MEMANFAATKAN ruang tamu rumahnya yang cukup sempit, Rina Anggreini dengan tekun memproduksi kerajinan tas cantik dari tali jumbo bag. Sendirian, perempuan 38 tahun itu membuat tas dari tali dengan bahan dasar nilon itu sejak empat tahun terakhir.
Rina menamai produknya dengan sebutan tas cantik. Sebab, memang hasilnya cantik. Meskipun bentuk dan bahan dasarnya sederhana.
Meski sendirian, tidak sulit bagi Rina yang memiliki keterampilan menjahit untuk membuat tas itu. Meski belajar otodidak, dia bisa membuat tas cantik itu dalam waktu lumayan cepat.
Karena tidak punya tempat lain, Rina memproduksi tas cantik itu di ruang tamu rumahnya; Dusun Krajan RT 01/RW 02, Desa/Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan.
“Saya mulai memproduksi tas ini tahun 2020, saat pandemi Covid-19. Saya menamai tas ini dengan sebutan tas cantik,” terang ibu satu anak ini.
Awal membuat tas cantik, Rina sebenarnya hanya ingin memanfaatkan waktu luang. Sebelumnya, dia bekerja sebagai karyawan pabrik sepatu di Pandaan. Lumayan lama, Rina bertahan 6 tahun.
Sayangnya, pabrik tempatnya bekerja pailit. Sehingga, mau tidak mau Rina harus di-PHK. Setelah pabriknya pailit, dia sempat bekerja di sebuah perusahaan konveksi. Namun, tidak bertahan lama; hanya beberapa bulan.
Keluar dari pabrik konveksi, Rina memutuskan istirahat sebentar. Saat itulah, terpikir olehnya membuat tas dari tali jumbo bag. Apalagi, ada mesin jahit elektrik di rumahnya.
Tak disangka, permintaan tas itu di pasaran cukup banyak. Alhasil, tas produksi Rina selalu laku terjual.
Dan perlahan namun pasti, usaha itu kini mampu menggantikan pendapatan yang biasa diperolehnya dari bekerja sebagai karyawan. Bahkan, kini produksi tas itu menjadi pekerjaan utama baginya.
Tali jumbo bag sebagai bahasan dasar pembuatan tas, dibelinya dari gudang di Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Tali yang awalnya berupa rol-rolan itu, dipotong-potong sedemikian rupa.
Lalu disambung menjadi bentuk lembaran. Baru kemudian dijahit dan dibentuk menjadi tas cantik.
“Ukuran dan motifnya, saya buat sesuai pesanan atau order yang masuk. Kadang ada yang minta ditambah pita, biar lebih bagus,” tuturnya.
Untuk memenuhi pesanan pelanggan, Rina bekerja setiap hari di rumahnya. Mulai pagi sampai malam.
Dalam sehari, dia bisa membuat tas cantik seratus buah. Bahkan bisa lebih, jika dikerjakan lembur.
Harga tas-tas itu sangat terjangkau. Bentuk dan modelnya ada empat macam, berdasarkan ukuran. Antara lain, tas mini dibandrol Rp 10 ribu dan tas imut harganya Rp 12 ribu. Lalu, tas tanggung Rp 18 ribu dan tas jumbo Rp 30 ribu.
“Tas ini biasanya untuk belanja, suvenir, acara hajatan, dan lain-lain. Keunggulannya kuat, awet, tahan lama, dan bisa dicuci,” ujar lulusan SMEA Kosgoro Lawang ini.
Peralatan membuat tas cantik ini pun sederhana. Hanya buruh mesin jahit elektrik, pisau, dan kompor.
“Alatnya hanya tiga itu. Mesin jahit, pisau, dan kompor. Sederhana sekali. Bahan baku lainnya ada benang selain tali,” bebernya tersenyum.
Adapun pemasarannya, selama ini dia lakukan via online. Paling sering ke Blitar dan Bondowoso, ke sebuah grosir yang sudah menjadi pelanggannya selama ini.
Selain itu, produksi tasnya juga dia kirim ke sekitaran Pasuruan. Termasuk ke Malang, Batu, Surabaya, dan Sidoarjo. Namun, ada juga yang membeli eceran. Bahkan, pembelinya ada yang dari Jateng dan Bali.
Biasanya, pesanan tas itu paling ramai saat musim hajatan. Juga saat Ramadan atau jelang Lebaran.
“Jadi untuk pasar dan pelanggan, selama ini tidak pernah kesulitan. Baik itu yang beli eceran, maupun grosir. Dari sini saya bisa dapat omzet per bulan rata-rata Rp 15 juta lebih,” katanya.
Rina pun bertekad terus menekuni kerajinan tas itu. Dia bahkan berharap, kelak produk tasnya bisa terjual sampai ke luar negeri. (zal/hn)
Editor : Jawanto Arifin