Kota Pasuruan banyak melahirkan talenta hebat di lapangan hijau. Salah satunya, Abdul Khayyi. Di masanya aktif bermain, ia pernah memperkuat sejumlah tim kondang tanah air. Termasuk tim yang terkenal dengan rivalitasnya; Arema dan Persebaya.
PERJALANAN karir sepak bola Abd Khayyi dimulai sejak tahun 1976. Usianya baru menginjak 12 tahun. Ia kala itu bermain untuk klub lokal Asyabab Bangil, bersama dengan Anam, Nizar, dan Hasan Arobi.
Namanya mulai menonjol saat mulai intensif mengikuti latihan Asyabab Surabaya. Cerita menarik masa-masa awalnya mengantar Khayyi mengikuti Piala Sidikap pada tahun 1987.
Performanya yang gemilang menarik perhatian. Sehingga ia kemudian direkrut oleh klub besar, Persebaya Surabaya. Disana, Khayyi bertemu dengan sejumlah pemain berbakat. Seperti Budi Johanes, Yongki Kastanya, Harmadi, Diana, Suripto, dan Matayib.
Sedangkan tiga pemain dari Asyabab Bangil, termasuk Khayyi, turut membela Persebaya. Menjadi pemain belakang yang tangguh, Khayyi telah mencatatkan sejumlah prestasi gemilang.
Karier Khayyi di dunia sepak bola semakin menanjak ketika ia juga membela Persiku Kudus selama setahun. Ia juga tercatat pernah merumput di Perserikatan maupun Galatama.
Salah satu momen tak terlupakan adalah ketika ia bermain untuk Persebaya. Menghadapi pertandingan sengit melawan tim Persipura.
Dalam pertandingan yang berlangsung di Manokwari itu, suporter tim tuan rumah menunjukkan perilaku yang cukup meresahkan. Mereka melakukan berbagai cara untuk menjatuhkan mental para pemain Persebaya. “Mulai dari jatah makanan yang disabotase tidak dikirim, hingga para pemain cuma makan roti,” katanya.
Saat menjajal lapangan, juga demikian. Setibanya di stadion, kondisi lapangan dipenuhi bangkai ayam. Yang lebih parah ketika pertandingan digelar. Para pemain Persebaya diejek, dimaki bahkan diludahi ketika memasuki lapangan. ”Pengamanannya waktu itu nggak seketat sekarang,” katanya.
Meskipun mengalami tekanan dan intimidasi, Khayyi dan pemain lain tetap memberikan kemampuan terbaik untuk timnya. Sayangnya, atmosfer pertandingan yang begitu panas akhirnya membuat para pemain Persebaya jatuh juga. Mereka harus menerima kekalahan 2-0.
”Karena memang terornya sangat tinggi. Saya yakin kalau nggak terjadi tekanan kami yang menang,” katanya mengingat momentum puluhan tahun silam.
Pria kelahiran Bangil itu merasakan perbedaan yang signifikan kehidupan pemain sepak bola di masanya dan sekarang. Saat ini, ada sistem kontrak yang memberikan kesejahteraan bagi pemain.
Termasuk dalam hal pembayaran gaji yang rutin dan bonus atas prestasi. Hal ini sangat berbeda dengan masa lalunya. Honor pemain diberikan setiap kali berlaga. Itu pun nilainya Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu. “Saat dilatih Rusdi Bahalwan lumayan juga honor saya karena selalu masuk pemain inti,” kenangnya.
Semakin sering berlaga, honornya semakin banyak. Pun sebaliknya pemain yang jarang-jarang diturunkan juga honornya tak seberapa. Karena mereka yang hanya mengisi bangku cadangan dihonor Rp 20 ribu.
”Setelah era Rusdi Bahalwan selesai, ganti pelatih, disitu saya mulai tak nyaman karena sudah nggak fair,” katanya.
Sebab, mereka yang dipilih masuk dalam formasi inti mulai diperebutkan. Kadangkala ada intervensi diluar jajaran manajemen. Misalnya menitipkan pemain agar diturunkan dalam laga.
”Karena mereka tidak hanya mengejar honor saja mungkin lebih ke prestis ya kalau bisa tampil,” katanya.
Kondisi itu pula yang melatarbelakangi Khayyi untuk tidak memperpanjang karirnya di dunia sepak bola. Ia memilih pensiun sejak 1994. Ketika masih 30 tahun, usia yang sebenarnya juga masih produktif bagi pemain sepak bola. (tom/mie)
Pengalaman Klub
Asyabab Bangil 1975-1985
Aysabab Surabaya 1985-1987
Persebaya Junior 1987
Persebaya 1988
Persiku Kudus 1 tahun
Arema 1 tahun
SEJAK memutuskan pensiun, Khayyi enggan berkecimpung lagi di lapangan. Sepak bola baginya sudah menjadi catatan masa lalu. Bahkan, ia juga tak begitu tertarik mengikuti jejak teman-temannya; terjun di dunia kepelatihan.
”Mungkin karena sudah asyik berdagang, jadi saya sendiri sudah malas mau balik lagi (ke lapangan hijau). Apalagi untuk menjadi pelatih, harus punya lisensi,” katanya saat ditemui di rumahnya di Kelurahan Kebonagung, Kecamatan Purworejo, Kota Pasuruan.
Setelah empat tahun pensiun dari dunia sepak bola, Khayyi memutuskan untuk memulai perjalanan barunya sebagai pengusaha. Ia memilih jual beli sarang walet karena dianggap menjadi peluang bisnis yang cukup menjanjikan.
”Terutama di kalangan warga Tionghoa, yang menjadikan walet sebagai makanan pokok dan bahkan memiliki nilai jual tinggi,” katanya.
Khayyi bersama beberapa teman merintis kongsi bisnis dengan mengkulakan walet dari berbagai daerah. Bahkan hingga luar pulau. Mereka mengumpulkan stok walet dari Manado, Makassar, dan beberapa daerah lainnya. ”Setiap daerah memiliki jenis walet yang berbeda, jadi harus dipisah untuk menjaga kualitasnya,” papar Khayyi.
Perjalanannya meniti bisnis walet itu juga tidak mudah. Tantangan terbesar yang dihadapi adalah fluktuasi permintaan dan kuantitas walet yang tidak menentu. Namun, dengan keuletan dan ketelitian dalam mengamati pasar, khayyi berhasil menghadapinya.
”Alhamdulillah, selama 25 tahun masih bertahan,” katanya.
Ada satu hal yang menurutnya memiliki kesamaan antara urusan bisnis dengan semasa menjadi pemain sepak bola. Yakni disiplin.
Berbisnis walet juga butuh ketelitian dan kedisiplinan yang tidak kalah dengan dunia sepak bola. ”Kompetisi di pasar cukup ketat, jadi kami selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk pelanggan dan menjaga kualitas produk,” tambah Khayyi.
Kendati sudah fokus pada bisnis walet, Khayyi tetap mengakui bahwa perjalanan sebagai pemain sepak bola telah membekas dalam dirinya. Disiplin, semangat juang, dan kerja keras yang ia pelajari selama berkarier di lapangan hijau, kini menjadi fondasi kuat dalam mengelola bisnisnya.
”Sekarang kan sudah banyak mantan-mantan pemain yang akhirnya berbisnis setelah tidak produktif. Siapapun, saya kira yang ingin memulai bisnis kuncinya harus berani,” tandas pria 59 tahun itu. (tom/mie)
Editor : Ronald Fernando