Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Hobi Merajut Guru Madin asal Beji Ini Hasilkan Cuan, Produk Dipasarkan hingga Australia

Iwan Andrik • Selasa, 17 Oktober 2023 | 21:35 WIB
PESANAN TAS: Atikah, 43, saat merajut pesanan tas dari pelanggannya.
PESANAN TAS: Atikah, 43, saat merajut pesanan tas dari pelanggannya.

Atikah, 43, memanfaatkan dengan baik waktu luang yang dimilikinya di sela-sela profesinya sebagai guru Madin. Dia mengisinya dengan merajut. Siapa sangka, hobi itu kini bisa mendatangkan cuan. Hasil rajutannya terjual bahkan sampai ke Malaysia hingga Australia.

IWAN ANDRIK, Beji, Radar Bromo

Jarum di tangan perempuan berkerudung itu meliuk-liuk. Liukannya membuat helaian benang yang dipegang, tersatukan. Pola pun terbentuk.

Butuh waktu dua jam, bahkan lebih untuk merangkai pola. Hingga kemudian, sebuah produk rajutan terbentuk.

"Ada rajutan gantungan kunci, tas rajut dan beberapa produk lainnya," kata Atikah, saat ditemui di rumahnya di Nyangkring, Desa Baujeng, Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan.

Istri dari Zainul Arifin ini memang dikenal terampil merajut. Kemampuannya itu sebenarnya sudah dimilikinya sejak kecil. Waktu itu, ia sering bermain ke rumah tetangganya. Kebetulan, ada tetangganya yang seorang pengerajin rajutan.

"Saya akhirnya tertarik juga merajut. Dari situ, saya kemudian belajar merajut," tandasnya.

Namun, ia tak menekuninya secara mendalam. Hanya sekedar hobi untuk mengisi waktu luang. Bahkan kesibukannya di pesantren sempat membuatnya vakum merajut.

Hingga pada 2015, tiba-tiba ia kepikiran untuk menekuni kembali hobinya merajut. Sebab, saat itu dia tidak sesibuk sebelumnya. Ada banyak waktu luang yang bisa dimanfaatkannya.

"Anak-anak sudah besar. Di rumah banyak waktu luang. Lalu ngajar di Madin biasanya dilakukan menjelang sore. Jadi, saya kepikiran untuk menyalurkan hobi merajut di waktu luang. Iseng-iseng ngisi waktu luang dan dapat cuan," imbuh ibu dua anak tersebut.

Atikah memang seorang guru Madin di Al Munawar, tak jauh dari rumahnya. Ia mulai mengajar di Madin setempat sejak 2014. Sebelumnya, ia juga mengajar di Ponpes Al Ayubi, tahun 2002 setelah lulus dari Ponpes Salafiyah Bangil.

Di Madin, ia biasanya mengajar menjelang sore. Sehingga ketika pagi hingga siang hari, banyak waktu luang setelah aktivitas rumah selesai.

"Kalau dulu anak-anak masih kecil, sibuk merawat mereka. Sekarang sudah besar-besar dan mondok. Sehingga banyak waktu longgar," papar dia.

Waktu longgar itulah, yang kemudian "dilarikannya" dengan menekuni kembali hobinya saat masih SD. Lama tak merajut, memang membuatnya sempat canggung.

Beberapa kali, Atikah bahkan gagal membuat rajutan yang diharapkan. "Kurang lebih sebulan saya belajar merajut lagi," timpalnya.

Ketelatenannya belajar kembali itu akhirnya berbuah. Mulanya, ia membuat gantungan kunci untuk anaknya. Ternyata, teman-teman anaknya banyak yang berminat. Mereka pun memesan gantungan kunci pada Atikah.

Sejak itulah, ia semakin antusias. Tak hanya membuat gantungan kunci. Tapi produk lainnya. Ada tas, topi, tempat tisu dan barang-barang lainnya.

Karena produk tangan, harga yang ditawarkan tidak bisa dibandingkan dengan pabrikan. Ia membandrol produknya antara Rp 10 ribu sampai Rp 500 ribu. Tergantung barang dan kerumitannya.

Gantungan kunci misalnya, dihargai Rp 10 ribu sampai Rp 20 ribu. Sementara tas, bisa Rp 100 ribu sampai Rp 500 ribu.

Atikah mengaku, produknya tidak hanya merambah pasar lokal. Karena beberapa kali ada pesanan dari luar negeri. Seperti Malaysia, bahkan Australia.

"Ada teman facebook yang memesan produk saya. Tidak hanya dari Indonesia. Tapi ada yang dari Malaysia, bahkan Australia," timpal dia.

Memang, penjualan produknya tidak menentu. Kadang bisa 20 pieces sebulan, kadang juga lebih. Namun, tak jarang, kosong sama sekali.

"Justru ketika pandemi Covid-19, pesanan yang saya terima cukup banyak. Bisa sampai seratus, bahkan lebih sebulannya. Khususnya untuk tali masker," papar dia. (hn)

Editor : Jawanto Arifin
#merajut #Guru Madin #UMKM Pasuruan