MANAJEMEN waktu yang bagus dan dukungan pesantren akan melahirkan santri berprestasi. Seperti salah seorang santri Pesantren Darullughah Wal Karomah (DWK) Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, Muhammad Syarif Hasbullah, 18. Ia mampu keluar menjadi Juara II Qiroatul Qutub se-ASEAN.
Membagi waktu saat menjadi santri tidaklah mudah. Sebab, sejak bangun tidur hingga malam waktunya tidur, santri sudah memiliki kegiatan yang terjadwal.
Mulai dari kegiatan pondok yang memang sudah terprogram hingga kegiatan sekolah. Santri hanya punya waktu beristirahat setelah seluruh kegiatan dan aktivitas pondok selesai.
Meski kegiatan di pesantren begitu padat, Muhammad Syarif Hasbullah punya cara tersendiri dalam mengatur waktunya. Ia selalu menyempatkan diri belajar, memperdalam pelajarannya ketika selesai kegiatan pesantren.
“Kegiatan pondok cukup padat. Kami bangun mulai pukul 03.00 dan kegiatan baru selesai pukul 22.00,” katanya.
Sejak nyantri di Pesantren DWK mulai 2020, santri asal Desa Bulupitu, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang, ini mulai menyukai beberapa ilmu pelajaran.
Di antaranya, bahasa Inggris, bahasan Arab, dan kitab Fathul Qorib. Ia juga rutin mengikuti bela diri Pagar Nusa di pondok.
Kemampuan Hasbi -sapaan Muhammad Syarif Hasbullah-, rupanya lebih unggul dibandingkan teman-temannya. Hingga akhirnya dipilih mewakili Pesantren DWK dalam Lomba Qiroatul Qutub Festival Dunia Arab 4.0 se-ASEAN di Universitas Darussalam Gontor pada 2022.
“Sebelumnya saya tidak menyangka akan terpilih untuk ikut lomba. Sebab, menurut saya lebih banyak yang layak,” katanya.
Tak ingin mengecewakan pesantren yang telah mendidiknya, Hasbi lebih giat belajar. Bahkan, sejak sebulan sebelum lomba semakin rutin berlatih. Ia memantapkan diri mewakili pesantrennya mengikuti Lomba Kitab Fathul Qorib.
Usai kegiatan pondok pukul 22.00, Hasbi memilih tak langsung istirahat. Melainkan terus memperdalam persiapannya hingga hingga pukul 23.00. Meski waktu begitu singkat, ia memanfaatkan waktu sebaik mungkin.
Tibalah waktu pelaksanaan lomba, Hasbi harus beradu kemampuan dengan sekitar 80 santri dari pesantren se-ASEAN. Satu persatu tahapan ditempuhnya. Sampai ke puncak lomba, memasuki perebutan juara I, II, dan II.
Pertanyaan dan materi lomba yang diberikan penguji dengan lancar dijawabnya. Hingga akhirnya masuk tahap penilaian lomba dan ia keluar menjadi juara II.
“Perlombaan dilakukan menggunakan bahasa Arab. Saya tidak menargetkan bisa jadi juara. Hanya saja setiap tahapan selalu berusaha sebaik mungkin. Tentunya juara ini berkat dukungan penuh dari pondok,” tuturnya.
Hasbi menambahkan, sebenarnya ada beberapa lomba lainnya yang juga pernah diikutinya dan keluar sebagai juara. Salah satunya juara III bela diri Pagar Nusa tingkat Provinsi Jawa Timur di Jombang pada 2022.
Ada juga lomba speech bahasa Inggris tingkat SMA se-ASEAN yang diselenggarakan Pesantren Al-Amin Prenduan, Sumenep, Madura pada 2022. Dari sekitar 135 peserta, Hasbi menjadi juara II.
Pada september 2023, Hasbi mengikuti lomba Suka Arabic Fest Tingkat ASEAN. Sayangnya, kala itu belum menjadi juara. Hanya mendapatkan nilai tertinggi nomor 4.
“Lomba yang saya ikuti semuanya dapat izin dari pondok. Jadi, saya upayakan semaksimal mungkin,” ujarnya. (ar/rud)
Editor : Jawanto Arifin