MENJADI polemik karena buka 24 jam, toh Warung Madura terus bermunculan di daerah. Termasuk di Probolinggo dan Pasuruan.
Salah satu ciri khas Warung Madura yaitu punya rak berbentuk kotak yang dijejer dan disusun dengan rapi. Menyerupai rak sepatu saja.
Rak-rak itu dipenuhi beragam barang dagangan. Ada gula, beragam mi instan, sabun, minuman botol kemasan, telur, beras dan lain-lain.
Selain itu, ada etalase yang juga berisi sejumlah barang. Beberapa makanan ringan dan kerupuk direnteng berdekatan dengan sampo dan kosmetik.
Sementara rokok tertata rapi di dalam etalase. Di depan warung, botol-botol berisi bensin eceran juga ada. Lengkap, seolah siap melayani pembeli.
Meski mirip dengan toko kelontong pada umumnya, Warung Madura memiliki perbedaan jam buka. Warung ini buka 24 jan nonstop.
Bahkan di hari libur sekalipun, tetap buka. Selaras dengan slogan pamungkasnya “Buka 24 Jam. Kiamat Buka Setengah Hari”.
Salah satu penjualnya, Supril, 21, berasal dari Sumenep. Sudah setahun dia merantau di Probolinggo dan bekerja sebagai penjaga salah satu Warung Madura di Kelurahan/Kecamatan Mayangan.
“Saya ke sini ikut paman. Kebetulan paman saya yang punya warung ini. Jadi saya diminta menjaganya. Kebanyakan memang warga Sumenep memiliki usaha warung sembako seperti ini,” kata remaja yang akrab dipanggil Ping ini, saat ditemui di warung yang dijaganya, pukul 23.00.
Menurutnya, pamannya memiliki beberapa warung. Satu warung di Malang dan satu lagi di Jakarta. Sementara di Kota Probolinggo hanya memiliki satu warung.
“Kadang paman keliling dari satu warung ke warung lainnya. Seperti sekarang ini kebetulan di Kota Probolinggo selama tiga bulan untuk memantau warung ini. Bulan selanjutnya pindah ke warung lain atau pulang ke Madura,” jelasnya.
Setiap hari, warung itu dijaga dua orang. Yaitu, dia dan seorang pekerja lain. Mereka membagi tugas menjadi dua sif, pagi dan malam.
“Saya kebagian jam malam, pukul 15.00 hingga pukul 03.00. Setelah itu ganti teman saya hingga sore hari. Tapi karena sekarang sedang ada paman, sif dibagi tiga. Nanti kalau paman pulang, balik dua sif lagi,” katanya.
Meski berjaga sendirian di malam hari, Supril mengaku tidak takut. Menurutnya, Kota Probolinggo tergolong aman.
Bahkan, selama setahun ia tidak pernah menjumpai preman atau orang-orang mabuk yang mengganggu warungnya.
“Alhamdulillah aman. Tapi kata paman akan dipasang CCTV untuk berjaga-jaga saja,” katanya.
Setiap hari, warung yang dijaganya itu selalu ramai. Bahkan, mampu meraup pendapatan hingga Rp 8 juta.
“Tapi itu penghasilan kotor, belum dikurangi biaya sewa. Kemudian diputar kembali untuk kulak kalau stok barang habis,” katanya.
Sementara penjaga Warung Madura di Kelurahan Kanigaran, Dewi, 23, mengaku baru sebulan di Kota Probolinggo. Ia pun datang dari Sumenep, Madura. Dewi mengaku warung tersebut bukan miliknya, melainkan seseorang yang ia sebut bos.
“Jadi Warung Madura di satu daerah itu belum tentu pemiliknya sama. Kalau bos saya ini di Kota Probolinggo punya dua warung dan di Surabaya punya tiga warung,” katanya.
Bosnya itu seorang nelayan yang memiliki banyak kapal di Madura. Kemudian ia merambah ke bisnisi warung tersebut.
“Saya diajak kerja di sini karena dari dulu ayah saya sudah bekerja pada bos tersebut. Sekarang saya juga ikut kerja ke dia,” katanya.
Di Probolinggo, Dewi menjaga warung tersebut bersama suami dan satu anaknya. Mereka menyewa sebuah bangunan.
Bagian depan dimanfaatkan sebagai toko, sementara bagian belakangnya sebagai gudang dan service area. Seperti dapur dan tempat cuci baju.
Adapun biaya sewa dibayar bosnya itu. Karenanya, Dewi tidak paham berapa biaya sewa bangunan itu.
“Saya cuma bekerja di sini. Kalau barang habis, saya restock. Belinya dari pedagang besar di Kota Probolinggo ini saja. Tidak disuplai dari Madura. Biasanya tiga hari sekali belanjanya,” tutur Dewi.
Menurutnya, warung tersebut ramai terutama saat malam. Sementara siang hari sepi.
“Sebab warung lainnya tutup saat malam dan kami buka. Ada saja yang beli. Kadang beli sabun cuci. Tapi kebanyakan beli rokok,” katanya.
Selama 24 jam atau sehari semalam, warungnya bisa mengumpulkan hasil kotor sekitar Rp 3 juta. Ini karena warung tersebut masih buka sebulan.
Harga di warung yang dijaga Dewi ini sebenarnya tidak murah-murah amat. Bersaing dengan toko kelontong lain yang sejenis.
“Tapi kalau dibandingkan dengan supermarket, di sini lebih murah. Harganya ini sudah diseragamkan oleh bos. Jadi kami tidak bisa menurunkan atau menaikkan harga sendiri,” katanya. (hn)
Editor : Jawanto Arifin