfinur Quraen, 26, (kaos hitam) melayani pembeli di Warung Mlidjo, Kelurahan Jrebeng Lor, Kecamatan Kedopok, Kota Probolinggo.

Semakin berkurangnya minat anak muda terhadap pertanian menbuat Mochammad Angga Alfinur Quraen, 26, terpanggil melakukan perubahan. Warga Kelurahan Jrebeng Lor, Kecamatan Kedopok, Kota Probolinggo itu merintis inovasi usaha mlijo di Kota Probolinggo dari hasil bertani.

Mochammad Angga Alfinur Quraen, 26, memberi nama usaha mlijo yang dirintisnya dengan sebutan Warung Mlidjo. Tak sendiri, dia ditemani rekannya, Muhammad Fajar Septian.

Kata mlidjo sendiri diambil dari bahasa Jawa mlijo yang dipakai untuk menyebut pedagang sayur keliling.

Namun mlijo yang diinisiasi oleh Angga ini sedikit berbeda. Ia memadukan nuansa tradisional dengan sistem modern di dalamnya.

“Jadi bangunannya kami buat dari full anyaman bambu dan kayu. Sehingga, terkesan tradisional dan merakyat. Lalu, kami beri nama ini warung Mlidjo agar lebih akrab dnegan pembeli. Sementara sistem belanjanya kami desain ala-ala swalayan,” katanya.

Warung Mlidjo milik Angga ini memiliki tampilan yang memikat. Berbeda dengan mlijo pada umumnya, Angga menyediakan keranjang plastik layaknya supermarket.

Keranjang tersebut tertata rapi di pintu masuk utama warung.  Tujuannya untuk mempermudah pembeli membawa barang bawaannya.

Sedangkan sayurannya tertata rapi di rak-rak plastik. Ada pula yang dimasukkan ke dalam lemari pendingin.

“Jadi pembeli bebas memilih sayuran atau bahan makanan, seperti ikan, tahu, atau frozen food. Setelah itu bisa langsung bayar di kasir. Kami bahkan menerima sistem pembayaran menggunakan digital,” jelasnya.

Tak hanya menyediakan sayuran-sayuran umum, Angga juga menyediakan sayuran yang tidak banyak dijumpai di pasaran. Seperti lemon, kubis ungu, brokoli, paprika, jamur kancing, baby buncis, dan lain-lain.

“Ini kami bawa dari berbagai macam daerah. Ada yang dari pegunungan di Probolinggo, seperti Tiris dan Krucil. Ada juga yang dari luar kota, seperti Malang. Semuanya kami ambil langsung dari petani,” katanya.

Angga sendiri tidak serta merta menjual sayuran. Dia lebih dulu mempelajari karakteristik tiap sayuran dari masing-masing daerah. Dari sini, otomatis dia dituntut belajar hal-hal yang sifatnya khusus.

“Misalnya cabai dari pegunungan punya ketahanan sekian hari. Dibandingkan cabai dari daerah seperti Kota Probolinggo, ternyata jauh lebih lama masa simpannya. Sebab, cabai dari pegunungan memiliki kadar air lebih banyak,” tuturnya.

Angga berupaya menyediakan sayuran segar dan berkualitas pada konsumen, senada dengan slogan dari warung mlijonya.

Sehingga, managemen stok berperan penting dalam menjalani usaha tersebut. Termasuk perlakuan bagi tiap sayuran yang berbeda-beda.

“Kami harus terus belajar bagaimana cara agar sayuran tetap segar. Salah satunya dengan cara wrapping yang efektif memperlambat pembusukan,” katanya.

Melalui inovasi mlijo ini, Angga meyakini bahwa pertanian menjadi fondasi penting bagi kehidupan dan kesejahteraan masyarakat, terutama Kota Probolinggo. Sehingga, generasi muda dapat kembali mencintai dan menghargai sektor pertanian.

Di warung ini dia memperkenalkan, bahwa aneka sayuran dan buah yang dijualnya dia beli langsung dari petani. Dengan cara itu dia berharap bisa turut mendukung sektor pertanian.

Bahkan ke depan ia berencana menjadikan lahan belakang warung sebagai sarana edukasi bagi siswa sekolah. Saat ini pun ia telah memanfaatkannya sebagai lokasi bercocok tanam dari berbagai varian tanaman.

Inovasi mlijo yang dilakukan Angga ini juga disambut antusias masyarakat sekitar. Warung tersebut bahkan tak pernah sepi pengunjung.

Kebanyakan didominasi ibu-ibu yang berbelanja di pagi ataupun sore hari. Bahkan dalam sehari Angga mengaku mendapat omset kurang lebih Rp 1 juta.

“Kami terus mengenalkan mlijo ini ke masyarakat luas melalui media online. Kami juga sharingdengan para pembeli. Dari mereka kami juga menerima banyak masukan. Contohnya buah yang banyak dicari untuk keperluan diet dan masih banyak lainnya,” katanya.

Tak hanya itu, Angga juga menyediakan layanan sistem pesan antar untuk memudahkan pelanggan yang tidak sempat datang ke warungnya. Namun, dikhususnya warga Kota Probolinggo dulu.

“Macam-macam pesanannya. Pembayarannya bisa sistem cash on delivery (COD), tanpa ongkos kirim,” tutur Abdul Ghofur, 45, pengantar sayuran.

Ghofur juga mengatakan bahwa terkadang ada beberapa kendala yang ia jumpai di lapangan. Namun, sejauh ini layanan mlijo itu disukai ibu-ibu. (hn)

Editor : Achmad Syaifudin
#Kota Probolinggo #Warung mlijo