Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Cerita Tabrani Pahlawan Nasional asal Madura Pernah Dipenjara karena Tolak Menyanyi Lagu Kebangsaan Belanda

Muhammad Fahmi • Minggu, 12 November 2023 | 01:05 WIB

 

 

Bangunan yang dulu sempat dimanfaatkan untuk Sekolah Kita. Inset Tabrani semasa masih hidup.
Bangunan yang dulu sempat dimanfaatkan untuk Sekolah Kita. Inset Tabrani semasa masih hidup.

MADURA, Radar Bromo-Mohammad Tabrani, tokoh asal Pamekasan Madura telah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional. Di momen bersejarah, hari pahlawan 10 November 2023.

          Tak mengejutkan bila Tabrani ditetapkan sebagai pahlawan nasional. Sebab, sumbangsihnya untuk bangsa cukup besar.

          Tokoh kelahiran Pamekasan, 10 Oktober 1904 tersebut memiliki sumbangsih intelektual besar bagi bangsa Indonesia.

Dia merupakan penggagas lahirnya bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan pada Kongres Pemuda I 30 April sampai 2 Mei 1926 di Batavia (Jakarta).

Kongres tersebut dilaksanakan oleh Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPI).

Saat itu M. Tabrani membacakan pidatonya di Gedung Vrimetselaarsloge, Jakarta, dengan bahasa Belanda.

Dia mendapat kepercayaan dari para anggota PPI menjadi ketua pada Kongres Pemuda I.

Kongres itu diikuti pemuda-pemuda dari berbagai organisasi Kebangsaan Indonesia.

Di antaranya, Sanusi Pane yang berasal dari Jong Bataks Bond, Bahder Djohan dari Jong Soematranen Bond, dan Muhammad Yamin dari Jong Soematranen Bond.

Kemudian, ada nama Jan Tole Soulehwij dari Jong Ambon, Paul Pinontoan dari Jong Celebes, Achmad Hamami dari Sekar Roekoen, dan Sarbani dari Jong Soematranen Bond.

Dinukil dari Radar Madura, sejarawan senior asal Pamekasan A. Sulaiman Sadik menerangkan, M. Tabrani lahir dan tumbuh besar pada masa kolonialisme Belanda.

Ayahnya bernama R. Panji Soeradi Soerowitjitro dan ibundanya R. Ayu Siti Aminah.

”Ayahnya bekerja sebagai asisten pemerintah. Kalau sekarang mungkin dikenal sebagai camat,” ucapnya.

Tabrani tinggal di Jalan Sersan Masrul, Kelurahan Gladak Anyar, Kecamatan Pamekasan.

Sayangnya, bekas tempat tinggalnya saat ini sudah tidak ada. ”Sudah berganti bangunannya,” tambah dia.

Tabrani tumbuh sebagai pemuda yang cerdas. Dia terbilang istimewa lantaran bisa mengenyam pendidikan. Di samping, spirit nasionalitas dan kebangsaannya sangat tinggi.

Tidak heran kalau pada masa itu penulis buku Ons Wapen (berbahasa Belanda) tersebut selalu ingin berontak dari penjajah.

”Dalam artian, (M.Tabrani) ingin segera merdeka dan terbebas dari belenggu penjajah,” tuturnya.

Tabrani pernah dipenjara karena tidak mau berdiri dan menolak menyanyikan lagu kebangsaan Belanda pada perayaan ulang tahun Ratu Wilhelmina.

Lokasinya di Loci (sekarang menjadi gedung Bakorwil IV Pamekasan).

”Saya lupa kalau tahunnya, yang jelas setelah itu dia dihukum. Pengacaranya menganggap dia gila, makanya Belanda percaya saja,” ujarnya.

Saat itu, sambung Sadik, M. Tabrani hadir bersama teman-teman sekolahnya. Yakni, dari Sekolah Kita.

Sekolah tersebut berdiri di sekitar Kelurahan Barurambat Kota. Tenaga pengajarnya dari kalangan teman-temannya sendiri.

”Mungkin, karena waktu itu dia juga dekat dengan pemerintah, diperbolehkan mendirikan sekolah,” tambahnya.

Bangunan yang dulu merupaan rumah M Tabrani. (Radar Madura)
Bangunan yang dulu merupaan rumah M Tabrani. (Radar Madura)

Sulaiman mengaku lupa lokasi gedung Sekolah Kita. Akan tetapi, kemudian gedung tersebut dipakai sebagai asrama veteran.

”Saya sudah lupa, apakah gedung itu sekarang masih ada atau tidak,” ucapnya.

Radar Madura berupaya melakukan penelusuran dengan mendatangi Kelurahan Barurambat Kota. Di tempat itu memang terdapat dua bangunan tua yang saat ini dimanfaatkan sebagai asrama.

Satu di utara gedung perpustakaan daerah (perpusda) dan satunya di sebelah selatan.

Sedangkan, yang diduga kuat sebagai bekas Sekolah Kita yaitu bangunan yang berada di sebelah selatan.

Bangunan tua dengan delapan pintu itu sekarang menjadi Asrama Keluarga Tim Har Pekasasan Paldam V Brawijaya.

Salah satu orang yang menempati bangunan itu yaitu Subaidi dengan istrinya, Nomy Pasalinda, warga asal Dusun Brambang, Desa Kalimo’ok, Kecamatan Kalianget, Sumenep.

Ketika ditanya mengenai gedung tersebut, pria yang karib disapa Didik itu mengaku tidak banyak tahu.

Namun, dari cerita lisan yang berkembang diyakini bangunan itu sebagai bekas hotel dan pabrik roti.

”Masyarakat sekitar itu rata-rata pendatang, termasuk saya. Tapi, saya sudah enam tahun menempati bangunan itu,” katanya.

Dia berspekulasi, bangunan tersebut cenderung bekas hotel. Sebab, di samping memiliki banyak ruangan, juga ada seperti aula.

”Tapi, mungkin juga pernah dipakai untuk sekolah. Kalau informasi yang saya terima seperti itu,” ujarnya.

Menurut Didik, gedung tersebut akan direnovasi. Tanahnya resmi bersertifikat Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Jika dibiarkan, khawatir tidak bisa bertahan lama karena sudah sangat tua. ”Hanya itu yang saya tahu,” tambahnya.

JPRM juga melakukan penelusuran melalui beberapa literatur tentang Sekolah Kita. Namun, tidak ada catatan sangat spesifik.

Kecuali dalam buku Jagat Wartawan Indonesia (1981) karya Sobagio I.N. Buku itu menyebutkan, antara 1932–1936 Tabrani pulang ke Madura dan mendirikan lembaga pendidikan.

Yaitu, Sekolah Kita yang merupakan bagian dari Hollands-Inlandsche School (HIS) dan Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO).

Artinya, itu terjadi setelah M. Tabrani pulang dari Eropa menempuh studinya tentang ilmu jurnalistik. Yakni, mulai dari Prancis, Italia, Belanda, Inggris, Denmark, Austria, dan sekitarnya. (di/jup/RadarMadura)

Editor : Muhammad Fahmi
#Tabrani #pahlawan nasional