Perjalanan hidup Dr. Andriyanto, S.H., M.Kes. sebelum menjadi Pj Bupati Pasuruan seperti sekarang, penuh lika-liku. Ia pernah merasakan hidup di titik terendah saat orang tuanya ditipu partner kerja. Bahkan, untuk melanjutkan studi ia harus bekerja serta mengandalkan bantuan orang sekitarnya dan beasiswa.
IWAN ANDRIK, Bangil, Radar Bromo
Lahir di Malang pada 9 Juni 1966, Andriyanto sebenarnya berasal dari keluarga mampu. Ayahnya seorang ASN di lingkungan Pemda Malang, yang sempat menjejakkan kaki di lingkungan politik; sebagai petinggi Partai Golkar di wilayah setempat. Bahkan, ayahnya pernah menjadi anggota DPRD.
Namun, semua itu berubah saat (almarhumah) ibunya ditipu. Saat itu, ibunya bisnis jual beli emas perhiasan dengan investasi yang sangat besar. Namun, dana yang digunakan berbisnis dibawa kabur orang.
"Sejak itulah, perekonomian keluarga kami goyang. Hal itu saya rasakan ketika masih sekolah dasar," kata Andriyanto mengawali kenangan perjalanan hidupnya.
Anak ketujuh dari delapan bersaudara ini pun terpaksa harus berjuang ekstra agar bisa melanjutkan studinya. Bahkan, ketika SMA, ia harus membantu orang tuanya bekerja. Yakni, dengan menjajakan kue pastel dan kacang serta mengelesi adik-adik kelasnya.
Kondisi perekonomian keluarganya semakin terpuruk ketika orang tuanya pensiun. Ia bahkan hampir tak bisa melanjutkan studi karena orang tuanya harus berjibaku dengan utang yang melilit keluarga mereka.
"Beruntung, ada tetangga baik yang membantu saya untuk bisa tetap melanjutkan studi," kenang Andriyanto yang kala kecil bersekolah di SDK Petra Malang dan melanjutkan ke SMPN 2 Malang serta SMA PPSP IKIP Malang.
Lulus SMA, ia diterima di Universitas Brawijaya. Namun, karena tak memiliki biaya, ia tak melanjutkan studinya. Ia kemudian memilih untuk menempuh pendidikan di Akademi Gizi Malang.
"Saya memilih universitas yang ada ikatan dinas. Sehingga, ketika lulus, bisa langsung bekerja. Pendidikannya pun gratis," ujar suami dari Luhur Ngudi Setya Ningrum ini.
Perjuangan untuk menempuh pendidikan D-3 di Akademi Gizi Malang, benar-benar tak mudah dijalaninya. Ia harus bangun pagi-pagi buta agar tidak terlambat kuliah. Maklum, ia menuju kampusnya tidak naik kendaraan. Melain jalan kaki sejauh 7 km.
"Meski berat, saya menjalaninya dengan penuh riang gembira. Karena saya yakin, nasib akan berubah ketika kita berjuang keras untuk mengubahnya," tutur bapak dua anak ini.
Meski sudah kuliah di Akademi Gizi, Andriyanto tetap bercita-cita menjadi lawyer, jaksa, atau hakim. Agar bisa membantu orang yang mengalami masalah hukum.
Niatnya itu coba dia wujudkan dengan berkuliah ke Universitas Brawijaya. Ia mengambil jurusan hukum di kampus ternama itu.
"Selain masih kuliah di Akademi Gizi, saya juga berkuliah di Universitas Brawijaya Malang mengambil jurusan hukum. Saya bisa kuliah di Brawijaya karena mendapatkan beasiswa," tambah dia.
Apalagi, ada orang-orang baik yang membantunya. Termasuk dekannya waktu itu, Profesor Mufti Fajar yang banyak membantunya.
Tak sekadar kuliah. Beberapa organisasi kampus diikutinya. Hingga akhirnya ia bisa lulus kuliah. Ia berhasil diangkat sebagai ASN golongan II waktu itu di Surabaya.
"Waktu itu, saya juga aktif mengajar sebagai dosen di Malang. Jadi saya wira-wiri Surabaya-Malang karena waktu itu masih tinggal di Malang. Nyambi dosen di Universitas Muhammadiyah Malang dan Widyagama Malang," bebernya.
Sejak itulah, kehidupan ekonominya mulai stabil. Ia sering menjadi narasumber di berbagai kesempatan. Serta menjadi pengajar di sekolah gizi. Bahkan, ia akhirnya mengakhiri masa lajangnya dengan menikahi pujaan hatinya.
Kehidupannya kian menanjak setelah menikah. Ia bahkan sempat didapuk sebagai Direktur Akademi Gizi Surabaya. Bertahun-tahun lamanya dia juga mengajar di sana.
Ia pun tak melupakan masa kelamnya. Sehingga, ketika menjadi direktur, ia banyak mengeluarkan kebijakan nyeleneh. Khususnya untuk membantu kaum duafa yang berniat sekolah di tempat yang dipimpinnya.
Kurang lebih sebelas tahun lamanya ia bertugas di Akademi Gizi Malang. Ia pun tak lupa membantu anak-anak yatim. Karena dalam benaknya, memberikan bantuan atau menafkahi anak yatim adalah tugas semua.
"Saya mungkin mempunyai kemampuan. Tapi, itu tidak akan berarti apa-apa tanpa doa anak yatim tersebut," ujar lulusan S-2 Epidemiologi Kedokteran UNAIR Surabaya dan S-3 PSDM UNAIR itu.
Ia mengaku, tak pernah membayangkan bisa menjadi Pj Bupati Pasuruan. Jabatannya di Pemprov Jawa Timur saat ini saja, tidak pernah dia bayangkan sebelumnya. Yaitu, sebagai kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dan Kependudukan Jatim serta Kepala Brida Jatim.
Bahkan, ketika menjadi Pj Sekda Trenggalek pada 2022, merupakan hal yang luar biasa baginya. Apalagi, saat ini. Bisa menjadi Pj Bupati Pasuruan.
"Ini mungkin dukungan doa dari anak-anak yatim," beber pejabat yang rutin membantu lembaga-lembaga panti asuhan tersebut.
Tentu, banyak tantangan yang harus dihadapinya selama menjabat Pj Bupati Pasuruan ke depan. Ia pun akan berusaha bekerja semaksimal mungkin. (hn)
Editor : Jawanto Arifin