Aulia Firdausyiah, 21, dan Asviatul Maufiroh, 21 mendapatkan kesempatan untuk kuliah kerja nyata (KKN) di luar negeri. Selama tiga bulan, mahasiswi Universitas Nurul Jadid (Unuja) ini mengajar di Thailand.
FAHRIZAL FIRMANI, Paiton, Radar Bromo
Ketertarikan Aulia Firdausyiah dan Asviatul Maufiroh pada Thailand membuat keduanya mantap memilih negeri gajah putih itu sebagai lokasi KKN. Gayung bersambung. Ternyata keinginan mereka disetujui oleh Universitas Nurul Jadid (Unuja) Paiton, tempat keduanya kuliah.
Ada beberapa pilihan lokasi KKN memang. Untuk KKN internasional, tujuannya adalah Malaysia dan Thailand. Sementara, KKN dalam negeri memiliki tujuan Wakatobi, Sulawesi Tenggara; Bali dan Jember.
Universitas menetapkan beberapa kriteria bagi mahasiswa yang ingin mengikuti KKN internasional. Mereka harus bisa membaca dan menulis Alquran, bisa mengajar dan diutamakan memiliki kemampuan berbahasa asing.
Masing-masing fakultas tempat mereka kuliah, menunjuk keduanya sebagai perwakilan. Total ada 75 mahasiswa dari seluruh Indonesia mengikuti KKN di Thailand. Dan dari Kabupaten Probolinggo diwakili keduanya.
Asvi-sapaan Asviatul menuturkan, ia sengaja memilih Thailand karena penasaran dengan negara tersebut. Apalagi di negara ini, ada suku yang beragama Islam. Sementara orang tuanya juga merestui.
Ada dua tahap seleksi yang harus mereka ikuti sebelum KKN ke Thailand. Yaitu, seleksi administrasi dan wawancara. Dan terpilih empat orang dari Unuja, termasuk mereka yang KKN ke Thailand. Dua orang lainnya asal Kabupaten Jember dan Kabupaten Situbondo.
“Tertarik buat pengalaman dan bisa menambah pengetahuan bahasa dan budaya di sana. Makanya milih Thailand,” katanya.
Mereka pun berangkat 3 Juli. KKN diikuti selama tiga bulan hingga 4 Oktober. Sebelum berangkat, peserta KKN diberi pengarahan oleh pihak kampus. Ia diminta agar mempelajari bahasa Melayu khas Thailand.
Sebab lokasi ia mengajar menggunakan Bahasa Melayu. Ia mengajar tingkat SMP dan SMA di Pesantren Islam Withayatan School. Pada pagi hingga sore hari, ia mengajar Bahasa Inggris. Ada 300 siswa yang mengikuti kelasnya.
Sedangkan malam hari, ia mengajar Furudhul Ainiyah tentang tajwid dan membaca Alquran. Total siswa yang mengikuti kelas ini sebanyak 70 orang. Lebih sedikit, sebab yang mengikuti santri.
“Pesantren ini juga memiliki sekolah umum islami. Kalau siang hari, banyak siswa non santri yang belajar,” jelas Aulia.
Diakuinya saat awal mengajar, ia sempat mengalami culture shock. Karena kurang lancar berbahasa melayu, ia bingung untuk berkomunikasi dengan siswa. Sehingga, harus menggunakan bahasa isyarat. Baru dua minggu, ia lancar.
Ia mengajar selama lima hari, kecuali Jumat dan Sabtu. Dia mengajar dari pukul 07.00 sampai pukul 16.30. Di sana, aulia menginap di rumah kiai pesantren tersebut. Sehingga setiap harinya dia diantar jemput untuk mengajar.
Katanya, siswa yang diajarnya tidak nakal. Mereka cenderung antusias. Untuk merangsang mereka semangat dengan materi yang diberikan, ia meminta mereka menggambar dan menjelaskan di depan kelas.
Agar semakin akrab dengan siswa, ia sering ikut nimbrung saat jam istirahat dari pukul 10.15 hingga 10.30 dan pukul 12.00 hingga 13.00. Asvi biasanya saling tukar cerita soal budaya masing-masing negara.
Sistem penilaian di pesantren ini menggunakan gambar bintang. Jika mendapat lima bintang, maka mendapat nilai sempurna. Namun jika dapat bintang satu, maka mendapat nilai buruk.
“Misalnya materi soal past tense atau kalimat lampau. Saya minta mereka menggambar aktivitas di hari kemarin dan bercerita di depan temannya,” tuturnya.
Sementara, Asvi mengajar bahasa Arab dan Fikih di sekolah Ban Cho-Airong untuk tingkat SD dan SMP mulai pukul 08.00 sampai 16.00. Siswa di sekolah ini, ada yang beragama Islam dan adapula yang Buddha.
Uniknya, saat mengajar siswa Buddha tidak meninggalkan kelas. Mereka tetap memperhatikan materi yang diajarkan. Bahkan, saat acara maulid nabi yang diadakan oleh siswa muslim, mereka turut bersukacita.
“Mereka sempat tanya, ini perayaan apa. Dan saya jelaskan memperingati kelahiran Nabi Muhammad. Dan mereka cukup antusias,” terang Asvi.
Selama KKN, ia tinggal di rumah sewa yang ditanggung oleh sekolah. khusus, pada sabtu dan minggu, ia libur. Namun, ia biasanya masih membantu mengajar di tingkat diniyah.
“Sistem penilaian di sekolah yang diajarnya menggunakan angka 1 sampai 5. Paling jelek mendapat angka lima, sementara angka 1 adalah angka sempurna,” katanya.
Aulia menambahkan, kantin di pesantren Withayatan School ini higienis. Rata-rata yang dijual adalah makanan ringan. Untuk makanan seperti nasi berupa bungkusan. Makanan yang dijual setiap harinya berbeda.
Selama di Thailand, ia mendapatkan upah dari mengajar sebesar 1000 bath atau senilai Rp 430 ribu. Namun uang ini lebih dari cukup. Karena ia juga membawa uang saku dari Indonesia dan sering ditraktir untuk makan.
“Kalau liburan, saya biasanya mengunjungi seputaran Fatani, Naratiwat, Songkla dan Yala. Kalau tidak begitu ya di rumah saja,” tuturnya. (hn)
Editor : Jawanto Arifin