Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Cerita Nur Hayati, Salah Satu Pelopor Batik di Kota Pasuruan

Muhamad Busthomi • Selasa, 3 Oktober 2023 | 21:55 WIB
PELOPOR BATIK: Nur Hayati, 53, menunjukkan batik karyanya di stan pameran UMKM di hall P3GI Pasuruan.
PELOPOR BATIK: Nur Hayati, 53, menunjukkan batik karyanya di stan pameran UMKM di hall P3GI Pasuruan.

Batik menjadi warisan budaya tak benda yang ditetapkan UNESCO sejak 2009. Setiap 2 Oktober, bahkan diperingati sebagai Hari Batik Nasional. Seiring waktu, batik menjadi seni tradisional yang tak pernah pudar. Geliatnya terus tumbuh. Tak terkecuali di Kota Pasuruan. Nur Hayati adalah salah satu pelopor batik dari kota ’Madinah van Java’.

MUHAMAD BUSTHOMI, Pasuruan, Radar Bromo

Beberapa helai kain batik terpajang di salah satu stan pameran UMKM di hall P3GI Pasuruan. Ada juga yang berbentuk kain kerudung hingga sepatu. Nur Hayati mengenalkan satu per satu produknya ke pengunjung yang singgah ke stannya.

Perempuan 53 tahun itu sudah sekitar satu dasawarsa terakhir menggeluti industri batik. Bahkan, boleh dibilang ia salah satu pelopor batik di Kota Pasuruan, setelah cukup lama bekerja sebagai buruh di sebuah pabrik sepatu.

Nur Hayati sendiri mengenal industri batik setelah mengikuti program pembinaan batik yang digelar Diskoperindag Kota Pasuruan pada 2014. ”Awalnya nggak bisa sama sekali. Bahkan, pegang canting saja nggak bisa,” ujarnya tersenyum mengingat masa lalu.

Keterlibatannya dalam program itu, boleh dikata juga suatu kebetulan. Kala itu, Nur Hayati sudah punya pekerjaan memayet baju pengantin. Salah satu temannya yang mengajar di SMPN 3 lalu menawarkan padanya untuk ikut pelatihan membatik. Dia pun mengiyakan dan mengikuti pembinaan itu selama sepekan di kantor wali kota.

”Awalnya sulit memang, tapi saya tak pernah menyerah. Membatik itu butuh ketelatenan,” ungkapnya.

Sejak saat itu, Nur Hayati terus berkembang. Dari 20 peserta yang mengikuti pelatihan, hanya dia dan Isbandi yang bertahan. Hingga akhirnya mereka mendirikan Koperasi Batik Kali Gembong.

Setelah lima tahun merintis koperasi batik, Nur Hayati memilih untuk mandiri. Dia pun mendirikan UMKM Cahya NR yang bertahan hingga sekarang.

Selama ini, perempuan yang tinggal di Gang Jambangan, Kelurahan/Kecamatan Purworejo, itu cukup konsisten membumikan batik khas Kota Pasuruan. Yakni, batik dengan motif daun sirih dan burung kepodang.

Namun belakangan, Nur Hayati juga aktif memproduksi batik ’Harmonie’ yang belum lama ini menjadi motif baru khas kota ’Madinah van Java’. Motif baru itu merupakan inovasi dari motif batik yang sudah ada sebelumnya. Memadukan beberapa unsur yang menggambarkan Kota Pasuruan.

Makna setiap motifnya juga sangat filosofis. Ada tugu alun-alun dililit daun sirih yang menggambarkan kehidupan masyarakat kota.

Lalu motif keris untuk mengenang pahlawan Untung Suropati. Ada juga air dan ombak lautan yang menggambarkan letak Kota Pasuruan di wilayah pesisir.

Selain itu, ada motif sirih temu rose yang dipercaya berkhasiat sebagai obat, bermakna harapan agar kehidupan warga harmonis. Sementara motif daun suruh bersanding dengan belah kopi diartikan menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan.

Menurut Nur Hayati, proses pembuatan batik di UMKM Cahya NR bukan hanya soal teknik, tapi juga perasaan. ”Warna-warna yang kami gunakan cenderung lebih soft, tidak ngejreng seperti umumnya,” kata dia.

Hasil pewarnaan dari setiap batik yang dihasilkan Nur Hayati itu memang berbeda. Bahkan, dia sempat berupaya agar batik buatannya bisa mengeluarkan warna yang mencolok seperti hasil pembatik lain.

”Sudah sering saya bereksperiman, terutama dalam campuran pewarna. Tapi tetap saja hasilnya soft. Mungkin sudah dari hati pembuatnya yang lemah lembut,” ujarnya berkelakar.

Ia lantas tak mempersoalkan hasil warna batiknya yang cenderung lembut. Justru hal itu dijadikannya ciri khas batik buatan Cahya NR.

”Karena meskipun pewarnanya sudah kental, hasilnya tetap nggak bisa ngejreng. Jadi saya pikir biar ini jadi ciri khas kami,” ungkap Nur Hayati.

Bukan hanya membuat batik tradisional, ia juga mengeksplorasi batik ecoprint yang tak kalah membutuhkan ketelatenan. Yang paling menarik, ecoprint lebih banyak memanfaatkan bahan ramah lingkungan untuk pewarnaan. Misalnya, daun jati dan daun jarak yang kerap dipakai untuk menciptakan warna-warna yang unik.

Tidak hanya fokus pada produksi, Nur Hayati juga berperan aktif dalam melestarikan tradisi batik. Biasanya, ia mengajar ekstrakurikuler di SDN Mandaranrejo. Setiap tahun, ia juga mendampingi siswa-siswa magang di SMK Az Zahra di Desa Bajangan, Kecamatan Gondangwetan, Kabupaten Pasuruan.

Sesekali, ia berkolaborasi dengan pelaku UMKM lain mengadakan workshop. Mereka tergabung di Bakoel Kreatif, sebuah wadah bagi pelaku ekonomi kreatif.

”Sasarannya anak-anak muda, karena kalau bicara batik memang harus ada penerusnya,” katanya.

Apalagi, batik sekarang ini sudah semakin diminati kalangan milenial. Anggapan bahwa yang mengenakan batik terkesan kuno, perlahan-lahan pudar. Terlebih dengan sentuhan-sentuhan kreatif.

”Sekarang batik nggak monoton. Bisa dikreasikan dan dikombinasikan lagi. Jadi, batik masa kini cenderung batik lukis,” ungkap Nur Hayati.

Karena itu, ia yakin industri batik ke depan tidak akan pernah mati. ”Makanya, saya senang ngajari anak-anak karena suatu saat salah satu dari mereka pasti ada yang jadi penerus,” katanya mantap. (hn)

Editor : Jawanto Arifin
#batik kota pasuruan #pemkot pasuruan