Gadis asal Dusun Sukun, Desa Sumbergedang, Kecamatan Pandaan, ini merupakan salah satu penari profesional di Kabupaten Pasuruan. Meski kenyang dengan pementasan dan lomba menari, Dewi Sukma Wardhani Aulia tetap berlatih menari hingga kini. Obsesinya, mengembangkan seni tari lebih maju lagi di Kabupaten Pasuruan.
Menari dan dunia tari sudah mendarah daging bagi Dewi Sukma Wardani Aulia, 23. Sejak kelas VI sekolah dasar (SD), dia mulai berlatih tari.
Hingga kini, Sukma–panggilannya–masih menggeluti dunia tari. Dia menjadi guru tari untuk kegiatan ekstrakurikuler tari di SDN Ngadimulyo, Kecamatan Sukorejo dan SMA Ma’arif Pandaan. Juga mengajar menari di Sanggar Tari Sekar Arum Kinanti Pandaan dan Sanggar Tari Senggono di Desa Karangrejo, Kecamatan Gempol.
“Alhamdulillah, sampai sekarang masih aktif menari. Termasuk menjadi guru tari, Sama-sama jalan,” ucap alumni SMAN 1 Pandaan ini.
Orang tua Sukma yaitu almarhum Sigit Wahyudi Purnomo dan Umi Fitria, sebenarnya bukan seniman. Tidak ada keluarganya juga yang menggeluti dunia tari. Ayahnya pekerja swasta dan ibunya mengurus rumah.
Namun, bakat menari Sukma terlihat sejak kelas VI SD. Saat itu, Sukma diajak teman-temannya berlatih tari di Kasri, Kecamatan Pandaan.
Seorang warga sekitar yaitu Mbah Santoso, melihat Sukma berbakat menari. Dia lantasmendaftarkan Sukma berlatih tari di sanggar tari milik almarhum Ki Kunto Wibisono di Kasri.
Di sanggar inilah Sukma lantas berlatih tari secara rutin. Dan sejak saat itu pula, dia aktif ikut pementasan tari. Termasuk mengikuti beberapa event lomba tari. Mulai tingkat kabupaten hingga provinsi. Bahkan, beberapa di antaranya menjadi juara.
“Waktu SMA, paling aktif mengikuti pementasan tari dan lomba-lomba. Tahun 2018 misalnya, tampil menari di TMII Jakarta mewakili Kabupaten Pasuruan. Serta tampil di TCW Pandaan pada 2019,” ungkapnya.
Memasuki SMA, Sukma menjadi guru tari di sanggar tari milik Yani di Dusun Kemisik, Desa Sumbergedang, Kecamatan Pandaan.
Bagi Sukma, menari lebih dari sekadar hobi. Namun, sudah menjadi bagian dari hidupnya. Tak heran, Sukma terus berlatih tari hingga kini.
“Selain mengajar tari, saya tetap aktif latihan menari. Kadang dapat job menari di acara hajatan, expo wedding, dan lain-lain,” bebernya.
Menurutnya, menari bukan sekadar sebuah gerakan. Tiap gerakannya mengandung makna tersendiri. Menari juga bisa mengekspresikan penari itu sendiri.
Gerakan tari pun beragam. Ada yang pelan, ada juga yang cepat. Ada yang berpower atau berenergi, ada juga yang santai.
Bagi penari sendiri, penting menghayati setiap gerak dan irama. Tidak sekadar menari. Dengan cara ini, seorang penari bisa lebih cepat menguasai tarian. Dia juga bisa membawakan tarian dengan lebih indah.
“Kunci sukses penari, harus menghayati setiap gerak dan irama. Tidak asal gerak,” ungkapnya.
Banyak jenis tarian sudah dikuasai Sukma dengan mahir. Baik tari tradisi, juga tari kreasi. Diantaranya Remo, Gambyong, Bedhaya, Geger Bumi, Wengker. Kemudian, Topeng Suminten, Pasuruan Gemuyu, Krisan dan lain-lain.
Saat ini, Sukma sedang berusaha mewujudkan mimpi lain yang belum terealisasi. Yaitu, memiliki sanggar tari sendiri.
Dia juga ingin menciptakan tarian, berkerja bareng dengan para penari profesional lain di KabupatenPasuruan. Dengan cara ini, dia berharap perkembangan tari di kabupaten lebih maju dan maksimal.(hn)
Editor : Achmad Syaifudin