SUKA menyanyi dangdut sejak kecil membuat Silvi Permatasari, 23 sering diminta tampil dalam hajatan warga.
Pintu rezekinya semakin terbuka lebar setelah ia mengikuti kontes dangdut di sebuah televisi swasta nasional.
Dunia tarik suara sudah akrab dilakukan Silvi Permatasari. Sejak masih duduk di bangku kelas 4 SD atau saat usianya 10 tahun.
Perempuan asal Desa Sumberrejo, Winongan, Kabupaten Pasuruan ini sering diminta tampil dari satu panggung ke panggung lainnya.
Karena masih pemula, ia tidak meminta tarif yang terlalu mahal. Dalam sekali tampil, ia dibayar Rp 20 ribu.
Tarif ini terus mengalami kenaikan seiring berjalannya waktu. Hingga, pernah dibayar 100 ribu.
“Cuma memang sejak kecil, saya fokusnya membawakan lagu dangdut. Awalnya karena memang suka menyanyi,” ungkapnya
Jalan rezekinya di dunia dangdut mulai terbuka saat ia mencoba untuk mengikuti ajang bakat dangdut di salah satu televisi swasta nasional, Bintang Pantura pada 2017.
Ia hampir lolos ke babak utama. Langkahnya terhenti di kualifikasi di Jakarta.
Namun, kegagalan ini tidak membuatnya patah arang. Ia tetap rajin berlatih di sela-sela kesibukannya manggung.
Hingga tanpa sepengetahuannya, Silvi didaftarkan oleh kakaknya, Nurul Huda dalam ajang kontes bakat lainnya, Kontes Dangdut Indonesia (KDI) pada 2020.
Di ajang ini, ia membawakan lagu Cinta Rahasia yang dipopulerkan oleh Elvi Sukaesih.
Lagu ini membuat dewan juri terpikat. Ia pun lolos ke babak utama 20 besar dan berangkat ke Jakarta.
Alumni SMKN I Grati ini bersama peserta lainnya langsung menjalani karantina selama 4,5 bulan.
Silvi berada satu kamar dengan peserta Jawa Barat, Makassar dan Jawa Timur. Meski berbeda tempat tinggal, ia bisa dekat dengan mereka.
“Alhamdulillah, waktu itu saya bisa lolos sembilan besar. Cuma karena pandemi, tidak langsung pulang. pulangnya bersamaan dengan lainnya,” terang Silvi.
Namun karena pandemi, pemilik nama asli Silviatul Jannah sempat merasakan tidak menerima job selama dua tahun.
Ia bertahan hidup dengan uang tabungan yang dimiliki. Barulah pada 2022, ia kembali bisa aktif.
“Karena jadi finalis KDI, rezeki jadi lebih besar. Tarif naik. Bisa mulai dari Rp 500 ribu hingga lebih sekali tampil,” tuturnya.
Anak keempat dari lima bersaudara ini menyebut, keberhasilannya dalam ajang KDI tidak membuatnya puas.
Di awal tahun ini, ia kembali tampil dalam ajang kontes bakat, Primadona Pantura.
Berbeda dengan ajang terdahulu, ia diminta untuk mengirim enam lagu. Namun lagu yang dibawakan adalah jenis dangdut koplo. Ia memilih lagu Rungkad, Nemen dan Sanes.
Dalam ajang ini, Silvi menjalani karantina selama tiga bulan mulai 1 Januari hingga 7 Maret. Ajang ini menggunakan voting dari dewan juri dan perolehan SMS. Silvi akhirnya berhasil menjadi juara kedua.
Cuma diakuinya, penyambutan dirinya saat pulang kampung lebih semarak saat ia mengikuti KDI.
Waktu itu, ia disambut oleh seluruh warga dan perangkat desa dengan kembang api dan hadrah.
“Mungkin ini sudah ajang kesekian kalinya. Jadi masyarakat sudah menganggap biasa. Cuma diberi ucapan selamat saja,” terang Silvi.
Ia mengaku keikutsertaannya dalam ajang kontes bakat itu membuatnya dikenal banyak orang.
Ia sering menerima pekerjaan manggung hingga luar kota dan Provinsi. Paling jauh Demak, Jawa Tengah.
“Saya dibayar Rp 4 juta termasuk akomodasi. Alhamdulillah berkat tampil di televisi nasional, job terus mengalir,” katanya.
Nurul Huda, kakak keduanya menyebut, kedua orang tua Silvi sudah tiada. Sehingga, seluruh tanggung jawab menjaga Silvi berada di pundaknya. Termasuk mendukung langkah dan karirnya.
“Silvi memang memiliki bakat di dunia tarik suara sejak masih SD. Karena itu, saya selalu mendorongnya agar setiap ada kesempatan untuk dicoba,” pungkasnya. (riz/fun)
Editor : Jawanto Arifin