Sejumlah areal pertanian warga di Desa Binor, Kecamatan Paiton, rusak akibat hama babi hutan. Hal ini membuat PLN Nusantara Power UP Paiton tergerak menciptakan inovasi alat pengusir babi hutan. Menggunakan sensor gerak, alat akan mengeluarkan gonggongan anjing saat hewan liar tersebut melintas.
ACHMAD ARIANTO, Paiton, Radar Bromo
Mengusir hama bisa dilakukan dengan cara ramah lingkungan. Tidak harus merusak, sehingga bisa menyebabkan ekosistem terganggu.
Inilah yang dilakukan di Desa Binor, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo, saat puluhan babi hutan kerap menyerang lahan pertanian seluas 4,5 hektare di Dusun Krajan.
Babi hutan itu biasanya datang di malam hari dan merusak tanaman di persawahan. Akibatnya, tanaman yang ada di sawah tidak dapat tumbuh dengan baik.
Bahkan, saat masuk masa panen, tak jarang mengalami gagal panen.
Andai masih bisa dipanen, hasilnya tidak bisa maksimal. Sehingga, bisa menimbulkan kerugian dalam jangka panjang.
Ketua Komunitas Pelindung Rimba dan Satwa Liar Indonesia (Perisai) Zainal Abidin Fadilah, 42, menjelaskan, Dusun Krajan merupakan daerah berbukit yang berbatasan dengan Kabupaten Situbondo.
Di sana memang ada jalan tempat babi hutan biasa beraktivitas. Bahkan, sampai mengarah ke persawahan milik warga.
Saat musim tanam padi, jagung, dan singkong, banyak babi hutan turun dari bukit menuju persawahan. Hal itu biasanya terjadi antara bulan Januari hingga Juni.
Aktivitas hewan tersebut membuat resah petani setempat. Sebab, babi datang di malam hari. Sementara sawah-sawah itu jauh dari permukiman. Sehingga minim pengawasan saat malam hari.
"Warga kerap mengeluh adanya aktivitas hama babi hutan tersebut. Kemudian PLN Nusantara Power UP Paiton tergerak menciptakan inovasi alat pengusir babi hutan," katanya.
Alat pengusir babi hutan tersebut memiliki tinggi sekitar 2,5 meter. Menggunakan sensor gerak mengarah pada empat titik atau empat penjuru angin. Mulai dari timur, barat, utara, dan selatan.
Terdapat dua alat pendeteksi yang dipasang. Alat tersebut dipasang pada jalur atau rute aktivitas babi hutan.
Sensor yang sudah terpasang mampu mendeteksi gerakan hewan liar maksimal radius 20 meter.
Saat ada babi hutan lewat dekat garis sensor, maka otomatis akan memberikan sinyal kepada alarm. Alarm kemudian bereaksi dengan mengeluarkan bunyi anjing.
"Alat pendeteksi dari sensor gerak. Nantinya alat akan mengeluarkan gonggongan anjing. Sebab, secara alami anjing memang hewan yang ditakuti oleh babi hutan," ucap Asisten Manajer Umum, Sipil, dan CSR Nusantara Power Wiji Dwi Purbaya.
Dengan cara ini, memerangi hama babi dapat dilakukan dengan aman. Suara yang dikeluarkan oleh alat itu membuat babi kaget dan ketakutan.
Sehingga, urung melintasi sawah atau lahan pertanian warga. Sawah pun menjadi lebih aman dan tidak dirusak babi hutan.
Cara ini juga lebih ramah lingkungan. Sebab, tidak membunuh babi hutan. Hanya menghalau agar tidak masuk area persawahan milik warga. Dengan demikian, ekosistem sekitar juga lebih terjaga dan seimbang.
Alat ini dipasang di pintu masuk yang menjadi jalur babi dari hutan menuju lahan pertanian. Alat ini setidaknya dapat menjangkau 4,5 hektare lahan.
Alat itu kini dimiliki sembilan petani yang paling terdampak dan dirugikan dari serangan babi hutan.
Sistem kerja dari alat ini menggunakan tenaga surya, sehingga lebih ramah lingkungan dan tidak membebani kelompok tani. Dari sisi operasional pun lebih murah perawatannya.
"Alat sudah dipasang sejak September lalu. Memerangi hama dapat dilakukan sejalan dengan keseimbangan ekosistem," tandasnya.
Baca Juga: November Diprediksi Masih Kemarau, Pengiriman Air Masih Dilanjut
"Kami harap alat bisa dimanfaatkan dengan maksimal, sehingga hasil panen petani lebih banyak. Sebab, hasil panen sangat berhubungan dengan pemenuhan ekonomi," pungkasnya. (hn)
Editor : Jawanto Arifin