Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Agus Malik yang Berhasil Membudidayakan Melon Impor, Dua Bulan Bisa Panen 1,5 Ton dengan Omzet Segini

Inneke Agustin • Senin, 8 Januari 2024 | 18:40 WIB
PETIK MELON: Wali Kota Habib Hadi bersama Agus Malik saat panen melon Sweet Net asal Thailand di green house farm milik Agus di Jalan Bengawan Solo Kota Probolinggo, Jumat (1/12/2023).
PETIK MELON: Wali Kota Habib Hadi bersama Agus Malik saat panen melon Sweet Net asal Thailand di green house farm milik Agus di Jalan Bengawan Solo Kota Probolinggo, Jumat (1/12/2023).

Agus Malik, 31, sukses membudidayakan melon impor. Yaitu, melon jenis Sweet Net asal Thailand. Malik (panggilannya), membudidayakan dengan metode hidroponik di green house farm miliknya di Jalan Bengawan Solo, Kelurahan Jrebeng Wetan, Kecamatan Kedopok, Kota Probolinggo.

INNEKE AGUSTIN, Kedopok, Radar Bromo

Pandemi Covid-19 yang terjadi sejak 2020 di Indonesia membuat Agus Malik khawatir. Dia takut di PHK dari tempanya bekerja.

Sebab, saat itu banyak perusahaan yang mengurangi produksinya. Lalu, pada akhirnya melakukan PHK pada karyawannya.

Malik pun berpikir untuk mencari peluang kerja lain. Dia lantas bertanam melon Thailand.

Walaupun sebenarnya, dia seorang akuntan di sebuah perusahaan swasta di Kota Probolinggo. Tidak ada latar belakang pertanian sama sekali. Karena itu, awalnya Malik sempat bingung.

“Saya kemudian belajar budi daya melon Thailand ini dari teman di luar kota. Kebetulan dia juga memiliki usaha serupa. Bahkan usahanya sudah go internasional. Omzetnya bisa mencapai Rp 1 Miliar per bulan. Saya terinspirasi dari sana,” kata pria asal Desa Wangkal, Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo ini.

Green house pertama milik Malik dibangun di desanya yaitu di Wangkal. Green house itu dibangun menggunakan dana pribadi sebesar Rp 50 juta.

Namun karena saat itu Malik masih tak paham cara budidaya melon Thailand, sempat menderita kerugian.

“Sempat rugi saat itu. Dua tahun ruginya kalau ditotal mencapai Rp 100 juta lebih. Hanya daunnya saja yang lebat, sementara buahnya tidak ada. Karena saat itu saya kurang paham rasio pupuk. Tapi akhirnya dari sana saya belajar banyak,” kata Malik.

Malik lantas bangkit dan membuat green house keduanya pada 2023 di Jalan Bengawan Solo, Kelurahan Jrebeng Wetan, Kedopok, Kota Probolinggo.

Green house tersebut memiliki luas 660 meter persegi dengan kapasitas 2.500 tanaman.

Masih dengan tanaman yang sama, namun metode tanamnya yang berbeda. Di green house Wangkal, ia menggunakan metode tanam biasa dengan menggunakan soil atau tanah.

Sementara di Jalan Bengawan Solo, Malik menggunakan metode hidroponik. Yaitu metode bercocok tanam memanfaatkan media air atau substrat lain yang kaya nutrisi.

Bertanam buah di green house dengan menggunakan metode hidroponik ini memiliki banyak kelebihan.

Di antaranya, perawatannya lebih mudah daripada bercocok tanam di open field. Selain itu, minim hama, tahan cuaca ekstrem, dan bila sudah lihai dalam perawatan maka kegagalannya jauh lebih kecil.

“Kalaupun ada kegagalan mungkin hanya 10 persen. Itupun kebanyakan disebabkan oleh human error, seperti mungkin rasio pupuk yang tidak tepat,” katanya.

Tak hanya itu, Malik berani menjamin melon yang ia tanam low pestisida. “Kami sudah menguji hal tersebut. Jadi melon ini akan sangat cocok bagi penikmat buah-buahan organik,” katanya.

Namun, tetap ada hal-hal yang perlu diperhatikan saat bertanam menggunakan metode hidroponik ini. Meski tahan cuaca karena di ruangan (green house), Sweet Net ini cukup rentang saat musim hujan. Jadi harus ekstra pemantauannya, jangan sampai ada jamur atau bakteri yang masuk ke air di tandon.

“Kalau air tandon tercemar, otomatis seluruh tanaman di green house ikut terdampak,” kata Malik.

Malik lantas menceritakan proses semai hingga panen dari melon Sweet Net miliknya.

Pertama, bibit ia impor dari luar negeri. Bibit tersebut lantas direndam selama empat jam menggunakan air bersuhu hangat kuku, sekitar 32oC.

Setelah itu, bibit ditiriskan di tisu dan dieram selama seharian. Setelah tumbuh kecambah, bibit dapat dipindah ke media roc kwool. Kegiatan ini bisa dilakukan di rumah.

“Setelah delapan hari, baru pindah tanam ke sarana hidroponik di green house. Pengecekan tiap hari hanya butuh waktu dua jam. Makin mendekati masa panen, media airnya harus ditambah. Misalnya di usia lebih dari 30 hari, ditambah 200 liter air per harinya. Takaran pupuk juga berbeda,” kata Malik.

Melon Sweet Net ini siap panen dalam waktu 60 - 65 hari atau sekitar dua bulan. Melon ini berbentuk bulat hingga agak lonjong. Dagingnya berwarna oren dan kulitnya halus agak berurat denganw arna dari kehijauan hingga putih. Bahkan melon-melon miliknya memiliki tingkat kemanisan antara 17 sampai 20 Brix.

Pada Jumat (1/12/2023), Malik berhasil panen perdana melon Sweet Net itu. dia berhasil panen 1,5 ton melon. Melon tersebut ia jual dengan metode petik dan timbang sendiri. Per kilogram dipatok dengan harga Rp 35 ribu.

“Masih tergolong murah dibandingkan harga supermarket yang mencapai Rp 60 ribu per kilogram. Ini karena kami ingin mengenalkan jenis varian melon impor tersebut ke masyarakat Kota Probolinggo. Dalam tiga hari saja semua ludes terjual,” katanya.

Dari hasil panen perdana tersebut, Malik meraup omzet sebesar Rp 45 juta. dia pun terus mengembangkan usahanya ini. Bahkan saat ini ia menyemai jenis melon baru. Ada Golden Langkawi, King Show, Honey Globe dari Taiwan. Kemudian Japanese Musk Melon dari Jepang.

Tak berhenti di sana, Malik bercita-cita mengembangkan sayap. Ia menargetkan dapat panen lebih banyak yaitu 3 ton di periode panen selanjutnya. Lalu memperluas pasar hingga menciptakan produk turunan dari hasil tanamnya itu.

“Saat ini masih proses legalitas. Setelah itu, saya punya target bisa mendapat omzet minimal Rp 1 miliar per tahun. Tentunya dengan terus menambah jumlah green house. Kalau omzetnya sudah besar, fasilitas green house juga bisa ditambah. Seperti menggunakan sistem elektronik. Jadi bisa merancang tingkat kemanisan buah juga nantinya,” katanya. (hn)

Editor : Jawanto Arifin
#green house #budi daya #Melon