Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Duka Keluarga Samsul Arifin, Siswa SMKN 2 Kota Probolinggo yang Tewas Dianiaya

Fahrizal Firmani • Rabu, 19 Juli 2023 | 14:45 WIB
DIDATANGI PENTAKZIAH: Suasana rumah duka keluarga Apin di Jalan Wahid Hasyim. Inset, Slamet paman korban menunjukkan Apin semasa hidup. (Foto: Fahrizal Firmani/Jawa Pos Radar Bromo)
DIDATANGI PENTAKZIAH: Suasana rumah duka keluarga Apin di Jalan Wahid Hasyim. Inset, Slamet paman korban menunjukkan Apin semasa hidup. (Foto: Fahrizal Firmani/Jawa Pos Radar Bromo)

 

Samsul Arifin, 17, semestinya mulai mengikuti pelajaran sebagai siswa kelas XI di SMKN 2 Kota Probolinggo pekan ini. Namun takdir berkata lain. Siswa siswa yang tinggal Jalan Cangkring, Kelurahan/Kecamatan Kanigaran ini tewas dianiaya sekolompok orang tidak dikenal pada Sabtu malam lalu (15/7).

 

FAHRIZAL FIRMANI, Kanigaran, Radar Bromo

 

SUASANA rumah di Jalan Wahid Hasyim, Kelurahan/Kecamatan Kanigaran terlihat ramai. Sejumlah wanita duduk di teras depan membungkus kue menggunakan plastik. Terop masih terpasang di halaman rumah.

Begitulah kondisi rumah milik nenek Samsul Arifin. Maklum, pihak keluarga memutuskan membawa jenazah Apin-sapaan Samsul Arifin ke rumah tersebut. Sebab, rumah tersebut adalah rumah induk keluarga. Ukurannya cukup luas.

Saat berkunjung kemarin, suasana duka masih terasa. Keluarga rupanya masih belum percaya, Apin pergi selama-lamanya di usianya yang masih remaja.

Sebelum Apin berpulang, pihak keluarga sempat memiliki firasat yang kurang baik pada Sabtu lalu (15/7). Salah satunya dirasakan Slamet, paman korban. Sebab sepulangnya bekerja sekitar pukul 18.00, Slamet tidak menemukan Apin di kamarnya di rumah Jalan Cangkring.

Slamet sempat curiga karena Apin biasanya langsung pulang ke rumah, usai menjaga gudang bawang semalaman. Dia biasanya sudah tiba dirumah sejak pukul 12.00.

Slamet sempat menanyakan keberadaan keponakannya itu pada teman kerja Apin di Kelurahan Curahgrinting, Kecamatan Kanigaran. Sebab, sejak sebulan terakhir, Apin bekerja menjaga gudang bawang di lokasi tersebut. Ternyata, temannya itu tidak tahu.

Setelah dicek, diketahui jika Apin ini diajak oleh temannya menonton orkes. Informasi itu, kata Slamet, tentu saja membuatnya tidak enak hati. Sebab sebagai pamai, dia sudah berulang kali melarang Apin untuk menonton orkes. Karena orkes selalu berlangsung ricuh. Ia tidak ingin keponakannya itu mengalami hal yang tidak diinginkan.

“Ternyata sekitar pukul 16.00, Apin diajak temannya nonton orkes. Dia tidak izin karena saya tidak pernah membolehkan,” jelasnya.

Hingge menjelang malam, Slamet tak mendapat kabar. Namun Slamet masih yakin, Apin bakal pulang. Karena sampai sekitar pukul 21.00, teman kerja Apin di gudang bawang ini sempat berulangkali berkomunikasi melalui pesan WA. Ia menanyakan keberadaan Apin. Sebab, malamnya, mereka akan kembali menjaga gudang bawang.

“Saat itu, Apin bilang jika masih nonton orkes bersama temannya. Sekitar pukul 22.00, chat teman kerja Apin ini tidak lagi dibalas oleh Apin,” kata Slamet.

Hingga kabar duka itu datang. Sekitar pukul 23.00, Slamet menerima kabar jika Apin dibawa ke IGD RSUD dr Mohammad Saleh Kota Probolinggo. Slamet sempat mengira jika Apin mengalami kecelakaan.  Secepatnya Slamet menuju IGD, bersama Misrah, adiknya yang merupakan bibi Apin. Begitu tiba di RS, Slamet terkejut. Karena ternyata Apin sudah meninggal dunia.

Slamet tidak menyangka Apin tewas karena dianiaya. Padahal Apin tidak pernah memiliki musuh. Apin dan temannya yang dibonceng, tidak mengenal siapa pelakunya. Tapi mereka tega menganiaya Apin hingga tewas.

“Apin sempat masih bernafas saat ditolong oleh temannya beberapa saat kemudian. Meninggalnya saat di ruang IGD,” terang Slamet.

Misrah, Bibi Apin menyebut saat ia melihat jenazah Apin, ia sangat terkejut. Dua tulang rusuk Apin patah dan tulang paha kiri Apin remuk. Ia yakin jika keponakannya tidak bersalah karena ia tidak mencium bau alkohol dari mulutnya.

“Saat saya memegang kakinya itu seperti memegang ranting pohon yang sudah layu. Tulangnya benar benar hancur,” sebut Misrah dengan nada pilu.

Kini kasus yang dialami Apin, masih diselidiki kepolisian. Keluarga berharap, aparat bisa mengungkap kasus ini. Hingga pelakunya bisa mempertanggung jawabkan perbuatannya di mata hukum.

Sebagai paman, Slamet jelas merasa kehilangan. Apalagi bagi Safitri, ibu kandung Apin. Bahkan wanita ini, masih belum bisa diajak mengobrol karena terngiang anak bungsunya itu.

Pihak keluarga mengaku tidak dendam pada pelaku. Namun keluarga ingin pelaku dihukum sesuai aturan berlaku. Jika bertemu pelaku, ia berencana akan menanyakan pada mereka, kenapa mereka memukul Apin.

Pun begitu dengan Slamet. Di matanya Apin sudah seperti anak sendiri. Sejak ditinggal ayahnya, Apin tinggal bersama bertiga dengannya dan Slamet serta Safitri. Apin tidak pernah mau merepotkan orang tuanya.

Semestinya, sejak Senin lalu (17/7), Apin mulai bersekolah lagi. Ia sudah membeli baju dan sepatu baru untuk kebutuhan sekolah. Karena itu, ia tidak bisa menahan sedih saat melihat ada anak sekolah lewat. Ia terkenang sosok Apin.

“Kalau libur, ia memilih bekerja. Mulai dari menjaga gudang bawang, atau diajak temannya memanen sawi. Ia memang pekerja keras,” kata Misrah.

Samsul Arifin tewas usai mengalami penganiayaan di Jalan Wali Kota Gatot, Sabtu (15/7) sekitar pukul 22.00. Korban yang saat itu sedang mengantar kedua temannya pulang, tiba tiba saja dikejar oleh pelaku.

Pelaku mengejar korban mulai dari depan SMAN 2 Probolinggo. Hingga korban terjatuh di Jalan Wali Kota Gatot. Pelaku memukul dan menendang korban bertubi tubi.

(fun)

 

Editor : Ronald Fernando
#Polres Probolinggo Kota #tewas dikeroyok