Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Menikmati Kuliner yang Hanya Buka Malam di Kota Probolinggo

Inneke Agustin • Senin, 20 November 2023 | 16:50 WIB

KULINER: Sejumlah warga yang sedang menikmati kuliner malam di salah satu titik kuliner malam di Kota Probolinggo.
KULINER: Sejumlah warga yang sedang menikmati kuliner malam di salah satu titik kuliner malam di Kota Probolinggo.

Kota Probolinggo tak hanya menawarkan pemandangan indah dan keindahan pantai. Kota ini adalah destinasi yang wajib dikunjungi bagi pecinta kuliner malam. Malam di Kota Probolinggo adalah waktu yang sempurna untuk menjelajahi beberapa hidangan di sejumlah warung yang hanya buka malam hari.

INNEKE AGUSTIN, Probolinggo, Radar Bromo

Sejatinya Kota Probolinggo kaya akan kuliner malam, seperti bakso, sate, dan aneka gorengan dari angkringan.

Meski begitu, ada tiga hidangan yang selama ini familiar di malam hari. Yaitu, rawon, pecel, dan ketan sambal.

Umumnya rawon hanya dijual pada pagi hingga siang hari. Namun, ada warung rawon yang hanya buka malam hingga pagi di kota. Bahkan, ada yang buka hanya menjelang subuh.

Seperti Warung Puja di Jalan Raya Panglima Sudirman, Kelurahan Wiroborang, Kecamatan Wiroborang.

Warung ini baru buka pukul 03.00. Pemilik warung, Sukarso, 40, mengatakan, warung miliknya itu buka sejak 1979.

Awalnya warung ini dirintis oleh ibunya yang bernama Puja. Kemudian dilanjutkan olehnya.

“Kalau hari biasa buka jam tiga dini hari sampai jam sembilan pagi. Kecuali bulan Ramadan, bukanya lebih awal yaitu jam dua dini hari,” kata Sukarso yang merupakan warga Kelurahan Wiroborang.

“Dari zaman ibu saya, memang bukanya jam segitu,” kata Sukarso.

Kenapa harus buka dini hari, menurut Sukarso, memang warung dibuka khusus untuk menyediakan makanan bagi orang-orang yang merasa lapar di jam-jam tersebut. Sebab, mulai tengah malam hingga dini hari jarang ada kafe buka.

“Kami berpikir, bagaimana kalau ada orang lapar di jam itu? Akhirnya kami buka warung saat warung lain tutup. Tujuannya, menyediakan makan bagi orang-orang yang mungkin terbiasa makan atau merasa lapar di jam-jam itu,” jelasnya.

Warung milik Sukarso itu sederhana saja. Namun, pengunjungnya seolah tak pernah surut. Salah satunya, Agus Sugiarto, 60, yang merupakan pelanggan tetap. Dia bahkan hampir tiap hari marung di tempat itu.

“Hanya saat korona saja tidak. Sebab, ada kebijakan social distancing. Jadi, tidak berani keluar rumah. Ditambah habis kena stroke, saya agak sulit berjalan waktu itu. Alhamdulillah sekarang sudah lebih baik. Akhirnya makan lagi di sini,” katanya.

Dini hari itu, Agus memesan seporsi rawon dan segelas kopi. Menurutnya, Warung Puja itu sangat membantu dirinya dan orang lain yang merasa lapar di jam-jam itu.

“Saya mau ke masjid ini, salat Subuh. Sebelum subuhan, pasti mampir dulu ke sini. Isi perut. Setelah kenyang dan minum kopi, baru berangkat salat Subuh. Tiap hari ya begini,” katanya tersenyum.

Selain Warung Puja, ada juga warung milik Aang Kunaifi, 40, di Jalan KH. Hasan Genggong, Kelurahan Sukoharjo, Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo.

Sudah 25 tahun warung ini buka khusus di malam hari. Yaitu, sejak 1998. Tidak hanya menjual rawon. Warung ini juga menjual nasi jagung dan nasi pecel.

“Warung ini sudah buka 25 tahun. Jam bukanya mulai sore jam lima sampai jam dua dini hari,” terang Aang.

Aang mengatakan, tiap harinya ia mampu menjual 100 porsi. “Untuk nasi pecel dan nasi jagung harganya sama, Rp 10 ribu. Sementara rawon, Rp 12 ribu per porsi. Itu tanpa empal,” katanya.

Meski demikian, membuka warung malam hari memiliki suka duka tersendiri bagi Aang. Selain kedinginan saat musim angin, dia juga sering khawatir ada orang mabuk. Sebab, bukanya sampai tengah malam.

“Mengantuk juga sih. Tapi kalau ngantuk itu, masih bisa diakali dengan istirahat saat pagi. Sementara sukanya, ya enak juga tidak kepanasan. Kemudian waktu terasa berjalan lebih cepat. Tahu-tahu sudah jam tutup,” tuturnya

Bukan hanya makanan berat seperti rawon. Pencuci mulut seperti ketan sambal juga dijual saat malam hari. Seperti warung milik Siama, 43, di Jalan Pahlawan, Kebonsari Kulon, Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo.

Saat Jawa Pos Radar Bromo datang ke sana, warung itu tampak ramai meski sudah pukul 23.30. Beberapa orang sedang menyeruput kopi panas sambil memesan ketan sambal. Harga per porsi ketan pun sangat terjangkau, hanya Rp 5 ribu.

Warung milik Siama ini juga sudah lama buka. Dirintis oleh ibunya dan dilanjutkan olehnya. Namun, Siama mengaku tidak tahu persis kapan ibunya mulai membuka warung itu.

Sama dengan Aang, bagi Siama, salah satu tantangan utama dalam menjalankan usaha di malam hari adalah melawan rasa kantuk.

“Kalau tindak kriminal, selama ini minim. Sebab, ruas Jalan Pahlawan ini kan selalu ramai. Alhamdulillah hingga saat ini tidak pernah ada yang rusuh di sini,” kata perempuan yang berdomisili di Kelurahan Kebonsari Kulon, Kecamatan Kanigaran, ini. (hn)

Editor : Jawanto Arifin
#wisata kuliner #kuliner probolinggo #Kuliner Malam