Diinspirasi oleh skripsinya, Salma Dewi, 22, mantap menekuni kerajinan tas wanita. Bahkan, kini tas karyanya mampu merambah pasar Asia Tenggara. Seperti Malaysia dan Singapura. Pundi-pundi cuan pun mengalir deras ke kantongnya.
IWAN ANDRIK, Pasuruan, Radar Bromo
Tumpukan kain kanvas menghiasi etalase berwarna putih. Etalase dengan panjang sekitar tiga meter itu, juga diwarnai dengan kain kulit imitasi. Beberapa kardus juga terpampang di etalase yang sama.
Pemandangan tersebut tersaji di gudang produksi tas milik Salma Dewi. Gudang produksi itu berada di lantai dua rumahnya di Kejapanan, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan.
“Di sini sebagian produk kami tempatkan. Di sini juga kami melakukan sebagian kegiatan produksi pembuatan tas wanita. Shalya Label, brand produk kami,” kata Salma saat ditemui di tempat usaha yang juga menjadi tempat tinggalnya.
Salma memang merupakan seorang perajin tas wanita. Sudah dua tahun terakhir, ia menjalani bisnis tas wanita bermerek, Shalya Label. Siapa yang menyangka, kalau ide bisnis pembuatan tas itu muncul dari tugas skripsinya.
Perempuan kelahiran 8 September 2000 ini mengisahkan, perjalanannya berbisnis tas dimulai ketika ada tugas kampus pada tahun 2021. Sarjana Bisnis dari Universitas Bina Nusantara Malang, Fakultas Ilmu Kewirausahaan, tersebut harus membuat sebuah produk sebagai tugas akhir.
Tak sekadar membuat produk. Karena harus disertai pula dengan penelitian tentang produk yang akan dibuat.
“Awalnya sempat bingung mau membuat produk apa. Sampai akhirnya, ada ide membuat tas,” ungkap anak pertama dari tiga bersaudara pasangan AKP Agus Purnomo, kasatresnarkoba Polres Pasuruan dengan Yunita Ayomi tersebut.
Ide pembuatan tas untuk tugas akhir itu, sebenarnya sudah terbersit lama. Alasannya, peluang industri tas wanita sangat besar.
Sebab, keberadaan tas bagi wanita bukan sekadar kebutuhan. Tapi, juga keinginan. Ingin memiliki.
“Itulah yang membuat saya mantap untuk membuat tas wanita sebagai bahan penelitian dan tugas skripsi saya,” kisahnya.
Salma lantas mulai membuat tas wanita. Semula, memang hanya untuk tugas skripsi. Namun, akhirnya keterusan hingga berkembang seperti saat ini.
Untuk membuat tas wanita, Salma tak bekerja sendiri. Ada mitra yang membantunya. Ia sendiri yang mendesain tas tersebut. Bentuk dan modelnya disesuaikan dengan permintaan pasar.
Selanjutnya, mitra kerjanya yang memproduksi. Mulai memotong bahan dan menjahit.
“Semula, memang sekadar untuk menyelesaikan skripsi. Tapi, saya melihat, permintaan tas tidak ada matinya. Akhirnya saya menjadikan bahan skripsi itu sebagai bisnis hingga sekarang,” timpal pebisnis yang memiliki konsep Amati, Tiru, dan Modifikasi (ATM) ini.
Awal memulai bisnis, tentu tak mudah baginya. Terutama untuk mencari mitra penjahit yang benar-benar kompeten, sesuai dengan keinginan dan kebutuhan pasar. Ia bahkan memiliki pengalaman tak mengenakkan awal mula merintis bisnis.
Saat itu, Salma menunjukkan contoh tas kepada penjahit calon mitranya. Hasilnya memang bagus. Karena itu, ia pun berani untuk berinvestasi. Ia lantas meminta mitranya untuk menyelesaikan 300 tas sekaligus.
Dana jutaan rupiah untuk produksi digelontorkannya. Hingga semuanya selesai. Namun, bukannya senang, ia dibuat kecewa. Ternyata, tas yang sudah jadi tak sesuai ekspektasi.
“Banyak hasil produk yang cacat. Akhirnya, tas tersebut menjadi dead stock atau stok mati. Saya sudah merugi di saat awal-awal merintis bisnis,” kenang Salma.
Namun, kerugian itu tak serta merta memupus semangatnya. Produk tas yang tak layak jual itu dibongkar semua. Tidak sekadar diperbaiki. Tapi, diubah menjadi produk lain. Yakni, dompet kecil.
Dari situlah, kerugian yang dialami bisa diminimalisasi. Uang modal yang dipakainya bisa kembali diputar.
Ia pun kembali mencari mitra. Sampai akhirnya, menemukan yang benar-benar sreg dengan kemauannya. Sejak itulah, bisnis pembuatan tas wanita itu berjalan hingga sekarang.
Saat ini, dia bisa memproduksi 300 pieces tas wanita dalam sebulan. Untuk memproduksinya, ia memberdayakan dua penjahit, dua tukang potong bahan, serta administrasi dan packing sebagai mitranya.
Tas-tas itu dijual harga relatif terjangkau. Antara Rp 100 hingga Rp 150 ribu per pieces. Dari sini, omzet puluhan juta mampu dikantonginya.
Menurut Salma, produk tas kreasinya tidak hanya merambah pasar lokal di Indonesia. Tetapi, juga menembus pasar Asia Tenggara. Mulai dari Malaysia, Singapura, Thailand, hingga Vietnam.
“Saya memasarkan produk rata-rata dengan sistem online. Kalau dalam negeri, banyak permintaan dari Kalimantan dan Sulawesi. Sementara untuk luar negeri, bisa merambah Asia Tenggara. Paling banyak, rata-rata memang Malaysia,” tandasnya. (hn)
Editor : Jawanto Arifin