Gandheng Renteng Telulas hadir dengan tema ‘Theklek Kecemplung Kalen” yang mengingatkan kita untuk memaksimalkan yang ada, ketimbang mencari yang baru. Puluhan seniman merespons beragam isu sosial melalui karyanya. Sebab, mereka percaya, seni adalah bahasa terdalam bagi orang-orang yang peka.
MUHAMAD BUSTHOMI, Pasuruan, Radar Bromo
Puluhan botol bening tertumpuk rapi di atas lima baris rak yang membentuk tubuh dinosaurus. Memadukan botol plastik, rak besi, dan karton. Karya instalasi itu seolah penanda selamat datang bagi pengunjung pameran seni rupa Gandheng Renteng Telulas di Gedung Serbaguna Uniwara Kota Pasuruan.
Perupa karya tersebut, Zuhkhriyan Zakaria menamainya “Dona Dino” yang berarti Donasi Dinosaurus. Jek–sapaan Zakaria–tampaknya ingin menggaet setiap orang yang datang untuk ikut berdonasi. Tak hanya berupa uang. Apa saja bisa didonasikan. Tak terkecuali benda-benda yang punya nilai makna dan memorabilia bagi yang mendonasikan.
Dari lebih 40 botol yang membentuk tubuh dinosaurus itu, hanya beberapa botol saja yang masih kosong. Sebagian besar sudah terisi donasi. Mulai dari uang koin, gelang, strap jam tangan, hingga plester. Rak paling bawah tersimpan buku, kacamata, pulpen, sendok, masker, dan barang lainnya. Mereka yang berdonasi juga bisa menitipkan pesan berbentuk tulisan.
Karya instalasi yang dipamerkan sejak 27 Oktober hingga 3 November mendatang itu, nantinya akan dilelang. Hasilnya disumbangkan untuk korban konflik di Palestina.
Sekilas, karya tersebut menyiratkan tema pameran ke-13 yang diusung Komunitas Guru Seni dan Seniman Pasuruan (KGSP) kali ini. Dan selayaknya tradisi yang mengakar di Gandheng Renteng, temanya selalu bernuansa parikan; theklek kecemplung kalen, timbang golek aluwung balen.
”Artinya, daripada bersusah payah mencari sesuatu yang hilang untuk memulai sesuatu yang baru, lebih baik memaksimalkan yang ada atau mengulangi untuk memperbaiki,” kata Wahyu Nugroho, pendiri KGSP.
Seniman asal Purwosari, Kabupaten Pasuruan, itu menegaskan, Gandheng Renteng selalu mencoba konsisten untuk merespons kondisi sosial yang terjadi. Ia yakin, seni menjadi bahasa paling ampuh. Dan bahasa seni hanya bisa didengar oleh mereka yang peka.
”Alasan kami bertahan sampai Gandheng Renteng Telulas ini juga demi membiasakan generasi muda kita untuk akrab terhadap karya seni,” katanya.
Diakui atau tidak, melalui kekuatan karya seni, juga mampu mempengaruhi persepsi manusia. Kendati konsekuensi tersebut jelas bukan sesuatu yang datang tiba-tiba. Dengan terbiasa mengagumi karya seni, lambat laun seseorang akan mengalami perubahan sikap.
”Dan, suatu niscaya akan mengalami kehalusan budi pekerti yang menjadikan orang itu lebih peka. Paling tidak, terhadap lingkungan terkecilnya, seperti keluarga,” ungkap Wahyu.
Senada dengan Wahyu, kurator Gandheng Renteng Telulas Achmad Rosidi juga mengamini pentingnya kepekaan para seniman terhadap isu-isu sosial. Dan mungkin itu yang menjadi salah satu jawaban kenapa Gandheng Reteng bertahan hingga sekarang.
”Kami merasakan kekuatan dari energi sosial itu yang mungkin membuat kita terus bertahan selama 13 tahun,” ungkap Cak Ros, sapaannya.
Konsistensi itu pula yang menjadikan Gandheng Renteng semakin bergengsi. Ada sekitar 115 karya disajikan di ruang pamer. Mulai dari seni dua dimensi dan tiga dimensi.
Sedikitnya, ada 68 seniman berasal dari berbagai kota. Bukan hanya dari Pasuruan Raya. Melainkan juga dari Jakarta, Bandung, hingga beberapa daerah di Jawa Timur. Sastrawan terkemuka Zawawi Imron juga ikut memamerkan karyanya berjudul Kerapan Sapi.
Meski begitu, Cak Ros meyakinkan bahwa aturan main KGSP bukan hanya menampung karya-karya seniman yang sudah moncer. ”Justru Gandheng Renteng ini menjadi semacam laboratorium antarseniman yang sama-sama punya visi dalam menyikapi setiap persoalan sosial, maupun personal di masyarakat untuk saling beradu gagasan,” ujarnya. (hn)
Editor : Jawanto Arifin