Warga Dusun Jetak, Desa Karangjati, Pandaan tak akan menyangka ziarah wali lima bakal mengalami kecelakaan. Setelah insiden di Gresik yang merenggut lima nyawa itu, ada 27 penumpang yang terluka. tujuh di antaranya masih dirawat di rumah sakit.
RIZAL FAHMI SYATORI, Pandaan, Radar Bromo
Mereka yang masih masih dirawat di RSUD dr Soetomo, pagi kemarin (30/1) disambangi jajaran perangkat Desa Karangjati. Ada yang ke RS Fathma Medika di Gresik dan ada yang ke RSUD dr Soetomo serta ke RSUD Bangil.
Sambang itu dipimpin Kades Karangjati Kuyatip. “Kami ingin mengetahui perkembangan akan kondisi terkininya korban yang luka-luka di rumah sakit. Sekaligus memberikan semangat dan mendoakan supaya cepat sembuh,” beber Kuyatip.
Rombongan kades dan perangkat desa setempat, dengan mengendarai mobil pribadi.
“Alhamdulillah untuk yang korban luka-luka warga kami asal Dusun Jetak, kondisinya mulai membaik. Beberapa di antaranya ada yang masih menunggu observasi, namun adapula yang sudah di operasi,” terangnya.
Selama sambang, mereka memberi support. Dari tujuh korban yang luka-luka. Hanya satu orang masih belum bisa dijenguk, karena dirawat di ICU RSUD Bangil.
Dia adalah Jiono, 47, yang merupakan suami dan ayah dari Anik, 51, dan Auliyah Mahfiroh Rahmadani, 17.
Bagaimana dengan korban yang luka ringan? Sebagian dari mereka ada yang rawat jalan.
Mereka rata-rata masih mengalami trauma dari tragedi Sabtu (28/1) lalu. Mereka sama sekali tidak menyangka.
Kendati demikian, sebelum kejadian laka maut terjadi, sejumlah rombongan mengaku ada sejumlah firasat.
Namun firasat tersebut tidak terpikirkan sama sekali menjadi pertanda buruk.
“Sebelum kejadian kecelakaan ini, saya dan penumpang atau warga lainnya sudah ada firasat. Namun tidak terpikirkan akan menjadi cerita nahas. Kami menganggap biasa saja,” ucap Joni, 42, salah seorang korban yang luka-luka.
Saat ditemui di rumahnya, kepalanya masih dibalut perban. Dia mengalami luka robek. Karyawan salah satu pabrik tekstil di Pandaan ini, ikut dalam rombongan ziarah wali lima tidak sendirian. Melainkan bersama istri dan ibunya.
“Sewaktu mau berangkat, anak saya yang masih SD menangis. Padahal kalau ditinggal, tidak pernah rewel apalagi menangis. Ini salah satu firasat saya,” bebernya.
Kemudian ibunya yang ikut, semestinya duduk di depan. Namun sang ibu menolak duduk di bangku depan.
Tapi memilih duduk bersama dirinya dan istrinya dalam satu deretandi sebelah kanan, nomer enam dari belakang sopir.
“Ibu saya, firasatanya seperti itu. Karena menolak duduk di depan, akhirnya duduk satu deret dengan saya dan istri,” ungkapnya.
Hingga perjalanan pulang sebelum laka maut ini terjadi, kata Joni, sopir busnya sempat diingatkan oleh salah satu orang penumpang dalam rombongan ini.
Saat itu penumpang yang duduk di depan sebelah kiri, posisinya terbangun. Sementara penumpang lainnya tertidur.
“Penumpang duduk depan dekat kernet panggilannya Nyong, sempat menegur sopir busnya untuk hati-hati. Tak lama berselang, terjadinya kecelakaan ini,” cetusnya.
Joni mengatakan, rombongan ziarah wali lima di kampungnya tersebut merupakan jamaah musala Nur Aida di Dusun Jetak RT 04 RW 09.
Sebelum kejadian ini, tahun 2023 lalu acara serupa pernah ada. Tepatnya 14 Oktober 2023.
“Ziarah wali lima yang pertama dan sekarang, pakai bus dari perusahaan yang sama. Tapi sopirnya beda. Pasca kejadian ini, sebagian warga termasuk saya, istri dan ibu masih trauma naik bus. Makanya setelah kejadian, dari Gresik pulangnya naik mobil pribadi semua,” tuturnya.
Adanya firasat yang lain, juga disampaikan Sugeng Cahyono, 49, warga dusun setempat.
Saat ditemui, dia menunggu kedatangan jasad para korban tiba di rumah duka.
Dia juga punya firasat sebelum laka maut terjadi. Saat di Tuban, sandal milik korban tewas Utanta Ihza Mahendra dan Auliyah Mahfiroh Rahmadani masing-masing hilang. Akhirnya kedua korban tewas tersebut, dari Tuban pulangnya sampai harus nyeker.
“Ternyata hilangnya sandal kedua korban ini, menjadi salah satu firasat. Untuk penumpang dalam bus, perjalanan pulang posisinya sebagian besar tidur. Sebelum kejadian, sopir busnya sempat ditegur oleh penumpang duduk depan dan masih melek,” katanya.
Untuk korban yang tewas dan luka parah, Sugeng sapaan akrabnya posisinya kebanyakan duduk di sebelah kanan deretan bangku tiga belakang sopir.
Mereka diantaranya Auliyah Mahfiroh Rahmadani, 17, dan Anik, 51, bersama Jiono, suaminya duduk dibangku pertama belakang sopir. Kemudian duduk dibangku kedua Noman Alif Agustiyahyah, 29.
Selanjutnya duduk dibangku ketiga belakang sopir, adalah Utanta Ihza Mahendra, 18, bersama kedua orang tuanya Ida Rochmawati dan Tasum Sunariyadi (Kasun Jetak).
Kecelakaan maut rombongan ziarah ini terjadi Sabtu (27/1) sekitar pukul 21.30. Bus rombongan ziarah menabrak truk di jalan pantura, Kecamatan Bungah, Gresik. Lima penumpangnya tewas, masing-masing adalah Anik, 51, dan Auliyah Mahfiroh Rahmadani, 17, keduanya merupakan ibu dan anak. Kemudian Noman Alif Agustiyahyah, 29 dan Utanta Ihza Mahendra, 18, hubungan kakak dan adik serta masih bujangan. Lalu, satu korban tewas lainnya diketahui Kasmini, 65. Adalah warga Dusun Sentir, Desa Wedoroh, Kecamatan Pandaan. (fun)
Editor : Jawanto Arifin