Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Uminayati, Satu-Satunya Pengawas SD Bergelar Doktor di Kabupaten Probolinggo

Achmad Arianto • Jumat, 7 Juli 2023 | 16:50 WIB

 

HAUS ILMU : Uminayati, 52, memiliki semangat berlajar yang tinggi hingga menuntaskan pendidikan sampai jenjang S-3. (Achmad Arianto/Jawa Pos Radar Bromo)
HAUS ILMU : Uminayati, 52, memiliki semangat berlajar yang tinggi hingga menuntaskan pendidikan sampai jenjang S-3. (Achmad Arianto/Jawa Pos Radar Bromo)

 

Bagi orang yang sudah bekerja, melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi bukan persoalan mudah. Namun, tidak bagi Uminayati, 52. Di sela-sela kesibukannya sebagai pengawas SD di Kabupaten Probolinggo, dia mampu menyelesaikan studinya sampai jenjang S-3. Kini, ia menjadi satu-satunya pengawas SD yang bergelar doktor.

 

ACHMAD ARIANTO, Maron, Radar Bromo

 

MEMILIKI keinginan belajar yang tinggi membuat Uminayati tidak bosan mencari ilmu. Profesinya sebagai guru, membuatnya termotivasi untuk terus meningkatkan kemampuan dan khazanah keilmuannya. Usia yang tidak muda lagi, tidak membuat semangatnya bersekolah kendur. Justru dengan bertambahnya usia dan pengalaman yang dimiliki, keinginannya melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi semakin menggebu.

Uminayati sendiri memulai karir sebagai guru. Perempuan asli Dusun Krajan, Desa Brabe, Kecamatan Maron, ini mulai menjadi guru sejak tahun 1993. Profesi ini dilakoninya setelah lulus dari Sekolah Pendidikan Guru (SPG). Dia lantas melanjutkan D-2 Jurusan PGSD di Universitas Negeri Malang (UM) tahun 1992.

Begitu lulus dari SPG, dia ditempatkan di SDN Ranuagung 3, Kecamatan Tiris. Penempatan awal tersebut membuatnya harus cepat beradaptasi. Sebab, lokasi sekolah berada di dataran tinggi dengan medan yang cukup menantang.

“Pertama kali menjadi guru langsung ditempatkan di dataran tinggi. Kondisi jalan menuju sekolah dulu tidak senyaman sekarang,” katanya saat ditemui.

Namun, dengan penuh kesungguhan, tugas itu dijalaninya. Setiap hari melewati jalan makadam dan beberapa ruas jalan bermedan tanah. Tidak mengenal panas maupun hujan, mengajar anak didik yang lokasinya masih tergolong daerah pelosok tersebut dilakukan dengan ikhlas.

Hingga pada tahun 1997, dia ditugaskan mengajar di SDN Pedagangan 1, Kecamatan Tiris. Di sekolah yang kedua ini, Uminayati menjadi guru cukup lama. Sebab, saat itu keberadaannya dibutuhkan. Sehingga, tidak segera mutasi ke sekolah lain.

“Kalau di SDN Ranuagung 3 saya mengajar selama 4 tahun. Sementara di SDN Pedagangan 1 selama 16 tahun . Selama belasan tahun itu selalu menjadi guru kelas VI,” katanya tersenyum.

Selama mengajar di SDN Pedagangan 1, semangat belajar yang sebelumnya menurun kembali muncul. Pada tahun 2004, dia melanjutkan sekolah Program Sarjana di Universitas Panca Marga (UPM) Probolinggo. Jurusan yang diambilnya yaitu Pendidikan Kewarganegaraan.

Selama kuliah itulah, komunikasi dan jaringannya mulai terbangun. Baik dengan para akademisi, juga praktisi. Sehingga, di sela-sela kesibukannya mengajar, ia aktif dalam kegiatan sosial dan pendidikan.

Setelah menuntaskan pendidikan sarjana, karier Uminayati turut terangkat. Pada 2013, ia dimutasi dan menjadi kepala sekolah di SDN Ranugedang 1, Kecamatan Tiris.

Perjalanan menjadi kepala sekolah juga tidak semudah yang dibanyangkan. Ada beberapa program akademik yang harus dilakukan agar sekolah menjadi lebih baik. Tidak hanya itu, ia juga harus mampu membuat guru yang ada di sekolah tersebut kompak dan prestasinya meningkat.

Dengan mempertimbangkan peningkatan SDM tersebut, dia memutuskan untuk melanjutkan ke Pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Di sini dia mengambil Magister Kebijakan dan Pengembangan Pendidikan (MKPP).

Agar tidak mengganggu tugasnya, Uminayati mengambil kuliah pada Sabtu dan Minggu. Oleh karena itu, setiap Jumat sore ia berangkat ke Malang untuk kuliah. Sementara Minggu sore ia pulang untuk bekerja esok harinya. Aktivitas ini dilakukannya selama dua tahun dan lulus pada tahun 2015.

“Melanjutkan ke jenjang S-2 tidak mudah. Ada beberapa syarat yang harus saya penuhi agar bisa berkuliah. Serta, tidak boleh mengesampingkan tanggung jawab sebagai kepala sekolah,” kata perempuan berhijab ini.

Tidak puas hanya lulus pascasarjana, dua tahun setelahnya Uminayati memutuskan untuk melanjutkan studinya ke jenjang doktor di UMM. Kali ini dia mengambil jurusan Sosiologi Pendidikan.

Selama menempuh jenjang inilah, pada tahun 2019 dirinya kembali dimutasi. Pindah menjadi kepala sekolah di SDN Ranugedang II. Masih di Kecamatan Tiris.

Tantangan semakin banyak, ia harus pintar membagi waktu antara menjadi istri, ibu, kepala sekolah, dan mahasiswi. Namun, dirinya mampu membuktikan jika semangat belajarnya tidak memengaruhi tanggung jawabnya.

Ia pun menyelesaikan pendidikan S-3 pada tahun 2021 dan menyandang gelar doktor. Kemudian pada tahun 2022, ia dimutasi menjadi pengawas sekolah jenjang SD. Sekaligus menjadi pengawas SD yang bergelar Doktor.

“Dari semua pendidikan yang saya tempuh, awalnya memang ada yang menganggap tidak penting. Apalagi hanya sebagai guru SD. Namun, selalu saya memberikan penjelasan, sebagai tenaga pendidik kemampuan dan keterampilan harus terus ditingkatkan. Baik melalui lembaga pendidikan maupun mandiri. Karena belajar adalah sebuah ibadah,” pungkasnya. (hn)

Editor : Ronald Fernando
#sekolah probolinggo #pengawas SD