Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Kristanto yang Sudah 65 Tahun jadi Tukang Reparasi Jam, Jadi Langganan Masyarakat hingga Pejabat

Arif Mashudi • Rabu, 27 Desember 2023 | 15:00 WIB
LANJUTKAN USAHA AYAH: Kristanto di meja kerja ruangannya membenahi jam milik pelanggan.
LANJUTKAN USAHA AYAH: Kristanto di meja kerja ruangannya membenahi jam milik pelanggan.

Pak Tan. Itulah panggilan Kristanto, 81. Sudah 65 tahun  dia bergelut sebagai tukang reparasi jam. Berkat keuletan dan kejujurannya, banyak pelanggan datang ke rumahnya untuk memperbaiki jam.

 

ARIF MASHUDI, Mayangan - Radar Bromo

 

SEBUAH rumah kuno yang terletak di Jalan A. Yani Kota Probolinggo, terlihat masih orisinil.

Rumah yang menghadap ke utara itu di pagarnya terpasang papan ukuran kecil bertulisan reparasi jam.

Di teras rumah ada sebuah ruangan ukuran sekitar 2x3 meter. Ruangan inilah yang menjadi tempat kerja Pak Tan reparasi jam.

Meja kerja dikeliling kaca bagian depan dan samping itu dipenuhi dengan peralatan reparasi jam.

Mulai dari obeng ukuran kecil, sampai alat besar untuk membuka tutup jam tangan, ada lengkap.

Di belakang meja keranya itu, terpajang jam dinding kuno (antik, red). Ada jam dinding yang tinggi berdiri, ada juga digantung di dinding. Semua jam dinding kuno itu berfungsi.

”Itu tidak dijual Mas. Itu jam dinding reparasi semua, milik orang. Cuma belum diambil ama orangnya,” kata Pak Tan.

Sekitar pukul 12.50, datang dua perempuan yang hendak memperbaiki timbangan elektrik. Pak Tan yang tidak memiliki keahlian di bidang elektronik pun menyampaikan apa adanya pada pelanggan tersebut.

”Kalau timbangan elektrik, saya tidak bisa perbaiki. Tapi biar saya liat, jika cuma mati karena baterai mati, bisa saya. Tapi kalau bagian elektroniknya yang error, saya tidak bisa. Nanti kembali lagi jam 2 (siang) ya,” ucap pak Tan pada pelanggan tersebut.

Pria yang kelahiran di zaman penjajahan Jepang sekitar tahun 1942 itu menceritakan, dirinya menjadi tukang reparasi jam berkat ayahnya, Purnomo. Dulu, ayahnya memang tukang reparasi jam. Sejak kecil usia 12 tahun, dia selalu ikuti ayahnya untuk membantu buka usaha reprasi di Pasar Lama yang kini menjadi Probolinggo Plaza.

LANJUTKAN USAHA AYAH: Kristanto di meja kerja ruangannya membenahi jam milik pelanggan.
LANJUTKAN USAHA AYAH: Kristanto di meja kerja ruangannya membenahi jam milik pelanggan.

Tidak hanya membantu. Secara perlahan dia juga belajar cara mereparasi jam pada ayahnya. Hingga akhirnya, usia menginjak 16 tahun, dia sudah bisa mereparasi jam.

Tetapi, dirinya tidak lantas membuka usaha sendiri. Saat itu, dirinya tetap buka usaha reparasi jam bersama ayahnya, hingga ayahnya meninggal. ”Jadi saya melanjutkan usaha ayah saya, buka di pasar Lama,” ujarnya.

Usaha reparasi jam di Pasar Lama, diakui Pak Tan, sampai Pasar Lama terbakar tepatnya tahun 1978.

Saat Pasar Lama terbakar, saat itu dia masih di kios tempat usahanya. Sehingga, dia masih sempat menyelematkan meja dan peralatan reparasi jam miliknya. Sedangkan kios tempat usahanya ludes terbakar.

”Sejak Pasar Lama itu terbakar, saya buka usaha reparasi jam di rumah ini (jalan A. Yani),” tuturnya.

Ternyata diakui Pak Tan, saat dirinya pindah buka usaha di rumahnya, banyak yang bertanya di Pasar Lama. Pelanggan pun banyak tahu dan datang langsung ke rumah. Dari tahun 1978 itu, dirinya buka usaha reparasi jam di rumahnya. Dirinya pun merasa, pelanggannya tidak berkurang.

”Pelanggan tidak berkurang saya pindah ke sini. Dari usaha reparasi jam ini, saya besarkan dan sekolahkan 3 anak sampai bisa kuliah,” ujarnya.

Pak Tan mengungkapkan, saat dirinya bersama ayahnya sebagai reparasi jam, ada nasihat yang dipegang saat ini. Kejujuran harus menjadi nomor satu. Supaya orang tidak jera, usahanya pasti akan awet.

Karena itu, dirinya tidak jarang dapati orang datang hendak perbaiki jam. Ternyata, jam itu sudah pernah direparasi orang lain, tapi ternyata masih ada kerusakan. ”Saya reparasi apa adanya, mesin yang error diperbaiki. Jadinya pelanggan tidak kecewa,” ujarnya.

Memperbaiki jam, entah itu jam dinding, jam tangan atau lainnya, paling sulit jam baterai pakai sistem  tenaga kinetik. Karena dia harus memadukan mesin baterai dengan sistem otomatis dalam jam itu sendiri.

”Jam kinetik itu lebih rumit dan mahal dibanding jam otomatis. Itupun baterainya di masa-masa sekarang, saya pernah belikan di Surabaya, paling murah baterainya Rp 350 ribu, belum jasa pasangnya,” ungkapnya.

Selama puluhan tahun menjadi tukang reparasi jam, diakui Pak Tan, tidak hanya kalangan masyarakat biasa yang menjadi pelanggan. Banyak pejabat di kota maupun Kabupaten Probolinggo yang biasa datang ke tempatnya. Meskipun hanya ganti baterai.

Biasanya, pejabat yang sudah kenal dirinya, tidak datang sendiri. Tetapi menyuruh orangnya (staf atau karyawan, red) datang untuk perbaiki atau hanya sekedar ganti baterai. ”Kalau belum kenal, biasanya datang sendiri. Saya sering tidak nyadari itu pejabat atau bukan. Tahunya pas sudah selesai diperbaiki,” ujarnya.

Siapa saja pejabat yang menjadi pelanggannya? Pak Tan mengaku, dirinya tidak hafal siapa saja pejabat yang menjadi pelanggannya.

”Pejabat siapa lupa saya. Pak Buchori dan wali kota sebelumnya sudah banyak. Zamannya tahun 1960 sudah ada pejabat yang jadi pelanggan. Kalau punya Bupati, yang datang orangnya,” ungkapnya.

Di usia 81 tahun, Pak Tan masih terus mengikuti perkembangan jam modern yang baru diproduksi. Termasuk dirinya mengenali jam-jam mahal dengan merk terkenal.

”Saya ikuti juga jam-jam bermerk, jam mahal, terkanal dan perkembangannya,” tuturnya.  (fun)

Editor : Ronald Fernando
#reparasi jam #Tukang Jam