Bagi Clarissa Revanata, 17 dan Muhammad Sultan Fakhruddin, 17, menjadi Duta Lalu Lintas Pasuruan Kota adalah impian yang diidam-idamkan sejak setahun terakhir. Meski awalnya mereka tidak tahu cara mewujudkannya.
PERJALANAN Clarissa dan Sultan bermula dari pemilihan Cak dan Ning Kota Pasuruan 2023. Sebuah ajang pemilihan duta wisata di Kota Pasuruan. Saat itu, keduanya masih berusia 16 tahun dan masih kelas XI SMAN 2 Kota Pasuruan.
Serangkaian tahap seleksi dijalani, hingga mereka masuk top five dalam ajang itu. Meski gagal menjadi juara, Clarissa dan Sultan berhasil meraih gelar juara kedua. Mereka bertugas sebagai duta wisata Kota Pasuruan hingga 2024.
“Kebetulan, saya memang suka ikut lomba. Sejak sebelum ikut duta wisata, peran ini sudah saya idamkan,” kata Clarissa.
Saat mendengar ada pemilihan Duta Lalu Lintas Pasuruan Kota pada Oktober 2023, Sultan pun mengajak Clarissa mendaftar. Yaitu, pasangannya saat mengikuti kontes Cak dan Ning Kota Pasuruan.
Kebetulan, mereka sudah memiliki chemistry. Sebab, sejak masa karantina, Clarissa dan Sultan sudah dipasangkan.
“Mama berpesan agar saya ikut duta lalu lintas karena kebetulan saya ingin jadi polisi,” tutur Sultan.
Saat itu, ada delapan pasangan yang mendaftar. Proses pemilihan dilakukan sehari. Tanggal 23 mereka diminta menampilkan bakat.
Dan di hari yang sama, mereka dipilih menjadi Duta Lalu Lintas Pasuruan Kota. Keduanya mengemban tugas memberikan sosialisasi berlalu lintas ke sekolah hingga akhir 2024.
Lalu pada 24 November 2023, Kanit Kamsel SatLantas Polres Pasuruan Kota Aipda Breni Raharjo meminta keduanya menghadap. Saat itu, mereka diminta menyiapkan diri mengikuti pemilihan Duta Lalu Lintas Jawa Timur.
Mereka lantas membuat power point dan esai tentang tertib berlalu lintas sebagai syarat pemilihan. Dan, harus dikumpulkan pada 27 November 2023, sekaligus berangkat ke Surabaya untuk mengikuti pemilihan.
Clarissa memilih tema dampak teknologi pada lalu lintas. Tema ini dipilih karena melihat tren anak muda berjoget TikTok di jalan raya. Sedangkan Sultan membuat tema bahaya balap liar.
Praktis, mereka hanya punya waktu tiga hari untuk menyelesaikan power point dan dan esai. Selanjutnya, dikoreksi pembina sebelum dikumpulkan ke Polda Jatim.
“Saat itu bersamaan dengan UAS. Minta dispensasi agar bisa mengikuti ajang itu. Beruntung sekolah mendukung,” jelas Clarissa.
Dalam kontes Duta Mahameru–sebutan ajang pemilihan Duta Lalu Lintas Polda Jatim–itu, tidak ada babak seleksi. Peserta langsung masuk babak grand final.
Clarissa dan Sultan menampilkan bakat berkolaborasi. Sultan membaca puisi diiringi keyboard yang dimainkan oleh Clarissa.
Meski di tingkat Jawa Timur, diakui keduanya bahwa ajang Pemilihan Cak dan Ning Kota Pasuruan lebih mendebarkan dibandingkan kontes Duta Mahameru. Karena ini adalah kontes duta kedua yang mereka ikuti setelah Cak dan Ning.
“Kalau dalam kontes Cak dan Ning, ditonton oleh keluarga dan teman dekat. Jadi lebih beban,” tutur Sultan.
Sebagai duta lalu lintas, keduanya memiliki tugas mengedukasi teman, keluarga, dan masyarakat kota Pasuruan agar taat berlalu lintas. Seperti, memakai helm agar tidak membahayakan diri sendiri dan pengendara lain.
Menurut keduanya, tidak benar polisi sering mencari kesalahan pengendara dengan tiba-tiba menilang. Polisi melakukan tilang karena ada sebabnya. Yaitu, melanggar hukum.
“Kami sepakat mau memberikan edukasi lewat konten video kekinian. Misalnya video TikTok agar lebih bisa diterima,” sebut Clarissa.
Kanit Kamsel SatLalu Lintas Polres Pasuruan Kota Aipda Breni Raharjo yang juga pembina duta lalu lintas menyebut, pihaknya memilih Clarissa dan Sultan sebagai Duta Lalu Lintas Pasuruan Kota karena alasan khusus.
Salah satunya, karena prestasi mereka sebagai duta wisata.
“Walaupun sebenarnya tidak harus menjadi duta wisata, yang penting memiliki prestasi. Keduanya terpilih karena memiliki pengalaman berprestasi sebagai duta wisata,” pungkas Breni. (hn)
Editor : Achmad Syaifudin