Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Mengunjungi Angkringan di Depan TWSL Setelah Dua Bulan Direlokasi

Inneke Agustin • Senin, 25 Desember 2023 | 21:35 WIB

 

RAMAI: Suasana angkringan TWSL di Jalan Basuki Rahmat, Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo kini ramai sampai tengah malam.
RAMAI: Suasana angkringan TWSL di Jalan Basuki Rahmat, Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo kini ramai sampai tengah malam.

Dua bulan setelah dipindah dari Jalan Suroyo, kini angkringan di depan Taman Wisata Studi Lingkungan (TWSL) Kota Probolinggo, mulai ramai. Angkringan yang buka mulai bakda magrib sampai tengah malam itu, kini jadi tempat nongkrong anyar bagi remaja kota.

INNEKE AGUSTIN, Kedopok, Radar Bromo.

Jalan Basuki Rachmat Kota Probolinggo dikenal sebagai lokasi yang sepi. Terutama di depan TWSL. Tempat ini hanya ramai saat siang, karena dekat lokasi wisata eksitu di TWSL.

Sementara malam hari, hanya ada kendaraan lewat. Nyaris tidak ada orang berjualan.

Sebab, lokasi itu relatif gelap. Biasanya hanya jadi jalan tembus menuju Dringu, Kabupaten Probolinggo.

Meski sepi, toh lokasi ini dipilih oleh DKUP Kota Probolinggo sebagai salah satu tempat relokasi untuk pedagang angkringan.

Pedagang yang berjejer di Jalan Suroyo dipindah ke sejumlah tempat. Salah satunya di depan TWSL, Jalan Basuki Rachmat. Mereka dipindah pada Senin (2/10).

Sempat sepi di awal berjualan. Bahkan, sejumlah pedagang hanya kedatangan beberapa pembeli. Namun, dua bulan berlalu, tempat ini mulai ramai. Tidak kalah ramai dengan Jalan Suroyo.

Tidak hanya ramai. Angkringan di tempat ini kini berubah menjadi salah satu tempat nongkrong anyar remaja di kota. Muhammad Nizar, 23, warga Kelurahan/Kecamatan Kanigaran adalah salah satu PKL angkringan yang dipindah ke depan TWSL.

Angkringannya tepat di tengah-tengah, di depan galeri OPOP. Ia mengaku pendapatannya jauh lebih baik ketimbang saat berjualan di Jalan Suroyo. Dahulu ia hanya berpenghasilan Rp 300 ribu per malam, sekarang di malam Minggu bisa mencapai Rp 1 juta.

Penyebabnya karena fasilitas di TWSL lebih lengkap. Ada tenda, kran air bersih, penerangan yang optimal, bahkan ada live music. Selain itu juga lahan parkirnya lebih luas dan tidak mengganggu lalu lintas jalan. Kondisi itu dapat menarik pembeli dan pelanggan untuk berlama-lama nongkrong di tempatnya.

“Malah pembeli di sini suka nyumbang lagu juga. Bisa numpang charge handphone juga. Jadi lebih enjoy suasananya. Kalau saya lebih senang di sini ya,” katanya.

Ini juga diamini Niken Dwi Kirana, 19, dan Tri Novita Ayu, 21, sebagai pembeli. Mereka merasa tempat angkringan tersebut sangat menyenangkan. Terutama dengan adanya perlengkapan live music.

“Jadi kami bisa nyanyi-nyanyi sambil pesan makanan. Difasilitasi di sini, jadi seru dan menarik,” kata dua mahasiswa Universitas Panca Marga ini.

Meski demikian, tak semua PL angkringan di depan TWSL merasakan hal yang sama. Hadi, 22, warga Kelurahan Jati, Mayangan misalnya, merasakan sebaliknya. Maklum, angkringannya terletak di ujung barat.

Hadi menilai, lokasi ini kurang strategis bagi penjualannya. Sebab, penerangan di sana tidak sampai di angkringan miliknya. Meski sudah terdapat lampu hias, namun cahaya kurang terang. Bahkan, lima buah kursi angkringannya pernah hilang.

“Perlengkapan angkringan memang tiap hari saya taruk sini. Hari pertama buka, lima kursi hilang,” katanya.

Selain itu, Hadi juga tak kebagian tenda dan jauh dari titik live music. Berbeda dengan PKL angkringan yang berada di posisi tengah. Hadi pun khawatir, saat hujan dia tak dapat tempat untuk berteduh.

“Pelanggan lebih memilih tempat yang terang, ada atapnya, dan dekat live music. Jadi saya rasa ini masih kurang merata fasilitasnya,” katanya.

Bahkan, penghasilan hariannya jauh lebih kecil dibandingkan saat berjualan di Jalan Suroyo. Dahulu omzetnya bisa mencapai Rp 600 ribu per malam. Namun sejak direlokasi, omzetnya hanya Rp 50 ribu per malam.

“Tidak dapat sama sekali juga pernah. Kalaupun ramai hanya hari-hari tertentu, seperti Jumat dan Sabtu malam, sebab menginjak weekends. Itu pun paling cuma dapat Rp 300 ribu,” katanya.

Kondisi itu menurutnya terjadi karena lokasi angkringan terletak di pinggiran kota. Tak seperti di Jalan Suroyo yang merupakan jantung kota.

“Jadi kebanyakan yang ke sini warga Kabupaten Probolinggo. Sementara yang kota sudah jarang ke sini. Mungkin karena jaraknya terlalu jauh. Jadi enggan,” katanya.

Meski begitu Hadi tak lalu berputus asa. Dia tetap berupaya membawa pelanggan-pelanggan lama merapat kembali. Ia menggunakan bantuan sosial media untuk memamerkan lokasi angkringan terbarunya.

Hal yang sama dirasakan Dimas, 17. Bila angkringan Hadi berada di ujung barat, angkringan milik Dimas berada di ujung timur. Berada di dekat tempat pembuangan sementara (TPS) dan tidak terjangkau cahaya lampu. Bahkan, tidak ada tenda.

Akibatnya, pendapatan Dimas pun menurun. Bahkan pernah tak ada pemasukan sama sekali. Dahulu saat di Jalan Suroyo ia selalu mendapat penghasilan Rp 100 ribu ke atas, bahkan bisa sampai Rp 500 ribu saat ramai.

“Sementara sekarang hanya dapat Rp 20 ribu sampai Rp 400 ribu per malam. Dapat Rp 400 itu kalau ramai sekali, seperti malam minggu. Seringnya hanya dapat Rp 20 ribu sampai Rp 35 ribu,” kata warga Wiroborang, Kecamatan Mayangan itu.

Kepala DKUP Kota Probolinggo, Fitriawati mengatakan, memang fasilitas-fasilitas yang yang belum lengkap sepenuhnya. Pihaknya masih akan terus berupaya melengkapinya. “Akan terus kami upayakan untuk melengkapinya,” katanya.

Terkait penurunan penghasilan, Kepala DKUP Kota Probolinggo berpesan bagi seluruh pedagang untuk terus berinovasi. Baik dari cara penyajian, pelayanan pada konsumen, serta variasi menu yang ada.

“Bila semuanya dilakukan secara maksimal, Insyaa Allah juga bisa menarik minat konsumen. Bisa juga dengan cara melakukan promosi melalui sosial media,” katanya. (hn)

Editor : Jawanto Arifin
#angkringan #relokasi pedagang #twsl