Saat zaman serba digital dan belanja online dan e-book marak, toko buku fisik menghadapi tantangan besar untuk mempertahankan eksistensinya. Di Kota Probolinggo, ada segelintir toko buku yang masih bertahan hingga kini. Toko buku ini bak oase bagi para pecinta buku fisik.
INNEKE AGUSTIN, Mayangan, Radar Bromo.
SAAT Jawa Pos Radar Bromo melangkahkan kaki ke dalam toko, seolah-olah masuk ke dalam waktu yang berbeda. Bau kertas dari buku-buku yang berjajar di rak-rak memiliki ciri khas. Menawarkan pengalaman berbelanja yang berbeda dari sekadar mengklik tombol “beli” di layar sentuh.
Ini terasa saat Jawa Pos Radar Bromo mengunjungi salah satu toko buku Madrika. Toko buku yang sudah ada sejak tahun 1970.
Nama Madrika dipilih karena sesuai dengan nama pendirinya yaitu Madrika yang artinya Merdeka. Sayangnya Agustus 2023, Madrika meninggal dunia. Sehingga toko bukunya kini dijaga oleh keponakannya yang bernama Sugihartono, 40.
Sugihartono bercerita bahwa Madrika pada awalnya terletak di Plaza Probolinggo di Jalan Panglima Sudirman. Kemudian pernah pindah ke Pasar Mangunharjo. Lalu kembali ke selatan ke Jalan Pahlawan di sebelah selatan jalan.
“Sekarang menetap di Jalan Pahlawan sebelah utara jalan. Walaupun yang bagian selatan itu juga milik Bapak Madrika,” kata lelaki yang merupakan warga Kelurahan Mangunharjo ini.
Tampak buku-buku ditata rapi di rak. Beberapa buku merupakan buku pelajaran dari sekolah dasar hingga menengah atas. Ada kitab suci Alquran hingga Juz Amma, maupun buku agama. Bahkan buku sejarah Nahdlatul Ulama (NU). Sisanya merupakan buku-buku yang biasa dipakai mahasiswa untuk jurusan hukum dan ekonomi. Harganya beragam.
Selama lebih dari separo abad berdiri, memang banyak perubahan dari konsumen. Sugihartono mengatakan bahwa minat baca anak-anak zaman sekarang sangat menurun tajam. Apalagi untuk membaca buku, mereka lebih suka membaca dari gadget seperti smartphone.
“Sejak handphone banyak digunakan, toko buku jadi sepi peminat. Apalagi ketika pandemi korona. Kami juga terdampak. Penjualan makin sepi,” kata Sugihartono.
Selain Madrika, ada toko buku yang tak kalah legendaris di Kota Probolinggo. Toko buku satu ini terletak di Jalan Dr. Soetomo, tepat di depan eks Bioskop Regina. Toko buku tersebut bernama Toko Buku Hanafi. Sama seperti Madrika, nama Hanafi diambil dari pendirinya.
Toko buku tersebut kini lebih sering dijaga oleh anak dari Hanafi, namanya Hana Mariyanti, 37. Tiap hari ia tampak sibuk melayani pelanggan. Ia mengatakan bahwa toko buku tersebut dirintis oleh ayahnya sejak 45 tahun yang lalu.
“Awalnya dulu di Plaza juga. Bersama-sama dengan toko buku Madrika. Lalu sempat pindah ke bioskop Garuda. Baru sekitar tahun 2004 pindah di sini,” kata perempuan yang akrab disapa Yanti ini.
Yanti tak menampik bahwa makin tahun, dirinya harus putar otak untuk tetap eksis. Pada 2010, toko buku Hanafi mulai mencoba peluang baru yaitu dengan membuka jual beli buku bekas. “Dulu tidak, hanya murni buku baru semua. Baru sekitar tahun 2010 kami jual beli buku bekas. Alhamdulillah dari sana ada peluang baru. Sebab ternyata buku bekas juga banyak diminati pelanggan,” kata Yanti.
Yanti mengatakan bahwa faktor meningkatnya minat konsumen pada buku bekas dipengaruhi oleh harganya. “Harganya 50 persen lebih murah daripada jika beli baru. Makanya orang banyak yang tertarik. Tapi karena buku tersebut kami dapat dari orang yang mau jual ke kami. Jadi, stoknya terbatas. Bila ada orang yang menjual, baru ada. Kalau tidak ada yang menjual, ya tidak tersedia,” katanya.
Menurut Yanti, jual beli buku bekas sama-sama memberikan keuntungan bagi kedua belah pihak. Bagi tokonya maupun bagi konsumen. “Banyak yang bisa diuntungkan di sini selain kami. Konsumen mungkin merasa, daripada buku tersebut menumpuk di rumah dan tidak terpakai, maka mereka jual kembali ke sini untuk memberi buku baru yang sebelumnya belum pernah dibaca atau dimiliki,” katanya.
Buku bekas di toko buku Hanafi ada berbagai macam. Mulai dari buku pelajaran, majalah, hingga buku perkuliahan. Dalam memilih buku bekas, Yanti menerapkan standarnya sendiri. Standar tersebut dilihat dari kurikulum buku tersebut.
“Khusus buku paket biasanya kalau kurikulumnya masih relevan dengan kurikulum saat ini, harganya masih cenderung tinggi. Tapi kalau kurikulumnya sudah kadaluarsa, biasanya kami beli dari harga timbangan. Ini karena buku tersebut biasanya sudah jarang peminat,” jelas Yanti.
Di dua toko ini, beberapa buku tampak ada di rak. Beberapa lainnya ada yang ditumpuk di lantai. Demi menjaga kualitas bukunya, Yanti rajin membersihkan tumpukan buku yang ada di tokonya itu. Ia membersihkan debu-debu di buku tersebut dengan memakai kemoceng.
Sementara untuk menjaga loyalitas konsumennya, Yanti memberikan garansi. Bila buku yang dibeli ternyata terdapat cacat pada cetakan penerbit, maka bisa dikembalikan ke tokonya dan akan diretur dengan yang baru.
Selain itu, Yanti juga membuka pelayanan pemesanan buku-buku tertentu. “Bisa pesan. Kami usahakan untuk carikan. Sebab terkadang ada murid-murid sekolah yang kebetulan menghilangkan buku sekolah. Kemudian diminta ganti dari pihak sekolah. Mintanya harus buku yang sama persis. Mulai dari judul hingga kurikulumnya. Kalau kurikulumnya masih kurikulum yang sekarang, mungkin masih mudah carinya. Tapi kalau kurikulumnya sudah lama, itu yang agak sulit. Tapi kami tetap akan bantu carikan,” jelasnya.
Saat ditemui, Yanti juga bercerita tentang sebuah dinamikanya dalam berjualan buku. Ia pernah menderita kerugian yang cukup besar saat terjadi pembatalan program Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI). “Kami kira saat itu program tersebut akan berlanjut. RSBI itu kan kebanyakan bukunya menggunakan yang bilingual. Kami sudah stok saat itu. Ternyata dibatalkan. Akhirnya bukunya terbengkalai hingga sekarang. Ya mau tidak mau kami jual dengan harga miring,” katanya.
Berkaca dari pengalaman tersebut, kini Yanti memilih menunggu adanya edaran dari tiap sekolah. “Biasa dari sekolah diinformasikan. Tahun ini menggunakan buku apa. Baru kami stok. Sebab kalau semua kami stok, khawatir tidak terpakai. Sebab kalau sudah dipesan, tidak bisa diretur. Sehingga akan menjadi sepenuhnya tanggungjawab kami,” jelas Yanti.
Walaupun digempur dunia digital, toko buku Hanafi memilih bertahan. “Sesuai pesan Bapak untuk terus buka toko ini. Sebab sudah banyak pelanggan kami yang bahkan tidak mau bila diminta untuk beli di toko lain. Mungkin saking cinta dan kepercayaan mereka pada toko kami sudah terlampau besar. Kasihan mereka kalau toko ini tutup,” katanya. (fun)
Editor : Ronald Fernando