Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Sejarah Hari Kartini dan Sepak Terjang RA Kartini Memperjuangkan Emansipasi Wanita di Indonesia

Muhammad Fahmi • Minggu, 21 April 2024 | 22:22 WIB

Kartini, Roekmini, Kardinah, dan Soemantri bersama murid-muridnya, Jepara, sebelum 1904. Inset, RA Kartini semasa hidup. (Istimewa)
Kartini, Roekmini, Kardinah, dan Soemantri bersama murid-muridnya, Jepara, sebelum 1904. Inset, RA Kartini semasa hidup. (Istimewa)
 

Setiap tanggal 21 April, di Indonesia selalu diperingati hari Kartini tiap tahunnya. Hari kelahiran salah satu pahlawan nasional. 

Setiap tahun, peringatan Hari Kartini diisi dengan berbagai kegiatan. Mulai upacara resmi, seminar, diskusi, dan acara budaya.

Peringatan tersebut bertujuan untuk mengingatkan masyarakat akan perjuangan Kartini serta memperkuat kesadaran akan pentingnya peran wanita dalam pembangunan bangsa.

Sebagai sebuah peringatan, Hari Kartini bukan hanya tentang mengenang sosok Kartini sebagai seorang tokoh bersejarah.

Tetapi juga tentang meneruskan semangatnya dalam memperjuangkan kesetaraan, keadilan, dan pendidikan bagi perempuan Indonesia.

Hari Kartini bukan hanya sekadar peringatan, tetapi juga momen untuk merayakan perjuangan Kartini dan semua wanita yang berjuang untuk kesetaraan dan keadilan gender.

Melalui semangat dan gagasannya, Kartini telah menjadi inspirasi bagi banyak orang dalam memperjuangkan hak-hak perempuan dan mendorong kemajuan sosial di Indonesia dan di seluruh dunia.

Sosok Kartini

Raden Ajeng Kartini dikenal sebagai RA Kartini. Ia lahir pada tanggal 21 April 1879 di desa Mayong, Jepara.

Ia merupakan seorang putri bangsawan Jawa yang tumbuh dalam lingkungan yang terbatas bagi perempuan pada masanya.

Namun, Kartini memiliki semangat dan keinginan yang besar untuk belajar, berkembang, serta memberikan kontribusi bagi masyarakatnya.

Sejak kecil, Kartini muda dikenal sebagai pribadi yang peduli dengan lingkungan sekitarnya.

Kartini mulai menyadari ketidakadilan yang dialami oleh perempuan Jawa pada usia muda.

Meskipun dihadapkan pada tradisi yang mengharuskan wanita terbatas dalam ruang gerak dan pendidikan, Kartini tidak menyerah.

Ia juga bersikeras untuk mendapatkan pendidikan, meskipun pada awalnya hanya mendapat pendidikan di rumah.

Di sana, anak pribumi Indonesia yang diizinkan mengikuti pendidikan di ELS, hanya yang orang tuanya merupakan pejabat tinggi pemerintah.

Bahasa pengantar di ELS adalah bahasa Belanda, sehingga Kartini bisa meningkatkan kemampuan bahasanya.

Namun, Kartini tidak bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya. Sebab, keinginannya itu ditentang keras oleh sang Ayah.

Ia dipaksa untuk menjadi putri bangsawan sejati dengan mengikuti adat istiadat yang berlaku.

Kemudian ia banyak menghabiskan waktu di rumahnya.

Kartini yang selalu di rumah atas keinginan Ayahnya, akhirnya mengumpulkan buku-buku pelajaran dan buku ilmu pengetahuan. Buku-buku itu ia baca di taman rumahnya.

Kartini jadi gemar membaca dan sering bertanya kepada Ayahnya.

Mengutip dari situs Kemdikbud Jateng, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir wanita Eropa (Belanda) yang waktu itu masih menjajah Indonesia).

Lalu, timbul keinginannya untuk memajukan kehidupan wanita Indonesia.

Baginya, wanita tidak hanya di dapur, tetapi juga harus mempunyai ilmu.

Ia mulai mengumpulkan teman-teman wanitanya untuk diajarkan tulis menulis dan ilmu pengetahuan lainnya.

Di tengah kesibukannya, Kartini muda tidak berhenti membaca dan menulis surat kepada teman-temannya yang berada di negeri Belanda.

Dalam surat-suratnya yang terkenal, Kartini mengungkapkan pemikiran-pemikirannya tentang pentingnya pendidikan bagi wanita.

Dia menyuarakan keinginan agar perempuan memiliki kesempatan yang sama dengan laki-laki dalam memperoleh pendidikan dan meraih cita-cita mereka.

Ia sempat menulis surat kepada Mr.J.H Abendanon dan memohon agar diberikan beasiswa untuk bersekolah di Belanda.

Namun, beasiswa tersebut tidak sempat dimanfaatkan Kartini karena ia dinikahkan oleh orang tuanya dengan Raden Adipati Joyodiningrat.

Setelah menikah, ia harus ikut suaminya ke daerah Rembang.

Suaminya mendukung Kartini mendirikan sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang. Atau di sebuah bangunan yang kini digunakan sebagai Gedung Pramuka.

Sejarah Hari Kartini

Meskipun meninggal pada usia muda pada tahun 1904, warisan Kartini terus menginspirasi banyak orang.

Gagasan-gagasannya tentang pendidikan, kesetaraan gender, dan emansipasi wanita telah menjadi sumber inspirasi bagi gerakan-gerakan perempuan di Indonesia dan di seluruh dunia.

Pada tahun 1964, pemerintah Indonesia memutuskan untuk mengabadikan peringatan Hari Kartini sebagai momen untuk menghormati perjuangan Kartini.

Pada hari ini akan mengingatkan masyarakat akan pentingnya kesetaraan gender dan pendidikan bagi perempuan.

Editor : Muhammad Fahmi
#jepara #emansipasi wanita #hari kartini #RA Kartini #sejarah #kartini #indonesia #pahlawan