Berpuluh tahun lamanya, setiap musim hujan banjir selalu datang di kawasan Kedungringin, Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan. Warga pun sampai ‘terbiasa’. Terpaksa hidup beriringan dengan banjir. Meski begitu, mereka tetap ingin banjir itu teratasi.
MUHAMAD BUSTHOMI, Beji, Radar Bromo
Hujan terakhir sudah reda lebih dari 12 jam yang lalu saat wartawan Jawa Pos Radar Bromo mengunjungi kawasan Kedungringin, Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan, siang Senin (5/2).
Tapi, air yang meluap dari Sungai Wrati masih menggenangi hampir semua sudut permukiman.
Jam menunjukkan pukul 13.00 saat itu. Terik matahari kian menyengat. Sesiang itu, jalan antardusun hingga jalan perkampungan di kawasan Kedungringin, lumpuh total.
Sebagian warga yang memaksa melintas naik motor, akhirnya harus turun dari motornya. Lantaran mesin motornya mogok.
Tidak banyak aktivitas yang terlihat dari deretan rumah di Dusun Balungrejo, Desa Kedungringin, itu. Beberapa perempuan paruh baya hanya duduk di bangku kayu di teras rumahnya.
Siti, salah seorang warga keluar dari pintu rumahnya dengan mengenakan sepatu karet. Bagi yang sudah puluhan tahun tinggal di sana, genangan air sudah biasa.
”Makanya sampai punya sepatu karet sendiri,” kata Siti sembari mengangkat jemurannya yang sudah mengering.
Hampir setiap musim hujan, kawasan tersebut memang selalu kebanjiran. Tidak heran jika rumah-rumah baru, selalu ditinggikan saat dibangun. Agar air tak masuk ke rumah saat banjir.
Namun, rumah Siti merupakan salah satu rumah yang cukup lama di kawasan itu. Fondasinya rendah. ”Jadi airnya masih masuk,” kata dia.
Meski demikian, dia dan warga yang lain sudah terbiasa menyiasati genangan air. Begitu hujan turun di sore hari sebelumnya, mereka pun langsung mengamankan barang-barang berharga masing-masing. Terutama barang elektronik.
”Semua sudah diletakkan di kursi yang lebih tinggi,” kata Siti.
Nah, banjir Senin itu adalah yang pertama terjadi di musim hujan tahun ini. Walau sebenarnya, warga sudah merasakan kejadian serupa selama puluhan tahun.
”Mulai saya masih kecil, di sini sudah banjir kayak gini,” terang Wagiono, kepala Dusun Balungrejo.
Ketinggian genangan di kawasan desa tersebut cukup beragam. Paling rendah sekitar 25 sentimeter. Ada juga yang sampai 70 sentimeter.
Dan setiap kali banjir, tidak banyak aktivitas warga. Sekolah-sekolah juga diliburkan. Kecuali mereka yang memang bekerja sebagai buruh pabrik.
”Ada yang kendaraannya dititipkan di pabrik dekat jalan raya, ada juga yang tetap menerjang,” kata Wagiono.
Ia mengatakan, persoalan menahun itu terjadi bukan saja disebabkan curah hujan di kawasan Beji. Yang lebih memengaruhi justru curah hujan di kawasan hulu.
Mulai Prigen, Pandaan, hingga Gempol. Sebab, genangan air di perkampungan meluber dari Sungai Wrati.
”Bahkan, kalau di sini tidak hujan saja, tetap banjir. Kuncinya hanya normalisasi sungai,” kata Wagiono.
Selama ini, bukan tidak ada normalisasi yang dilakukan di Sungai Wrati. Hanya saja, ia menilai upaya itu kurang tepat.
Semestinya normalisasi dilakukan saat musim kemarau. Sehingga, pengerukan sedimentasi tanahnya lebih terukur.
”Termasuk lima anak Sungai Wrati juga harus dinormalisasi,” kata Wagiono.
Apalagi aliran sungai tersebut memang kerap bermasalah. Lebih-lebih sepanjang bantaran sungai banyak ditumbuhi enceng gondok.
Tanaman itu kemudian menyumbat aliran air. Untungnya, lahan pertanian tidak banyak terdampak. Kendati ratusan petak sawah juga tergenang.
”Tapi, sudah lewat masa panen. Jadi tidak sampai ada kerugian,” kata Wagiono.
Persoalan banjir itu, menurut Wagiono, juga tidak lepas dari kondisi persimpangan Sungai Wrati dan Kedunglarangan.
Banjir menjadi lebih lama surut karena debit air di Sungai Kedunglarangan lebih besar. Sehingga, aliran air dari Sungai Wrati tak tertampung dengan baik ke muara.
”Yang dari Wrati mandek. Makanya sampai meluber,” katanya.
Ia berharap persoalan itu segera mendapat solusi yang tepat.
Sehingga, warga bisa beraktivitas dengan tenang kendati memasuki musim hujan.
”Sebab, kalau terus begini, jelas terganggu. Kalau sudah banjir seperti ini, paling cepat seminggu baru surut,” katanya. (hn)
Editor : Jawanto Arifin